
Flores, NTT—Gempa bumi yang mengguncang wilayah Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), tidak hanya menyisakan kepanikan dan kerusakan. Bagi sejumlah warga, bencana itu juga membawa kehilangan yang tidak mudah dipulihkan.
Akibat gempa dengan kekuatan 7,7 magnitudo, ribuan warga kehilangan rumahnya dan terpaksa mengungsi di pos-pos pengungsian.
Di pengungsian, warga harus bertahan dengan segala keterbatasan. Ada yang kehilangan tempat tinggal, ada yang kehilangan harta benda, dan ada pula yang harus kehilangan orang yang paling dicintai.

Salah satunya adalah Sudirman, warga Desa Salama, Kecamatan Reo, Kabupaten Manggarai, NTT. Di tengah kondisi yang masih darurat pascagempa, Sudirman harus menghadapi duka setelah istrinya meninggal dunia pada Minggu, 23 Agustus 2026 sekitar pukul 12.00 WITA.
Selama hidupnya, sang istri tidak hanya mengurus keluarga kecilnya bersama Sudirman. Ia juga harus merawat kedua orang tuanya yang telah lanjut usia. Ibunya bahkan disebut sudah mengalami kesulitan untuk berjalan dan membutuhkan bantuan dalam aktivitas sehari-hari.
Situasi itu membuat sang istri harus membagi tenaga untuk mengurus dua keluarga sekaligus. Di satu sisi, ada suami dan tiga anaknya. Di sisi lain, ada kedua orang tuanya yang juga membutuhkan perhatian.
Pada saat itu, ia turun dari posko untuk membeli popok bagi orang tuanya. Namun, setelah menjalani aktivitas dan mengurus kebutuhan keluarga dalam kondisi yang serba terbatas, tubuhnya tidak lagi mampu menahan kelelahan.
Ia kemudian mengalami kolaps dan dibawa kembali ke posko yang berada di bagian atas untuk mendapatkan pertolongan.
Namun, takdir berkata lain.
“Dia langsung pingsan, dan setelah diperiksa ternyata nyawanya sudah tak ada,” kata Sudirman.
Pada Minggu siang, sekitar pukul 12.00 WITA, sang istri mengembuskan napas terakhir. Kepergiannya meninggalkan Sudirman bersama tiga anak yang masih membutuhkan sosok ibu.
“Anak pertama berusia 16 tahun, anak kedua 15 tahun, dan anak ketiga baru berusia 6 tahun,” ucap Sudirman.

Kehilangan tersebut ternyata tidak hanya meninggalkan luka bagi Sudirman. Anak pertamanya mengalami syok setelah mengetahui ibunya meninggal. Kondisi itu kemudian si anak jatuh sakit dan harus mendapatkan perawatan.
Kini, di pengungsian, Sudirman harus menjalani hari-hari tanpa istrinya sekaligus merawat ketiga anaknya seorang diri.
Untuk sementara, Sudirman dan anaknya menumpang di Pos 2 Terminal Gadong, Desa Salama, Kecamatan Reo. Di tempat itu, ia berusaha memastikan anak-anaknya tetap mendapatkan perawatan dan kebutuhan mereka terpenuhi.
Bagi Sudirman, bencana tidak berakhir ketika tanah berhenti berguncang. Setelah gempa berlalu, ia justru harus menghadapi guncangan terbesar dalam hidupnya.
Ia kehilangan istrinya. Tiga anak kehilangan ibunya. Dan di tengah keterbatasan di pengungsian, Sudirman kini harus menjadi tempat bergantung bagi anak-anaknya, sembari berusaha menerima kenyataan bahwa perempuan yang selama ini merawat keluarga mereka telah pergi untuk selama-lamanya. (Hasna Aghnia Mumtazah/DMC Dompet Dhuafa)
