Bagaimana Berbuat Baik Mampu Meningkatkan Kesejahteraan

Setiap manusia terlahir adi luhur nan baik. Sejatinya mereka, kebaikan sudah menjadi anasir yang melekat dalam diri seluruh manusia. Banyak yang menyepelekan manfaat dari berperilaku baik, sehingga di waktu ini banyak yang tidak malu ketika melakukan suatu tindakan tercela. Beberapa bahkan mempertontonkan tindakannya di hadapan publik.

Kita mungkin mengira bahwa kebaikan adalah sesuatu yang jarang terjadi, seolah menjadi momen istimewa yang muncul sesekali dalam hidup. Namun penelitian psikologi modern justru menunjukkan gambaran yang sangat berbeda: kebaikan ternyata hadir dalam kehidupan manusia hampir tanpa henti, mengalir dalam interaksi yang tampak sederhana hingga yang lebih kompleks.

Penelitian lintas budaya oleh Rossi dan koleganya yang berjudul “Shared cross-cultural principles underlie human prosocial behavior at the smallest scale” (2023) memperlihatkan bahwa manusia berbuat baik jauh lebih sering daripada yang kita bayangkan dan bahwa pola tersebut muncul konsisten di berbagai budaya.

Salah satu temuan paling mencolok dalam penelitian tersebut adalah setiap permintaan bantuan kecil—seperti meminta tolong mengambil benda atau memindahkan sesuatu—muncul setiap beberapa menit dalam kehidupan sehari-hari, bukan hitungan jam.

Lebih dari 79 persen permintaan bantuan tersebut dipenuhi oleh orang lain, sementara penolakan hanya sekitar 10 persen dan sisanya diabaikan atau disertai alasan yang sopan. Data empiris ini memperlihatkan bahwa everyday kindness sebenarnya merupakan pola perilaku dasar manusia.

Penelitian lain yang berjudul “Everyday acts of kindness predict greater well-being during the transition to university” (2024) yang ditulis oleh Cash dan rekan-rekannya menggunakan metode catatan harian menunjukkan hasil yang serupa.

Dalam studi enam minggu menemukan bahwa peserta ternyata melakukan banyak tindakan kebaikan kecil setiap hari, bahkan ketika mereka sendiri merasa tidak melakukan sesuatu yang istimewa. Ketika mereka mencatat tindakan kebaikan tersebut, kesejahteraan psikologis meningkat: mereka merasa lebih percaya diri, lebih dilihat oleh orang lain, dan merasakan makna dalam hidupnya.

Eksperimen psikologis juga menunjukkan bahwa kebaikan tidak hanya menguntungkan penerimanya tetapi juga pelakunya. Dalam eksperimen yang dilakukan oleh Cregg dan kolega yang berjudul “Healing through helping: an experimental investigation of kindness, social activities, and reappraisal as well-being interventions” (2023) orang yang diminta secara sengaja melakukan tindakan kebaikan selama beberapa hari merasakan peningkatan emosi positif, rasa keterhubungan, dan kepuasan hidup. Mereka juga merasa lebih dekat dengan lingkungan sosialnya, sebuah efek yang sangat penting pada era modern yang ditandai meningkatnya rasa kesepian sosial.

Dampak kebaikan bahkan terlihat dalam perubahan fisiologis tubuh. Beberapa penelitian dalam psikologi kesehatan menunjukkan bahwa tindakan prososial  (berbuat baik) dapat menurunkan tingkat hormon stres, seperti kortisol, dan menurunkan tekanan darah.

Dalam jurnal yang dipublikasikan oleh Hui dan koleganya yang berjudul “Rewards of Kindness? A Meta-Analysis of the Link Between Prosociality and Well-Being” (2020) menegaskan bahwa perilaku prososial berhubungan dengan peningkatan kesejahteraan emosional sekaligus regulasi stres yang lebih baik. Dengan kata lain, tubuh manusia tampaknya memiliki respons biologis positif terhadap tindakan membantu orang lain.

Ketika semua penelitian tersebut disatukan, muncul gambaran besar bahwa kebaikan bukanlah perilaku langka atau eksklusif yang hanya dimiliki oleh orang tertentu. Sebaliknya, kebaikan adalah bagian mendasar dari struktur kehidupan manusia yang muncul secara natural, spontan, dan berulang. Kita hidup dalam jaringan kebaikan kecil yang terus berlangsung, dan ketika kita mengambil bagian di dalamnya, kita memperkuat struktur sosial sekaligus memperbaiki kondisi batin kita sendiri.

Penelitian-penelitian ini mengarahkan kita pada kesimpulan bahwa kebaikan bukan hanya tindakan moral, tetapi juga kebutuhan psikologis yang menopang kesehatan emosional manusia. Untuk berkembang, manusia membutuhkan rasa keterhubungan dan kontribusi, dan tindakan kebaikan menjadi salah satu cara paling sederhana untuk mencapainya.

Dalam dunia yang penuh tekanan dan isolasi sosial, kebaikan bukan hanya pengingat bahwa kita saling membutuhkan, tetapi juga mekanisme alami manusia untuk pulih, menenangkan diri, dan membangun makna hidup. Dengan memahami bahwa kebaikan sebenarnya terjadi lebih sering daripada yang kita sadari. Kita bisa melihat kembali sifat manusia bukan sebagai makhluk egois, tetapi sebagai makhluk sosial yang tumbuh melalui hubungan, kebaikan, dan saling memberi.