Perjuangan Perempuan Jaga Alam Padarincang Bagian III

Padarincang—Sementara itu, Umi Eha juga menekankan, peran perempuan dalam perjuangan ini sangat penting. Sebab, dengan keseharian aktivitas perempuan Padarincang sebagai ibu rumah tangga membuat mereka paling merasakan dampak buruk akibat proyek tersebut.

“Justru karena perempuan yang paling banyak membutuhkan air dan memakai air itu perempuan. Karena perempuan kan di dapur itu butuh buat masak lah, nyuci. Jadi dari situ lah kita juga pengin sama-sama menjaga alam lingkungan kita di sini,” ujarnya.

Tutur kisah perjuangan umi tersebut menyerap segala keramaian ruangan dalam sekejap. Suasana ruangan lantas menjadi hening sepanjang umi bercerita. Para peserta yang memperhatikan pun tampak takjub dan terinspirasi akan keberanian pejuang perempuan Padarincang.

“Melihat perjuangan mereka membuat aku takjub, karena buat aku yang setiap hari pakai sosial media jarang melihat gerakan perempuan seberani ini. Dan ini aku melihat secara langsung keberanian mereka. Hal ini juga memotivasi aku sebagai anak muda untuk ikut bergerak menjaga alam kita, supaya kita tetap bisa menikmati ke depannya,” ujar Amah Laviona, peserta Belajar Lapang Keadilan Iklim asal Parung, Bogor.

Kemudian, Umi Eha pun mengajak para anak muda yang turut serta dalam belajar lapang tersebut untuk sama-sama tak gentar dan berani untuk ikut berjuang menjaga alam dan merawatnya.

“Anak muda enggak usah takut, selagi kita benar, insya Allah, Allah akan melindungi kita. Perjuangan itu menuntut keberanian dan keikhlasan, jadi kita pun harus Ikhlas dalam berjuang. Dan umi ucapkan terima kasih banyak kepada anak-anak muda yang mau belajar di sini, mudah-mudahan kalian akan ikut meneruskan perjuangan kami semua di hari besok,” pungkasnya. (Shinta FN/ ID Humanity Dompet Dhuafa)

Sebelumnya Awal