Penghidupan Belum Pulih Pasca-Gempa NTT, DMC Dompet Dhuafa Salurkan Bantuan Sembako

Manggarai, NTT–Sudah hampir satu bulan, Habiba, 45 tahun, warga Jembatan Besi, Kelurahan Mata Air, tidak bisa berjualan bensin eceran seperti biasanya. Ia masih trauma dan ketakutan karena gempa masih kerap muncul.

“Mama hanya punya kerja jual bensin saja. Sekarang sudah tidak bisa jual. Trauma mama karena gempa datang terus. Terpaksa mama tidak jual,” kata Habiba.

Habiba bercerita rumahnya di dekat pantai hancur akibat gempa. Tidak ada harta benda yang tersisa. Hanya ada satu tas selempang yang selalu digantungkan di lehernya. Tas itu berisi kartu keluarga, KTP, dan ijazah sekolah anak-anaknya.

“Di tas ini hanya ada surat-surat penting saja. Lihat hanya ada kertas-kertas ini, sama uang lima ribu rupiah,” ucap Habiba.

Untuk memenuhi kebutuhan makan sehari-hari, Habiba bergantung pada bantuan yang masuk ke pos pengungsian, tempat ia menetap sementara saat ini, di Dusun Tanah Putih, Kelurahan Mata Air.

“Untung itu ada bantuan sedikit-sedikit kasih makan dorang. Sekeluarga bisa makan. Tapi sedikit-sedikit saja,” kata Habiba.

Sehari-hari Habiba makan dari dapur bersama yang dibuat darurat oleh sesama penyintas gempa. Para penyintas di sana menakar setiap bantuan yang masuk, dan membagikan agar semua bisa memperoleh porsi yang sama.

Kata Habiba, jika persediaan dapur sudah habis dan bantuan tidak kunjung datang, mereka terpaksa menahan lapar. Namun jika sudah tak tertahankan, penyintas terdampak pergi ke pasar memohon kebaikan para pedagang ikan.

Sore itu, Habiba menunjukkan seekor ikan Cakalang besar yang sedang dibersihkan. Ia bilang itu hasil ia pergi ke TPI (tempat penjualan ikan) di Desa Reo.

“Saya pergi ke pasar TPI. Minta-minta. Bersyukur masih ada yang berbaik hati kasih mama ikan. Mama bawa ke sini untuk dimasak dan nanti dibagi-bagi untuk kami semua di sini,” cerita Habiba.

Semua pengungsi di Dusun Tanah Putih punya nasib yang sama dengan Habiba. Sebagian besar dari mereka kehilangan kesempatan bekerja semenjak gempa terjadi pada 15 Agustus 2026 lalu.

Para lelaki yang mayoritas adalah nelayan pun tak bisa lagi melaut. Ada himbauan dari pemerintah setempat untuk tidak beraktivitas di laut selama masa tanggap darurat ini.

Syuaib, nelayan berusia 32 tahun, menceritakan bagaimana kondisi gempa yang terus menerus ada memaksa dirinya tidak pergi ke laut. Selain karena himbauan pemerintah, ia mengaku takut akan potensi tsunami yang mungkin terjadi mengingat gempa susulan terus terjadi.

“Trauma kita. Mau melaut juga istri menahan. ‘Oy, Bapak, jangan melaut dulu!’ katanya,” ujar Syuaib. “Bahaya soalnya. Takut ada gempa susulan.”

Syuaib bilang karena tidak bisa mencari uang, ia dan keluarga makan seadanya dari persediaan dapur bersama di pengungsian.

Penderitaan warga terdampak bencana gempa NTT terus berlanjut setelah gempa besar pertama menghancurkan rumah mereka. Sejak itu, mereka terpaksa hidup di tenda-tenda terpal dengan penuh keterbatasan. Napas mereka di pengungsian harus panjang sebab tanah Flores belum juga berhenti bergetar.

Merespons kondisi yang terjadi di sana, pada Jumat (11/9/2026), Disaster Management Center (DMC) Dompet Dhuafa menyalurkan paket bantuan sembako untuk 27 pengungsi yang menetap di pengungsian mandiri Tanah Putih, Kelurahan Mata Air, Kecamatan Reok, Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur (NTT).

Bantuan ini merupakan donasi dari Bina Rohani Islam (Binroh) MUFG Jakarta.

Penyaluran paket bantuan sembako ini juga dilakukan DMC Dompet Dhuafa di pengungsian mandiri di Kampung Kedutu, Kelurahan Mata Air, Kecamatan Reok, Kabupaten Manggarai. Sebanyak 20 kepala keluarga menerima bantuan bahan pokok untuk kebutuhan makan sehari-hari ini.

“Sangat-sangat terima kasih untuk Dompet Dhuafa sudah kasih mama dan keluarga mama bantu. Karena mama dorang belum bisa kerja. Belum bisa beli beras. Untung ada Dompet Dhuafa yang kasih mama dorang bantuan ini untuk makan. Terima kasih banyak bantuan untuk kami semua di sini,” ucap Habiba, salah satu penerima manfaat dari penyaluran ini.

Perasaan syukur juga disampaikan Syuaib setelah menerima bantuan sembako dari DMC Dompet Dhuafa dan Binroh MUFG Jakarta. Paket sembako ini membantu ia dan keluarga untuk bisa tetap memenuhi kebutuhan dasar selama masa tanggap darurat ini. (Muhammad Afriza Adha/ID Humanity)