Dari Teras Rumah hingga Tenda Pengungsian, Perjuangan Perempuan Penyintas Gempa NTT 

Manggarai, Nusa Tenggara Timur–”Meskipun untungnya lima ribu rupiah, Alhamdulillah. Kalau terus di rumah mau makan apa kita,” ujar Khadijah, warga Desa Reo.

Khadijah masih tidur di teras depan rumahnya. Ia bersama anak, cucu dan menantunya, tidak berani melepas kantuk di dalam kamar saat malam hari. Gempa besar yang terjadi 15 Agustus lalu menimbulkan rasa trauma bagi Khadijah dan keluarga. 

Subuh itu, ketika gempa mengguncang Flores, ia lari terbirit-birit ke luar rumah. Kamarnya ambruk. Nasib baiknya ia selamat. Meskipun Khadijah baru menyadari kuku ibu jari di tangannya menghitam, tanda darah keluar di balik kukunya. Setelah kepanikan mulai menyusut, ia ingat lengannya sempat tertimpa dipan ranjang kayu. 

“Trauma saya. Sudah sesakit itu. Saya tidur di teras. Makan pun di teras. Saya masak di samping rumah. Mandi juga di sumur di luar. Kami tutup pakai terpal dan papan.”

Gempa tidak membuat Khadijah berhenti mencari uang. Ia tetap menjajakan ikan asin di Pasar TPI, Kelurahan Reo, Kecamatan Reok, Manggarai, Nusa Tenggara Timur. 

Khadijah, perempuan 56 tahun itu, bilang kehidupan harus tetap berjalan meski gempa belum juga mereda. Ia mesti mencari uang untuk menyambung hidup keluarganya. 

Pasca-gempa, Khadijah bersyukur masih bisa melanjutkan penghidupannya yang selama ini  jadi tempat ia menggantungkan hidup sejak suaminya meninggal beberapa tahun lalu. 

Lain cerita dengan Zaitun Abidin, 35 tahun. Perempuan dari Kampung Niu, Kelurahan Mata Air, itu tidak lebih baik nasibnya seperti Khadijah setelah gempa meluluhlantakkan bangunan rumahnya. 

Gempa menghancurkan rumahnya. Tidak ada yang tersisa. Zaitun Abidin cuma bisa mengambil pakaian-pakaian yang tertimbun reruntuhan rumahnya. Ia dan keluarga saat ini terpaksa menetap di tenda terpal yang dipinjam dari pemilik ladang bawang merah tempat ia menjadi buruh tani upahan. 

Sudah hampir sebulan ia tak bekerja di ladang. Ajakan kerja mengikat bawang selalu ia terima. Tetapi gempa yang terus terjadi setiap waktu membuatnya terpaksa menolak. 

“Takut ketika saya bekerja ada gempa. Ya, memang kita bekerja di lahan yang terbuka, tapi bagaimana nanti anak-anak saya di tenda. Saya khawatir. Saya enggak bisa meninggalkan jauh anak-anak saya,” kata Zaitun. 

Di pengungsian mandiri di Kampung Niu ada sekitar 40 KK tinggal di tenda-tenda terpal. Perempuan-perempuan di sana dihadapkan keadaan yang sama seperti Zaitun. Tidak bisa bekerja di ladang karena ingin menjaga anak-anaknya. Untuk makan sehari-hari, mereka hanya mengandalkan kerja serabutan dari para suami. Ataupun memasak di dapur bersama dengan logistik bantuan yang mereka terima sesekali. 

“Kadang ada, kadang tidak. Kami makan seadanya aja. Saya kasihan ke anak-anak tidak bisa kasih makan yang teratur. Selama di tenda ini kami makan kalau memang ada yang dimasak saja,” keluh Zaitun. 

Persoalan makan sehari-hari masih jadi beban yang terus membayangi Zaitun dan ibu-ibu di pengungsian. Dapur umum yang biasa mereka andalkan tidak berjalan setiap saat. Dapur mengepul hanya ketika bantuan masuk. Mereka mengeluhkan tidak bisa memberikan makanan yang cukup untuk anak-anak.

Mereka juga memilih bertahan di tenda dan tidak berladang karena terlalu takut gempa terjadi selagi mereka jauh dari anak-anak. 

“Saya takut anak-anak panik dan berlarian ke tempat yang malah tidak aman,” ujar Zaitun.

Sementara penghasilan dari para suami tidak banyak memberikan perubahan. Di masa tanggap darurat ini penghidupan mereka terganggu. Hanya sesekali bekerja ketika ada panggilan kerja mengikat bawang. 

Arsad Muhammad Saleh, suami Zaitun yang bekerja sebagai tukang ojek, mengaku kesulitan mencari penumpang. Bahkan ia pernah berhari-hari hanya melamun di atas motornya menunggu orang-orang memakai jasanya. 

“Sekarang susah cari penumpang. Orang-orang tak banyak kegiatan jadi susah buat ngojek. Saya akhirnya kerja kalau ada aja. Serabutan,” ucap Arsad.

Kamis (10/9/2026) malam, pengungsian Kampung Mata Air mendadak ramai. Disaster Management Center (DMC) Dompet Dhuafa membuka layanan Pos Hangat di tengah-tengah tenda terpal penyintas. Ada minuman dan makanan ringan yang bisa dinikmati para penyintas di sana. 

Momentum itu dimanfaatkan para penyintas untuk mengisi malam dengan berbincang-bincang sembari menyantap hidangan yang ada. Zaitun Abidin berdiri di depan tendanya. Terbersit senyum kecil di wajahnya melihat anak-anak bermain di bawah lampu mobil taktis DMC Dompet Dhuafa. 

Malam itu juga, DMC Dompet Dhuafa menyalurkan paket makanan rendang siap saji untuk para penyintas. Makanan dikhususkan untuk anak-anak dengan harapan mereka tetap mendapatkan makanan bergizi di tengah kondisi darurat ini. 

“Bahagia bisa makan dan minum bersama-sama. Biasanya malam-malam selalu sepi. Malam ini ramai, dan senang rasanya. Terima kasih juga dapat paket makanan dari Dompet Dhuafa. Bersyukur. Berharap bisa terus membantu kami,” kata Zaitun. 

Memasuki minggu keempat pasca-gempa, DMC Dompet Dhuafa berikhtiar untuk terus hadir mendampingi penyintas, terutama perempuan dan anak-anak. Hal ini menjadi bagian dari komitmen Dompet Dhuafa, dalam Program SUPER (Sarana untuk Pelayanan Kelompok Rentan), untuk membantu penyintas yang masuk dalam kategori kelompok rentan. 

Semoga kehadiran DMC Dompet Dhuafa mampu memupuk semangat para penyintas gempa bumi NTT untuk bangkit dan pulih dari situasi sulit akibat bencana. (Muhammad Afriza Adha/ID Humanity)