Sambut HUT RI ke-81,  LPM Dompet Dhuafa Perkuat Peran Sosial Pasien Disabilitas Mental Lewat Aksi Bersih

Bogor–Penyintas disabilitas mental kerap menghadapi hambatan saat harus kembali hidup bermasyarakat. Stigma bahwa mereka sulit dikendalikan membuat masyarakat kerap enggan menerima mereka kembali. Padahal, memberi ruang bagi mereka untuk berbaur dalam kerja-kerja sosial sangat diperlukan bagi proses pemulihan.

Inilah yang dilakukan Lembaga Pelayan Masyarakat (LPM) Dompet Dhuafa lewat program Pendampingan Disabilitas Mental (PDM). Pada Sabtu (15/8/2026), pasien rehabilitasi disabilitas mental dari panti-panti mitra program PDM serentak menggelar aksi bersih-bersih fasilitas umum di dua kota: Taman Makam Pahlawan Dreded di Kota Bogor dan Museum Gedung Juang di Kota Bekasi, Jawa Barat.

Kegiatan ini juga merupakan cara pasien disabilitas mental menyambut Hari Kemerdekaan Republik Indonesia ke-81.

Kegiatan aksi bersih-bersih ini jadi salah satu terapi okupasi untuk pasien yang mengalami gangguan kejiwaan. Irawan, Koordinator Program PDM dari LPM Dompet Dhuafa, menerangkan pasien-pasien yang ikut serta ini adalah mereka yang tingkat kesembuhannya mencapai 80 persen.

“Mereka ini hampir pulih sepenuhnya. Kami terus mengajak mereka untuk terus sibuk melakukan aktivitas sosial. Di panti rehab, mereka bertani, berternak ikan, dan sekarang mereka dilibatkan dalam aksi membersihkan taman makam pahlawan. Ini jadi variasi terapi mereka dan juga untuk wadah rekreasi agar mereka tidak jenuh,” ujar Irawan.

Irawan menambahkan lewat aksi-aksi sosial ini pasien disabilitas mental juga diberi ruang untuk belajar berbaur dengan masyarakat luas.

“Dari kegiatan-kegiatan seperti ini akan tumbuh rasa percaya diri mereka bahwa mereka punya tempat di masyarakat. Dan ketika mereka kembali ke rumah, mereka akan lebih mudah untuk diterima lingkungan rumahnya,” tambah Irawan.

Ardiansyah, pasien rehabilitasi dari Yayasan Ibnu Ruslan, salah satu mitra LPM Dompet Dhuafa, menilai baik kegiatan aksi-aksi bersih ini. Ia yang tergabung dalam tim B’Beres berkesempatan membersihkan Taman Makam Pahlawan Dreded Kota Bogor.

Dengan sapu lidi, pengki, dan sarung tangan, ia menyapu, dan mengangkut sampah-sampah tumbuhan dan kemasan makanan yang berserakan di sekitar makam.

“Saya menyebutnya kegiatan ini seperti bengkel jiwa. Dengan melakukan kesibukan yang positif saya enggak punya waktu melamun yang bikin saya berhalusinasi lagi. Alhamdulillah saya jadi lebih baik lagi, jiwa saya juga jadi baik lagi. Enggak gampang marah-marah kayak dulu,” ucap Ardiansyah. 

Ardiansyah juga mengungkapkan pendapatnya sebagai pasien disablitas mental yang sudah bisa kembali beraktivitas secara normal bahwa apa yang dihadapinya selama ini, terutama pada jiwanya, adalah cara Allah mensterilkan dirinya untuk jadi manusia yang lebih baik. 

Dari upaya-upaya penyembuhannya itu Ardiansyah punya kesempatan belajar banyak hal dan juga bertemu dengan banyak orang yang punya pengaruh baik pada dirinya. 

Satu hal baik yang dirasakan Ardiansyah adalah penerimaan kembali dari orang-orang terdekatnya di rumah. 

“Buat teman-teman yang juga sedang berjuang pokoknya sehat selalu, panjang umur. Hidup itu kita harus sajuta modalnya. Sabar, Jujur dan Tawakal. Hidup itu jangan dipikirin, tapi dijalani. Merdeka.. Merdeka!” ucap Ardiansyah. 

Kemerdekaan bagi Ardiansyah dan pasien-pasien lain punya makna yang berbeda. Bukan sekadar bebas dari penjajahan, melainkan juga bebas dari stigma yang selama ini membuat mereka terpinggirkan dari kehidupan bermasyarakat. 

Mungkin setiap orang punya perjuangan yang berbeda-beda dalam hidup, dan bagi penyandang disabilitas mental, perjuangan mereka adalah untuk merebut kembali ruang di tengah masyarakat.

Lewat kerja-kerja sosial semacam ini, LPM Dompet Dhuafa berharap masyarakat luas belajar melihat mereka bukan sebagai beban, melainkan sebagai manusia yang utuh. (Muhammad Afriza Adha/ID Humanity Dompet Dhuafa)