Kasuistik Cordofa: Ajak Masyarakat Pahami Dampak dari Konflik Iran dengan AS-Israel

Tangerang Selatan—Perang Iran dengan Amerika Serikat-Israel telah menimbulkan berbagai dampak yang dirasakan secara global. Dampak tersebut bahkan dapat dirasakan dalam kehidupan sehari-hari seperti naiknya harga minyak dunia yang kemudian berujung pada kenaikan harga kebutuhan sehari-hari.

Hal ini pun banyak menjadi perbincangan masyarakat baik secara daring di media sosial maupun secara luring dalam berbagai forum. Namun, dalam perbincangan isu tersebut juga menimbulkan banyak perdebatan satu sama lain.

Merespon hal itu, ID Humanity melalui Corps Dai Dompet Dhuafa (Cordofa) menggelar Kajian Khusus Islam Tematik (Kasuistik) di Masjid Jami Bintaro Jaya, pada Selasa (28/04). Bertajuk “Konflik Iran dengan USA-Israel: Mendukung Salah Satu Pihak atau Abstain”, kajian tersebut diikuti sebanyak 50 peserta.

Dalam pelaksanaannya, kajian ini dipaparkan oleh dua pemateri yakni Dr. Hendri Shalahuddin, M.I.R.K.H-Direktur Eksekutif Insists dan Agung Nurwijoyo, S.Sos., M.SC-Dosen Hubungan Internasional Universitas Indonesia.

Masing-masing pemateri menjelaskan bagaimana konflik tersebut bermula hingga perkembangannya sampai saat ini.

Menurut Agung Nurwijoyo, konflik tersebut penting untuk dipahami setiap orang karena dampaknya yang tidak hanya dirasakan kedua pihak yang berkonflik, melainkan juga begitu nyata dan masif dirasakan secara global.

“Jadi yang terlihat dalam perkembangan konflik tersebut dalam beberapa hari ini tentu ini juga berbicara dalam aspek siapa yang didzolimi dan yang mendzolimi. Namun yang jadi poin penting sebenarnya ini adalah perang yang begitu nyata dan masif. Sehingga hari ini pun kita tidak bisa sekedar diam tetapi harus bisa melek secara geopolitik yang terjadi,” ujarnya.

Agung juga menyebut pentingnya keterlibatan masyarakat Indonesia yang merupakan negara dengan mayoritas muslim untuk mendorong upaya diplomasi pemerintah Indonesia dalam mencapai keadilan dan perdamaian atas konflik tersebut.

“Dalam konteks perang di Iran, ketidakmauan Iran untuk duduk sama AS itu karena Iran merasa tidak adil. Iran ingin duduk bareng bicara tentang perdamaian, tapi kalau posisinya tidak adil itu sulit juga. Maka dalam konteks diplomasi Indonesia juga harus mendorong keadilan untuk perdamaian. Itu menjadi sesuatu hal yang utama saat ini,” imbuhnya.

Sementara itu, salah satu peserta kajian, Dina Nafa Dilla Rachmatsyah (21) menyatakan, kajian ini membuatnya lebih menyadari pentingnya memahami konflik global yang sedang terjadi.
“Setelah pemaparan kedua pemateri ini, semakin menyadarkan saya kalau penting sekali memahami konflik yang sedang terjadi karena memang ternyata sangat berpengaruh untuk dunia. Apalagi ini juga berdampak pada ekonomi seperti misalnya adanya kenaikan harga BBM,” ujarnya.

Kajian ini pun menjadi kajian perdana program Kasuistik Cordofa. Ke depannya program Kasuistik akan terus hadir untuk membuka wawasan kaum muslimin terkait topik-topik yang sedang menjadi perbincangan hangat di masyarakat. (ID Humanity/Shinta FN)