
Nagekeo, NTT—“Kami sehari-hari di sini, lebih banyak dalam situasi waspada siaga begitu. Cuman kadang-kadang kalau gempanya sudah reda, kalau sebagai petani, mereka tetap di sawah, meninjau punya sawah, meninjau punya ternak. Tapi selalu kembali tinggal di sini karena jauh dari pantai,” ujar Suster Burga asal Kampung Adat Tulubadha, Desa Rendhu Tulubadha, Kecamatan Aesesa Selatan, Kabupaten Nagekeo.
Suster Burga kembali ke Kampung Adat Tulubadha setelah hidup 30 tahun lamanya, untuk memakamkan ayahnya yang telah berpulang. Beliau meninggalkan kampung ini dari tahun 1993 dan kembali di tahun 2026 untuk ayahnya dan diguncang gempa bumi.


“Tinggal selama 30 tahun di sini, tetapi setelah saya masuk tarekat suster ini, saya mulai 1993 sampai saat ini hidupnya di Jawa, tugas pelayanan di Jawa,” ungkapnya.
“Ini saya pulang karena orang tua saya meninggal, meninggal 6 Agustus,” lanjutnya.
“Tunggu situasi reda, baru kemudian saya kembali ke Malang (melanjutkan tugas kerohanian)”.


Kampung adat ini yang diilhami oleh warga yang ramah dan hangat lengkap dengan bangunan rumahnya yang tradisional terbuat dari kekayu pohon dan atap jerami atau alang-alang. Beberapa ritual juga masih dilestarikan di sini sebagai wujud identitas dan warisan leluhur nenek moyang.
Dengan posisi yang pelosok, Dompet Dhuafa hadir dengan memberi layanan Psychological First Aid (PFA) berupa permainan lomba, mendongeng, dan edukasi mitigasi bencana dari Disaster Management Center (DMC). Selain itu juga menghadirkan layanan medis dari Layanan Kesehatan Cuma-Cuma (LKC) pada Sabtu (29/08/2026).




“Kesan saya, kurang lebih sudah ada dua minggu di sini, saya merasa luar biasa, tanggap darurat, karena masyarakat di sini masih dibantu,” ungkap Suster Burga.
“Kadang warga menerima bantuan dalam bentuk sembako atau apa saja. Tapi hari ini luar biasa dari bagian medis yang membantu sehingga mereka-mereka ini kan juga termasuk hidup yang agak jauh dari kota atau kecamatan,” sambungnya.
“Jadi dengan pelayanan-pelayanan seperti ini itu merasa tersentuh: bisa merasakan layanan gratis. Ini harus bersyukur luar biasa ini petugas-petugas dari kota yang besar, provinsi datang. Kalau mereka meriksanya ke lab-lab itu (rumah sakit), biayanya mahal. Dalam situasi agak trauma, mereka dikunjungi itu kan memberi mereka kekuatan”.
Gempa mengguncang di NTT yang terjadi pada 15 Agustus 2026 lalu itu berdampak menyeluruh kepada semua: anak-anak, lansia, disabilitas hingga masyarakat adat. Beberapa dampaknya seperti psikis terganggu.
Dompet Dhuafa hadir membersamai masyarakat adat sebagai bentuk komitmen inklusivitas pelayanan kemanusiaan untuk semua.
Hal ini juga sejalan dengan pilar program penanganan gempa yang bernama Sarana untuk Pelayanan Kelompok Rentan (SUPER). Pilar ini menempatkan kelompok rentan sebagai prioritas pelayanan kemanusiaan Dompet Dhuafa.
Hingga kini DMC masih terus membersamai untuk percepatan pemulihan penyintas gempa di NTT.
Semoga masyarakat atau penyintas terdampak gempa bisa segera pulih dan mampu menata kembali masa depannya. (Arifian Fajar Putera/ ID Humanity Dompet Dhuafa)
