Shelter Sehati Dompet Dhuafa: Oase Bagi Mulyani dalam Menemani Sang Anak yang Berjuang untuk Sembuh

Jakarta—“Semua keluarga yang berbahagia sama saja, tetapi setiap keluarga yang tidak bahagia, tidak bahagia dengan caranya sendiri-sendiri,” tulis Leo Tolstoy dalam paragraf pembuka novel Anna Karenina.

Di Shelter Sehati Dompet Dhuafa, di Johar Baru, Jakarta Pusat, kalimat Tolstoy itu menemukan bentuknya yang paling nyata. Di tempat singgah bagi pasien dan keluarganya yang tengah menjalani pengobatan itu, setiap keluarga memikul kesedihan yang berbeda-beda.

Untuk menemukan kisah-kisah itu, kita hanya perlu duduk sejenak dan mendengarkan mereka bercerita. Di sana tersimpan cerita tentang harapan, ketabahan, dan perjuangan yang tak selalu terlihat oleh dunia luar.

Kisah pertama bisa kita mulai dari cerita Mulyani yang setia dan tabah mendampingi anaknya, Ranti. 

***

Ranti mendadak kejang-kejang di dalam gerbong kereta Maja-Tanah Abang. Meskipun bukan kali pertama, Mulyani, ibunda Ranti, tetap gelisah melihat putri pertamanya itu bergerak meronta-ronta, menahan nyeri. Tak ada yang bisa ia lakukan dalam situasi penuh kepanikan itu. Ia hanya bisa menunggu—karena menahan gerakan Ranti yang kuat itu bisa berakibat fatal, misal patah tulang atau kemungkinan mengerikan lainnya, dan menjelaskan kepada penumpang lain bahwa anaknya tengah sakit. Dengan sedih Mulyani menyampaikan bahwa anaknya mengidap epilepsi. 

“Sudah berkali-kali Ranti kejang-kejang di dalam kereta. Pas berangkat dan pulang dari RSCM (Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo),” cerita Mulyani.

Ranti punya gejala epilepsi sejak usianya baru menginjak sembilan bulan. Waktu itu Ranti bayi mengalami demam tinggi. Badannya kejang menggeliat. Jeritan dan tangis sahut-menyahut. Mulyani hanya mengingat bayi pertamanya itu baru saja imunisasi di posyandu. Setelahnya ia tidak tahu apa sebab anaknya mengalami penyakit itu.

Setelah bolak-balik berobat, Ranti pun sembuh. Secara fisik ia tumbuh besar seperti anak-anak pada umumnya. Tetapi di lain hal ada perbedaan dari yang lain. Ranti tidak mampu bicara lancar sebagaimana teman-teman sebayanya. Mulyani bilang Ranti juga tidak bisa menyeimbangi proses belajar anak-anak seusianya di sekolah. 

Tahun berganti tahun. Sampailah Ranti menginjak usia ke-17 tahun, dan saat itu juga kejang-kejang kembali muncul. Kali ini gejala ayan itu terjadi lebih sering. 

Melihat kondisi Ranti yang semakin tak baik, Mulyani membawa anaknya ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) di Rangkasbitung. Itu adalah rumah sakit besar yang paling mungkin Mulyani jangkau dari rumahnya yang berada di pelosok Banten, tepatnya di Desa Garut, Kecamatan Kopo, Kabupaten Serang.

Semenjak itu Ranti jadi langganan  rumah sakit. Mulyani membawa Ranti untuk berobat rutin agar epilepsi yang dideritanya bisa berkurang. Namun, sepuluh tahun kemudian, tepatnya di tahun 2025, Ranti mendapati epilepsi yang diidapnya semakin parah. 

“Kata dokter spesialis ada gangguan di saraf pada otak Ranti. ‘Sudah saya suntik semua obat tapi tetap nggak ada reaksi’ kata dokter seperti itu,” ujar Mulyani. 

Singkat cerita, Mulyani disarankan dokter membawa Ranti ke RSCM di Jakarta Pusat. 

Keharusan berobat ke RSCM, jadi tantangan berat untuk keluarga Mulyani karena dua hal. Pertama, pengobatan Ranti di RSCM pada tahun 2025 sempat tertunda lama, karena Mulyani harus mengurus suaminya yang juga sakit kronis selama 12 tahun lamanya, sebelum akhirnya meninggal pada tahun 2026 ini. 

Kedua, sepeninggal suaminya, ia berjuang seorang diri menghidupi anak-anaknya, salah satunya Ranti. Bekerja sebagai buruh cuci di kampung membuat ongkos pulang pergi ke RSCM Jakarta sangatlah besar. Penghasilannya sehari-hari, yang kadang tak menentu, tak bisa menutupi biaya perjalanan saat Ranti harus berobat ke Jakarta. 

“Kita dari rumah jam 3 subuh. Saya biasanya bonceng Ranti di sepeda. Sepedanya itu dikasih pinjem tetangga. Di sepeda saya ke terminal terus naik angkot ke stasiun di Rangkasbitung.” 

“Kita ganti kereta di stasiun Maja, lalu ke Tanah Abang. Dari Tanah Abang kita ganti lagi kereta ke Senen. Dari stasiun Senen saya dan Ranti jalan kaki ke RSCM. Berhenti-berhenti, karena jauh dan Ranti nggak boleh capek,” kata Mulyani. 

Perjalanan dengan kendaraan umum satu ke kendaraan umum lainnya yang tidak hanya memakan ongkos banyak, tetapi juga membuat Ranti kelelahan, kata Mulyani. 

“Karena capek, ya, saya orang yang sehat aja capek banget, gimana dengan Ranti. Makanya Ranti sering kejang-kejang di kereta,” ujarnya. 

Di RSCM, Ranti diperiksa dengan baik dan menyeluruh. Dokter menjelaskan Ranti mengalami jenis epilepsi yang langka. Sebagian otaknya lumpuh, dan membuat Ranti hanya bisa menggerakkan sebagian dari tubuhnya saja. 

“Kata dokter Ranti harus bisa jaga makanan, banyak istirahat, supaya gak kejang-kejang lagi. Karena kelelahan itu yang bikin Ranti kejang,” timpal Mulyani. 

Setelah 13 kali menempuh perjalanan pulang pergi dari kampung ke RSCM untuk berobat, akhirnya Mulyani mendapatkan tempat singgah di Shelter Sehati Dompet Dhuafa. Di sana, Ranti bisa tinggal dan istirahat dengan nyaman. Jarak Shelter dan RSCM yang dekat membuat Ranti tidak lagi kelelahan.

“Saya bersyukur banget ketemu dengan Dompet Dhuafa. Memberikan saya tempat buat Rani istirahat. Di sini kita dikasih banyak kemudahan,” kata Mulyani. 

“Kalau mau berobat, kita dipesankan taksi. Nanti setelah berobat saya cuma kabarin relawan di Shelter untuk minta jemput pakai taksi lagi. Itu semua gratis,” tambahnya. 

Di Shelter Sehati Dompet Dhuafa, Ranti dan para pasien yang tinggal disediakan makanan yang sehat dan bergizi setiap harinya. Tidak hanya itu, menurut Mulyani, banyak rangkaian kegiatan yang bisa membuatnya tenang dan mendampingi anaknya yang sakit tidak menjadi beban yang berat, seperti rutinitas shalat berjamaah, tausiyah dan juga layanan konseling bersama psikolog. 

“Sebulan sekali kita dapat layanan konseling. Kita dikasih penguatan yang bikin hati jadi tenang. Dan lebih semangat lagi merawat Ranti,” katanya. 

Beragam fasilitas yang disediakan Shelter Sehati Dompet Dhuafa membuat Ranti dan pasien lainnya dapat lebih fokus menjalani pengobatan. Sementara itu, keluarga yang mendampingi pun terbantu karena beban yang mereka tanggung, mulai dari biaya hingga tenaga, menjadi lebih ringan. 

“Saya jadi optimis Ranti bisa sembuh. Terima kasih sekali Dompet Dhuafa,” tutup Mulyani. (Muhammad Afriza Adha/ID Humanity Dompet Dhuafa)