amp-web-push-widget button.amp-subscribe { display: inline-flex; align-items: center; border-radius: 5px; border: 0; box-sizing: border-box; margin: 0; padding: 10px 15px; cursor: pointer; outline: none; font-size: 15px; font-weight: 500; background: #4A90E2; margin-top: 7px; color: white; box-shadow: 0 1px 1px 0 rgba(0, 0, 0, 0.5); -webkit-tap-highlight-color: rgba(0, 0, 0, 0); } .amp-logo amp-img{width:190px} .amp-menu input{display:none;}.amp-menu li.menu-item-has-children ul{display:none;}.amp-menu li{position:relative;display:block;}.amp-menu > li a{display:block;} /* Inline styles */ div.acss138d7{clear:both;}div.acss5dc76{--relposth-columns:3;--relposth-columns_m:2;--relposth-columns_t:3;}div.acssae964{aspect-ratio:1/1;background:transparent no-repeat scroll 0% 0%;height:150px;max-width:150px;}div.acss6bdea{color:#333333;font-family:Arial;font-size:12px;height:75px;} .icon-widgets:before {content: "\e1bd";}.icon-search:before {content: "\e8b6";}.icon-shopping-cart:after {content: "\e8cc";}
Jakarta—“Gue punya dosa bikin sampah, lalu apa yang bisa gue lakuin?” aku MG Pringgotono pada tim DMC, Kamis (27/1/2022).
MG Pringgotono merupakan salah satu founder STUFFO, sebuah brand lokal yang menghasilkan barang-barang ramah lingkungan.
STUFFO menggunakan konsep metode upcycling yakni proses daur ulang limbah sampah menjadi barang dengan kebermanfaatan yang baru tanpa menghilangkan bentuk asal barang tersebut.
Metode tersebut berbeda dengan konsep proses recycling yang sering digaungkan masyarakat. Recycling, bentuk awal barang dileburkan hingga hancur baru kemudian dipilah dan dibentuk lagi menjadi barang baru.
MG Pringgotono menceritakan bahwa inisiasi ia bersama kawannya mendirikan STUFFO, tidak lepas dari pengalaman dia menjadi exhibition designer, yang mengharuskan ia memproduksi banyak spanduk di acara-acara besar.
Seiring semakin banyak dan besarnya suatu acara, maka memperbesar juga produksi spanduk.
Namun seusai suatu acara selesai, ia melihat spanduk-spanduk perlahan menumpuk di gudang penyimpanan yang membuat ia sendiri sedikit resah.
Sehingga pada tahun awal 2017 ia bersama kawan-kawannya di Gudskul terus melakukan riset dan menciptakan prototype, lalu bisa menciptakan produk yang ramah lingkungan.
“Hingga akhirnya kita bisa gelar workshop dan banyak teman-teman semakin concern terhadap (isu) ini,” tambahnya saat ditemui di workshop STUFFO Bag, Jagakarsa, Jakarta Selatan.
STUFFO sendiri terbagi dua yakni STUFFO Bag dan STUFFO Lab. STUFFO Bag focus pada produksi hingga penjualan produk.
Sedangkan STUFFO Lab merupakan tempat riset untuk eksplorasi benda-benda upcycle.
Sehingga STUFFO tidak hanya mengolah spanduk bekas saja, tetapi merambah ke sampah dan botol plastik untuk diolah jadi benda layak pakai seperti tatakan laptop, aksesoris, pot untuk tanaman, dll.
“Bisa dibilang ini salah satu bentuk rasa tanggungjawab atas apa yang telah gue lakuin, yakni mengakibatkan sampah. Karena sampah sendiri merupakan masalah yang cukup besar,”sambungnya.
Saat ini ada beberapa jenis produk yang dihasilkan seperti waist bag, messenger bag, backpack, dan tote bag.
Lalu juga menghasilkan barang-barang aksesori berupa reversible bucket hat yang bisa dijadikan sling bag dan lainnya.
Landasan MG Pringgotono melakukan ini lantaran kita bisa menanggulangi sampah menjadi barang guna dengan tetap mempertahankan aspek estetikanya.
Ini merupakan kolaborasi yang pernah dilakukan oleh Disaster Management Center (DMC) Dompet Dhuafa bersama STUFFO dalam program Tas Siaga Yatim sekaligus merupakan media pembelajaran untuk mengenalkan nilai nilai pendidikan tentang kebencanaan, sosial, hingga lingkungan.
“Cukup apresiasi terhadap Dompet Dhuafa untuk mau melirik praktik-praktik (upcycling) seperti ini yang dikerjakan oleh anak muda. Agak pop dan itu langkah yang bagus. Kita juga relate, karena salah satu yang paling sering jadi bencana ialah banjir akibat sampah yang tidak tertangani dengan baik,” pungkasnya.
“Sehingga melalui kolaborasi ini bisa meningkatkan lagi awareness (tentang peduli lingkungan) betapa pentingnya penanggulangannya, pemanfaatannya lalu bisa meminimalisir dampak bencana-bencana yang diakibatkan ulah manusia. Ini edukasi yang penting bagi anak-anak,”ungkap MG Pringgotono.
Spanduk juga bisa diolah ulang menjadi kursi, meja dan papan. Kemudian bisa juga dikreasikan menjadi jas hujan, tempat tisu, payung, dan dekorasi bunga plastik. Bahkan spanduk-spanduk itu pernah dijadikan pameran oleh kolektif seni di Bali.
Sisi Lain dari Spanduk
Berdasarkan survei Nielsen Consumer Media View yang dilakukan di 11 kota di Indonesia, penetrasi Televisi masih memimpin dengan 96 persen disusul dengan Media Luar Ruang (53%), Internet (44%), Radio (37%), Koran (7%), Tabloid dan Majalah (3%).
Dalam sebuah survei, setelah intervensi enam (6) bulan, spanduk bermanfaat meningkatkan perilaku kesehatan 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) di Sulawesi Tengah.
Perilaku yang meningkat secara signifikan adalah perilaku menimbang anak secara teratur.
Spanduk juga pernah dipergunakan sebagai simbol identitas militer Inggris pada masa abad pertengahan. Spanduk dibawa oleh para ksatria dari kalangan kerajaan maupun bangsawan. Walaupun pada era itu istilah spanduk belum terlalu populer, bahkan kata panji atau bendera lebih tepat untuk menggambarkan penggunaan spanduk pada tahun itu.
Dalam literasi lainnya spanduk bahkan dipuja dan butuh persembahan korban makhluk hidup.
Di sisi lain spanduk juga turut membantu dalam gerakan sosial. Dua gerakan sosial pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20—gerakan buruh terorganisasi dan gerakan hak pilih perempuan—muncul tepat ketika fotografi mulai berkembang sebagai sarana dokumenter; spanduk-spanduk pun tampak dalam banyak citra yang merekam pawai serta protes mereka.
Spanduk-spanduk ini memengaruhi cara kita memandang peristiwa-peristiwa tersebut secara harfiah, dengan menghadirkan kata-kata ke dalam pemandangan sejarah.
Foto-foto hitam-putih dari pergantian abad ke-20 menampilkan para perempuan yang mengenakan busana era Edwardian yang elegan serta topi-topi yang mencolok, sambil membawa spanduk buatan mereka sendiri untuk memperjuangkan hak pilih bagi perempuan.
Dari panji-panji kesatria hingga pawai perjuangan hak pilih, spanduk selalu membawa pesan. Lewat upcycling, pesan itu berlanjut: spanduk yang usai dipasang tak berakhir menjadi sampah, tetapi hidup kembali sebagai barang berguna. (Arifian Fajar Putera/ Juli Haryadi)
Ogan Ilir, Sumatra Selatan–Sukri menerangkan bahwa api muncul di ladang padi di Desa Ulak Sugeleng,…
Palangka Raya, Kalimantan Tengah — Ketika kabut asap menyelimuti Palangka Raya, ancaman kebakaran hutan dan…
Jakarta–Di balik gedung-gedung yang menjulang tinggi, terdengar langkah tangguh para pejuang rupiah yang berpacu dengan…
Setiap kali pemulihan dikatakan, ada sisi yang belum terungkap yang kerap kali menciptakan jarak: kondisi…
Serang, Banten—Disaster Management Center (DMC) Dompet Dhuafa menggelar sosialisasi dan edukasi Sekolah Siaga Bencana di…
Jakarta--Pesan tegas bernada hangat itu mengudara dari Jakarta Selatan, Rabu (14/10). Menteri Agama (Menag) Republik…