Latih Kesiapsiagaan Sejak Dini, TK Bakti Mulya 400 dan DMC Dompet Dhuafa Gelar Simulasi Gempa

Jakarta–Ketika sirine peringatan gempa berbunyi, anak-anak segera menutupi bagian atas kepala mereka dengan kedua tangan dan berlindung di bawah meja belajar mereka.

Setelah menunggu selama 30 hingga 60 detik sirine peringatan berhenti berbunyi, tanda gempa telah usai, para guru mengarahkan anak-anak untuk keluar dari kelas dengan tertib untuk menuju area terbuka yang telah ditetapkan sebagai titik kumpul dan evakuasi.

Di titik kumpul, para guru mengecek kembali kondisi anak-anak, memastikan tidak ada yang tertinggal dan terluka.

Simulasi ini dilakukan sesuai dengan instruksi dan standar Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB).

Pada Rabu (2/9/2026) pagi, anak-anak TK Bakti Mulya (BM) 400 Pondok Indah, Jakarta Selatan, melakukan latihan simulasi bencana gempa bersama kawan-kawan Disaster Management Center (DMC) Dompet Dhuafa.

Mereka mengikuti rangkaian simulasi evakuasi mandiri gempa secara tertib dan saksama.

Tidak hanya anak-anak, para guru di sekolah terlibat dalam latihan kesiapsiagaan bencana ini.

Sebelum melakukan simulasi, kawan-kawan DMC Dompet Dhuafa memberikan edukasi terkait apa itu gempa, bagaimana dampaknya, dan langkah-langkah tepat yang harus dilakukan saat gempa terjadi.

Rangkaian edukasi dan simulasi bencana gempa ini merupakan wujud komitmen TK Bakti Mulya 400, bekerja sama dengan DMC Dompet Dhuafa, dalam menciptakan sekolah aman bencana bagi warga sekolah.

Untuk itu penting bagi anak-anak dan juga para guru memiliki wawasan tentang bencana dan terbiasa melakukan simulasi.

Miss Asty, pengajar di TK Bakti Mulya 400, menilai anak-anak usia dini perlu diperkenalkan ilmu pengetahuan tentang bencana gempa untuk membentuk sikap siaga jika bencana sewaktu-waktu terjadi.

“Karena gempa bisa terjadi kapan saja dan menimpa siapa saja, anak-anak usia dini membutuhkan pengenalan dan ilmu bagaimana menangani gempa. Mereka di sini belajar bagaimana cara mengatasi ketika gempa itu terjadi. Jadi mereka punya kesiapsiagaan untuk dirinya sendiri dan orang-orang di sekitarnya,” terang Miss Asty.

Miss Asty menjelaskan program edukasi dan simulasi bencana gempa adalah salah satu program yang dijalankan TK Bakti Mulya 400 bersama DMC Dompet Dhuafa. Praktik simulasi evakuasi mandiri dari bencana gempa ini selalu dievaluasi perkembangannya. Hal ini guna melacak sejauh mana anak-anak menyerap wawasan dan kapasitas tentang kesiapsiagaan bencana.

Miss Asty berharap apa yang telah terlaksana di TK Bakti Mulya 400 bisa diikuti juga oleh sekolah-sekolah lainnya. Sehingga, pengurangan risiko bencana bisa tercapai, khususnya di lingkungan sekolah.

Achmad Lukman, Kabag Mitigasi, dan Diklat Bencana DMC Dompet Dhuafa menjelaskan pembiasaan latihan simulasi bencana untuk anak-anak usia dini punya pengaruh besar dalam pengurangan risiko bencana.

“Rutinnya melakukan simulasi untuk anak-anak akan melatih mindset dan menguatkan kapasitas mereka menghadapi bencana. Ketika kedaruratan terjadi mereka sudah tahu apa yang harus dilakukan. Ketika mindset kesiapsiagaan sudah terbentuk, anak-anak tidak lagi panik, mereka bisa keluar dari kondisi darurat bencana dengan selamat,” ujar Achmad Lukman. (M.Afriza Adha/DMC Dompet Dhuafa)