amp-web-push-widget button.amp-subscribe { display: inline-flex; align-items: center; border-radius: 5px; border: 0; box-sizing: border-box; margin: 0; padding: 10px 15px; cursor: pointer; outline: none; font-size: 15px; font-weight: 500; background: #4A90E2; margin-top: 7px; color: white; box-shadow: 0 1px 1px 0 rgba(0, 0, 0, 0.5); -webkit-tap-highlight-color: rgba(0, 0, 0, 0); } .amp-logo amp-img{width:190px} .amp-menu input{display:none;}.amp-menu li.menu-item-has-children ul{display:none;}.amp-menu li{position:relative;display:block;}.amp-menu > li a{display:block;} /* Inline styles */ div.acss138d7{clear:both;}div.acss5dc76{--relposth-columns:3;--relposth-columns_m:2;--relposth-columns_t:3;}div.acssae964{aspect-ratio:1/1;background:transparent no-repeat scroll 0% 0%;height:150px;max-width:150px;}div.acss6bdea{color:#333333;font-family:Arial;font-size:12px;height:75px;} .icon-widgets:before {content: "\e1bd";}.icon-search:before {content: "\e8b6";}.icon-shopping-cart:after {content: "\e8cc";}
Serang, Banten—Disaster Management Center (DMC) Dompet Dhuafa menggelar sosialisasi dan edukasi Sekolah Siaga Bencana di Sekolah Islam Terpadu (IT) Qaiis Boarding School dan Pondok Pesantren Al-Hidayah, Kecamatan Ciomas, Kabupaten Serang, Banten, Selasa (13/10/2026) dan Kamis (15/10/2026).
Kegiatan ini menjadi bagian dari peringatan Bulan Pengurangan Risiko Bencana (PRB) 2026 sekaligus upaya membangun budaya sadar bencana di lingkungan pesantren.
Sebanyak 87 santri dan santriwati mengikuti kegiatan yang dilaksanakan di Pondok Pesantren Al-Hidayah. Sementara itu, kegiatan serupa juga digelar di Sekolah IT Boarding School dengan melibatkan siswa atau santri jenjang Sekolah Menengah Pertama (SMP) hingga Sekolah Menengah Atas (SMA).
Para peserta tidak hanya mendapatkan pengetahuan mengenai jenis dan potensi bencana, tetapi juga diajak memahami langkah-langkah pengurangan risiko bencana yang dapat dilakukan sebelum, saat, dan setelah bencana terjadi.
Para santri kemudian mengikuti simulasi penyelamatan diri saat terjadi gempa bumi. Dalam simulasi tersebut, mereka berlatih melakukan tindakan perlindungan diri, mengenali jalur evakuasi, serta memahami pentingnya mengikuti arahan dan berkumpul di titik aman.
Latihan ini menjadi bagian penting dalam pengurangan risiko bencana karena kesiapsiagaan dapat mengurangi kepanikan dan meminimalkan kemungkinan jatuhnya korban.
Selain gempa bumi, edukasi juga mencakup praktik pemadaman api ringan. Para santri diperkenalkan dengan penggunaan alat pemadam api ringan (APAR) serta cara memadamkan api menggunakan kain basah.
Praktik tersebut memberikan pengalaman langsung kepada para santri dalam mengenali potensi bahaya kebakaran dan melakukan penanganan awal.
Edukasi ini juga menekankan pentingnya mencegah kebakaran melalui kewaspadaan terhadap sumber api, instalasi listrik, serta penggunaan peralatan yang berpotensi menimbulkan kebakaran.
“Kesadaran dan pengetahuan tentang bencana serta cara menanganinya penting sekali dimiliki setiap orang. Para santri dan santriwan salah satunya. Mereka bisa dibilang tidak mendapatkan pengetahuan ini di kelas-kelas formal, jadi dengan adanya kegiatan ini mereka bisa bersentuhan langsung dengan pengetahuan soal kebencanaan sehingga pengurangan risiko bencana bisa tercapai,” kata Achmad Lukman, Kabag Mitigasi dan Diklat Bencana DMC Dompet Dhuafa.
Achmad Lukman juga menjelaskan kegiatan sosialisasi dan edukasi sekolah siaga bencana ini menegaskan komitmen DMC Dompet Dhuafa dalam mewujudkan lingkungan sekolah yang siap dan siaga akan potensi datangnya bencana.
“Pengurangan risiko bencana di sekolah bisa terealisasi kalau setiap siswa mengerti cara menyelamatkan diri ketika bencana terjadi. Yang terpenting adalah memastikan mereka aman terlebih dahulu. Kita tidak bisa mencegah datangnya bencana, tetapi kita bisa mengurangi risikonya. DMC berikhtiar terus menyebarkan pengetahuan kebencanaan ini ke masyarakat terutama ke sekolah-sekolah,” ucap Achmad Lukman.
Rendra Al Mubarok, Kepala Sekolah SMP IT Qaiis Boarding School, menyambut baik kegiatan ini. Menurutnya, kesempatan para siswa sekolah belajar tentang kebencanaan sejalan dengan program pemerintah.
“Sejalan juga dengan program Kementerian Pendidikan terkait dengan mitigasi bencana. Anak-anak mengerti sejak dini apa yang harus dilakukan ketika terjadi bencana, ketika ada gempa, ada kebakaran. Harapan besar saya adalah kegiatan ini bisa bermanfaat untuk anak-anak. Dan sekolah ini mampu menjadi sekolah yang aman bencana,” ujar Rendra.
Sementara itu Ika Monika, tenaga pengajar di Pondok Pesantren Al-Hidayah, menilai anak-anak sekolah membutuhkan pengetahuan akan bencana karena potensi bencana bisa terjadi kepada siapa saja dan di mana saja. Dengan mengetahui cara menyelamatkan diri yang tepat, anak-anak bisa terhindar dari risiko yang muncul apabila bencana terjadi.
“Ini sangat bagus karena anak-anak membutuhkan pelajaran dan praktik menyelamatkan diri ketika terjadi bencana. Semoga tidak berhenti di sekolah ini saja, tetapi sekolah-sekolah lain bisa mendapatkan manfaat yang sama. Untuk DMC Dompet Dhuafa semoga bisa melanjutkan terus kebermanfaatannya ke masyarakat luas,” ujar Ika.
Melalui kegiatan ini, DMC Dompet Dhuafa mendorong sekolah dan pesantren untuk memperkuat upaya pencegahan dan pengurangan risiko. Sekolah dan pesantren memiliki peran strategis dalam membangun pengetahuan, sikap, dan keterampilan kebencanaan sejak dini.
Pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh para santri diharapkan dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari serta dibagikan kepada keluarga dan masyarakat sekitar. Dengan demikian, edukasi kebencanaan tidak berhenti di ruang kelas atau lingkungan pesantren, tetapi berkembang menjadi kesadaran bersama untuk menciptakan lingkungan yang lebih aman dan tangguh.
Peringatan Bulan Pengurangan Risiko Bencana 2026 menjadi momentum untuk memperkuat kolaborasi dalam membangun ketangguhan masyarakat. Melalui pendidikan kebencanaan yang berkelanjutan, upaya pengurangan risiko dapat dilakukan sebelum bencana terjadi, sehingga dampak yang ditimbulkan dapat ditekan. (ID Humanity Dompet Dhuafa)
Jakarta--Pesan tegas bernada hangat itu mengudara dari Jakarta Selatan, Rabu (14/10). Menteri Agama (Menag) Republik…
Nagekeo, NTT–Bertempat di serambi Masjid Agung Baiturrahman Mbay, anak-anak tampak antusias saat mengikuti kegiatan belajar…
Nagekeo, NTT–Di balik perbukitan yang membentang di sepanjang perjalanan menuju Kampung Natakupe, berdiri sekolah darurat…
Setiap 22 Oktober, santri dikenang sebagai penjaga republik di masa revolusi. Tetapi konteks tahun ini…
Tangerang Selatan—Prudential Sharia Life Assurance dan Lembaga Pelayan Masyarakat (LPM) Dompet Dhuafa menyantuni 180 anak…
Jakarta— Masjid tidak hanya menjadi tempat ibadah, tetapi juga memiliki sejarah panjang dan memiliki peran…