
Palangka Raya, Kalimantan Tengah — Ketika kabut asap menyelimuti Palangka Raya, ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) tidak hanya terlihat pada hutan dan lahan yang terbakar.
Dampaknya juga hadir dalam kehidupan sehari-hari masyarakat, udara yang kian sulit dihirup, aktivitas yang perlu dibatasi, serta kekhawatiran terhadap kesehatan keluarga, terutama anak-anak, lansia, dan mereka yang rentan mengalami gangguan pernapasan.
Di tengah situasi tersebut, kebutuhan masyarakat bukan semata-mata tentang bagaimana melewati hari, melainkan juga bagaimana menjaga kesehatan ketika udara di sekitar belum sepenuhnya aman.
Merespons kondisi itu, Disaster Management Center (DMC) Dompet Dhuafa menghadirkan Program Rumah Aman Asap sejak 31 Agustus 2026.
Berlokasi di Ma’had As Syafi’i, di samping Kantor Samsat Palangka Raya, fasilitas ini menjadi ruang perlindungan sementara bagi masyarakat sekaligus tempat untuk memperoleh layanan kesehatan dasar di tengah ancaman kabut asap.
Hingga 18 Oktober 2026, Rumah Aman Asap telah mencatat 95 kunjungan masyarakat. Angka tersebut bukan sekadar catatan aktivitas pelayanan.
Di balik setiap kunjungan, terdapat kebutuhan untuk memeriksa kondisi tubuh, memperoleh bantuan kesehatan, atau mencari tempat yang lebih nyaman untuk berlindung sementara dari paparan asap di luar ruangan.
Menghadirkan Ruang Aman di Tengah Udara yang Tak Bersahabat

Rumah Aman Asap beroperasi setiap Senin hingga Sabtu, pukul 08.00–13.00 WIB. Di tempat ini, masyarakat dapat memanfaatkan ruangan berpendingin udara untuk beristirahat sejenak dari kondisi lingkungan di luar.
Tim tenaga kesehatan juga disiagakan untuk memberikan pemeriksaan, memantau kondisi pengunjung, serta menyampaikan edukasi mengenai risiko paparan kabut asap.
Layanan yang tersedia meliputi pemeriksaan saturasi oksigen, pemeriksaan tekanan darah, pemberian oksigen sesuai kebutuhan dan hasil pemeriksaan tenaga kesehatan, serta dukungan nutrisi, vitamin, dan obat-obatan dasar berdasarkan hasil pemeriksaan dan arahan tenaga kesehatan.
Layanan tersebut menjadi bagian dari upaya membantu masyarakat menjaga kondisi kesehatan selama bencana karhutla berlangsung.
Di tengah kualitas udara yang memburuk, akses terhadap pemeriksaan kesehatan dasar dan tempat berlindung sementara dapat menjadi dukungan penting, khususnya bagi mereka yang memiliki keterbatasan untuk memperoleh fasilitas serupa.
Namun, Rumah Aman Asap bukan sekadar tempat singgah. Kehadirannya juga menjadi pengingat bahwa penanganan bencana harus memperhatikan dampak yang dirasakan langsung oleh manusia—termasuk ancaman kesehatan yang kerap tidak terlihat, tetapi dapat mengganggu kehidupan sehari-hari.
Hadirkan Kepedulian Sebelum Dampak Menjadi Lebih Berat

Bencana sering kali dipahami melalui kerusakan yang kasatmata: rumah yang rusak, lahan yang terbakar, atau aktivitas ekonomi yang terhenti.
Padahal, kabut asap menghadirkan persoalan lain yang tidak kalah penting. Udara yang tercemar dapat memengaruhi kesehatan, membatasi mobilitas, dan menambah kekhawatiran keluarga dalam menjalani aktivitas sehari-hari.
Karena itu, respons kemanusiaan tidak cukup hanya bergerak setelah dampak membesar. Upaya perlindungan, edukasi, dan pemantauan kesehatan perlu hadir selama masyarakat masih menghadapi ancaman.
Melalui Rumah Aman Asap, Dompet Dhuafa Kalimantan Tengah berupaya mengambil bagian dalam ikhtiar tersebut.
Selain menyediakan layanan kesehatan dasar, masyarakat juga diingatkan untuk menggunakan masker ketika beraktivitas di luar rumah, membatasi kegiatan luar ruangan sesuai kondisi kualitas udara, serta menjaga kesehatan diri dan keluarga.
Pesan-pesan sederhana ini penting untuk menjadi bagian dari kesadaran bersama. Sebab, menghadapi bencana bukan hanya tentang menunggu keadaan kembali normal, melainkan juga tentang mengambil langkah perlindungan yang tepat selama risiko masih ada.
Pelayanan Berlanjut, Harapan Tetap Dijaga

Hingga 19 Oktober 2026, Program Rumah Aman Asap masih terus berjalan. Keputusan melanjutkan pelayanan mempertimbangkan kondisi kabut asap di Palangka Raya yang, berdasarkan laporan program, masih berada pada level berbahaya dan belum menunjukkan perbaikan yang memadai.
Keberlanjutan layanan dilakukan dengan memperhatikan perkembangan situasi, kebutuhan masyarakat, serta ketersediaan sumber daya pendukung.
Langkah ini menjadi bagian dari komitmen untuk tetap menghadirkan dukungan bagi warga selama ancaman kabut asap masih dirasakan.
Bagi lembaga kemanusiaan, keberadaan layanan seperti ini mengandung pesan yang lebih luas: bahwa kepedulian perlu diwujudkan dalam tindakan nyata, sedekat mungkin dengan kebutuhan masyarakat.
Ruang yang aman untuk beristirahat, tenaga kesehatan yang siap membantu, serta edukasi untuk melindungi diri merupakan bagian dari upaya menjaga martabat dan ketahanan masyarakat di tengah situasi sulit.
Pada akhirnya, penanganan karhutla membutuhkan kerja bersama. Pencegahan kebakaran, pengendalian sumber api, pemulihan lingkungan, dan perlindungan kesehatan masyarakat harus berjalan beriringan.
Sementara itu, warga yang terdampak membutuhkan dukungan agar tidak menghadapi risiko ini sendirian.
Rumah Aman Asap menjadi salah satu wujud ikhtiar tersebut—sebuah ruang perlindungan sementara ketika udara di luar belum bersahabat, sekaligus bentuk kepedulian agar masyarakat tetap memiliki akses terhadap layanan kesehatan dasar.
Semoga upaya kecil yang dirawat bersama ini dapat meringankan beban masyarakat terdampak. Semoga pula karhutla segera terkendali, lingkungan kembali pulih, dan langit Kalimantan Tengah kembali cerah dengan udara yang sehat untuk semua. (Suriadi/ ID Humanity Dompet Dhuafa)
