
Nagekeo, NTT–Sembari merasa sedikit pusing, Yohana (36), yang baru saja bangun tidur mencoba beranjak keluar dari kamarnya. Belum sempat mengambil langkah, seketika langkahnya terhenti oleh guncangan gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7 yang segera meluluhlantakkan rumahnya.
“Saat itu kita baru bangun pagi, semua orang masih sibuk masing-masing. Jadi mama dan bapak itu sudah sibuk di dapur, terus saya masih di kamar bagian belakang, adik dan keponakan saya masih di kamar bagian depan. Pas saya mau buka pintu kamar, itu semuanya goyang. Mama, bapak, adik dan ponakan saya semuanya sudah keluar, tetapi saya tidak sempat. Bangunan rumah langsung ambruk kena badan saya,” ujarnya.
Yohana merupakan salah satu penyintas gempa di Desa Tonggurambang, Kecamatan Aesesa, Kabupaten Nagekeo, Nusa Tenggara Timur (NTT). Ia yang saat itu tengah berada di dalam rumah bersama keluarganya, tidak sempat menyelamatkan diri sebelum guncangan gempa pada 15 Agustus lalu meruntuhkan bangunan rumahnya tanpa jeda.


Yohana mengaku kehilangan keseimbangan saat mencari jalan untuk menyelamatkan diri saat itu. Ia pun sempat berteriak meminta bantuan, namun di saat yang sama semua orang pun berlarian menyelamatkan diri ke luar rumah.
Saat itu, ia tidak mampu melangkahkan kaki untuk menyelamatkan diri. Separuh tubuhnya tertimbun reruntuhan bangunan rumah. Bahkan ia hanya bisa menyaksikan kepingan demi kepingan reruntuhan jatuh bertubi-tubi di hadapannya. Sembari berserah, Yohana terus berusaha melindungi kepalanya dengan menelungkupkan kedua tangan di atasnya.
“Pas lagi proses runtuhnya rumah itu, saya terjebak di dalam. Reruntuhan jatuh itu sudah tutup badan saya jadi tidak bisa bangun. Mama dan bapak, adik dan keponakan, semua sudah di luar. Saya tidak bisa apa-apa, pasrah, saya tidak keluar ke mana-mana, saya tutup kepala saya pakai kedua tangan begini saja takut kepala saya remuk, karena jatuhnya runtuhan itu buk…buk…buk,” lanjut dia memperagakan kejadian tersebut.
Selang satu jam berlalu, guncangan besar sudah tidak lagi terasa, Yohana pun bergegas menyelamatkan diri dengan sisa tenaganya. Sambil tertatih-tatih ia berusaha membersihkan reruntuhan material bangunan yang menimpa tubuhnya.

“Mungkin sekitar satu jam saya tidak bersuara. Bapak tidak bisa masuk tolong saya, karena semuanya sudah tidak tampak apa-apa, semua sudah tertutup debu. Pas saya merasa gempa sudah berhenti, saya langsung evakuasi sendiri dengan tenaga yang ada.”
“Saya bongkar sisa-sisa puing timbunan reruntuhan di badan saya. Saya lihat kaki kanan saya juga tertancap besi yang sudah berkarat, langsung saya cabut saja tidak saya rasakan sakitnya. Saya langsung angkat naik kaki kiri saya, saya ngesot lah ke depan melewati reruntuhan batu-batu itu, baru saya panggil bapak untuk tolong saya,” ucap Yohana pilu.
Yohana sempat mengira bahwa ia hanya terluka ringan. Namun setelah berhasil menyelamatkan diri hingga keluar dari reruntuhan rumah, ia baru menyadari pergelangan kaki kanannya mengalami cedera patah tulang dan separuh tubuhnya sudah bersimbah darah penuh goresan luka akibat menerjang reruntuhan bangunan.

Yohana langsung dievakuasi keluarga dan tetangganya ke posko utama tanggap darurat. Butuh waktu hampir setengah hari lamanya hingga Yohana bisa mendapatkan penanganan medis. Ia mengaku hanya bisa merintih dan menahan sekuat tenaga rasa sakit yang menyiksa.
“Dari pagi sampai siang itu saya hanya bisa menahan rasa sakit luar biasa. Saya baru bisa ditangani dokter itu di jam 2 siang. Saya dibantu tim SAR dari Maumere sama kepolisian dari sini ke rumah sakit. Sampai di sana, dokter bersihkan luka bekas tusukan besi itu tanpa obat bius, itu sakit sekali. Saya sampai merasa sangat ingin menendang dokter yang menangani saya. Terus saya dioperasi dari jam 2 sampai jam 5, karena tulang saya remuk, hancur. Dan saya jadi korban pertama yang langsung ditangani secara darurat oleh dokter dari Jakarta,” ingat dia.


Sambil memperhatikan balutan di kakinya, Yohana kembali mengingat ia harus membatalkan rencana kembali ke rumah suaminya di Kalimantan akibat musibah ini. Sudut matanya basah dan beberapa bulir air mata jatuh menetes ke pipinya, ia berusaha tabah dan mengucap rasa syukur karena masih diberi keselamatan.
Dalam kesehariannya, Yohana tidak tinggal bersama kedua orang tuanya, dan ini juga menjadi salah satu alasan ia merasa sedih. Sebab, setelah menikah, Yohana hanya bisa mengunjungi orang tuanya setiap beberapa tahun sekali.
Ia berkali-kali mengucap syukur, di tengah kondisinya yang belum pulih dan masih trauma, tetapi ia masih bersama kedua orang tuanya.

“Sehari-hari saya itu ibu rumah tangga. Sebetulnya saya tinggalnya sama suami di Kalimantan Utara dan hanya pulang ke rumah orang tua setiap libur. Niatnya karena lagi liburan, saya sempatkan mengunjungi orang tua, karena saya ingin membantu mereka bekerja di sawah.”
“Rencananya tanggal 19 mau kembali ke Kalimantan, tiket sudah dibeli, tahunya tanggal 15 saya terdampak gempa. Jadi tahun depan lah baru pulang ke sana. Habis kata dokter minimal sampai 10 bulan baru bisa buka pen,” imbuhnya.
Pasca gempa, Yohana bersama keluarga tinggal di tenda darurat tepat di samping bangunan rumahnya yang sudah rata dengan tanah. Ia juga mengenang rumah tersebut sebagai rumah sedari masa kecil yang di dalamnya banyak kenangan hangat bersama keluarga.

Dengan kondisi tersebut, Dompet Dhuafa mendirikan Rumah Sementara (Rumtara) untuk Yohana dan keluarga. Rumtara ini diharapkan dapat menjadi tempat berteduh yang aman dan nyaman bagi keluarga Yohana selama menjalani masa pemulihan pasca bencana.
“Rumtara ini akan dibangun dengan segera dan akan menggunakan material yang bagus sehingga bisa menjadi hunian yang nyaman dan aman bagi penerima manfaat,” ujar Herdiansah, Wakil Ketua Pengurus Dompet Dhuafa, yang disampaikan saat peletakan batu pertama Rumtara yang bertempat di bekas rumah Yohana.
Kawan Baik, kepiluan yang menimpa Yohana adalah satu dari sekian banyak kepiluan yang mendera para penyintas gempa di NTT. Mari kita doakan bersama agar para penyintas gempa lekas pulih dari trauma dan gempa susulan segera mereda. (Shinta FN/ID Humanity Dompet Dhuafa).
