?>

Peringati Hari Keadilan Ekologis 2026, DMC Manifestasikan Bersama Penghijauan Alam Awang Bangkal Timur, Kalsel

(Foto: Juli Haryadi/DMC Dompet Dhuafa)

Kalimantan Selatan–Sepanjang tahun 2026, berbagai bencana alam yang terjadi di Indonesia menyisakan kepiluan mendalam bagi jutaan pasang mata yang menyaksikannya, khususnya bagi mereka yang terdampak. Bencana ini pun tidak hanya mengancam ruang hidup manusia melainkan juga keberlangsungan hidup satwa, seperti orangutan di Kalimantan.

Dalam berbagai informasi yang beredar di media sosial, tampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang masif terjadi di beberapa titik di Provinsi Kalimantan, menimbulkan sejumlah dampak yang secara langsung dirasakan masyarakat maupun satwa yang hidup di dalamnya. 

Dampak tersebut di antaranya, semakin berkurangnya kawasan hutan sebagai daerah resapan air dan habitat satwa, udara yang tercemar, serta kekeringan yang melanda masyarakat setempat.

Sebagaimana salah satunya yang terjadi di Desa Awang Bangkal Timur, Kecamatan Karang Intan, Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan. ID Humanity Dompet Dhuafa melalui Tim Lingkungan Disaster Management Center (DMC) Dompet Dhuafa menjajaki desa yang dikenal dengan keindahan bentangan alam tersebut, pada Kamis (17/09).

Dalam kesempatan ini, Ketua Masyarakat Peduli Api (MPA) Awang Bangkal Timur, Ahmad Guntur, menceritakan bagaimana desa ini mengalami kelangkaan air dan udara yang tercemar sebagai dampak yang secara langsung dirasakan masyarakat imbas dari karhutla.

“Adanya kebakaran ini membuat sumber mata air kami berkurang. Itu sudah jadi dampak yang paling utama kami rasakan. Karena sumur-sumur juga sudah pada kering akibat dari hutan kita yang kini berkurang karena kebakaran. Jadi serapan airnya habis.”

“Kepulan asap akibat kebakarannya juga sangat mengganggu aktivitas keseharian masyarakat, terutama anak-anak, sekolahnya mereka jadi terganggu juga,” ungkapnya.

Guntur juga menjelaskan, dengan keterbatasan air, ia bersama timnya, berjibaku ke sana kemari bergotong royong dalam membantu memadamkan kebakaran yang terjadi di beberapa desa lainnya.

“Di 2026 ini, selain memadamkan kebakaran di tempat kami, kami juga membantu kawan-kawan MPA lainnya dengan bergotong royong memadamkan kebakaran, seperti misalnya di Desa Kiram, Tahura, sampai Awang Bangkal Barat.” tuturnya.

Dalam penuturannya, Guntur mengungkapkan, hal ini juga berdampak pada lahan masyarakat yang menjadi sumber mata pencaharian mereka.  

“Selama ini kami sudah berupaya menjaga kelestarian alam bersama-sama mulai dari perangkat desa, MPA dan seluruh masyarakat. Banyak tanaman yang kami tanam bersama seperti durian, jengkol dan petai, yang dulunya menjadi salah satu sumber penghasilan kami, kini sudah habis terbakar. Tanaman itu sudah tidak tumbuh dan tidak menghasilkan lagi untuk kami ke depannya.” ucap dia.

Dengan kondisi tersebut, lantas Tim Lingkungan DMC pun melakukan asesmen wilayah di Desa Awang Bangkal Timur. Asesmen ini menjadi sebuah langkah manifestasi bersama untuk memulihkan lingkungan melalui penghijauan kembali yang akan dilakukan bersama masyarakat di lingkungan mereka yang saat ini kondisinya tampak hitam pekat usai terjadinya karhutla. 

Penghijauan yang akan digalakkan Tim Lingkungan DMC bersama masyarakat ini merupakan bagian dari program Sedekah Pohon Konservatif. Lewat program ini, DMC berupaya meningkatkan kesadaran masyarakat dan pemangku kepentingan tentang konservasi lingkungan dan pengurangan risiko bencana.

Selain itu, dalam asesmen ini juga Tim Lingkungan DMC memotret bagaimana pengelolaan hutan dan lahan yang tersentralisasi menuju tata kelola yang mengakui pengetahuan dan kuasa masyarakat penjaga alam. Sebab, dalam menanggulangi karhutla tidak hanya berhenti pada respon pemadaman, melainkan juga berlanjut pada penghijauan.

Dengan begitu, Program Sedekah Pohon Konservatif ini pun menjadi bagian dari respon keadilan ekologis yang dilakukan DMC untuk turut serta memperingati Hari Keadilan Ekologis pada 20 September 2026.

Ke depannya, kegiatan Sedekah Pohon Konservatif akan digelar dengan berkolaborasi bersama para pemuda yang tergabung dalam International Forestry Students’ Association Local Committee Universitas Lambung Mangkurat (IFSA LC ULM). 

IFSA LC ULM ini merupakan kelompok anak muda yang menggerakkan aksi Sekolah Mengajar di SMAN 2 Karang Intan, Kalimantan Selatan. Aksi mereka mencakup program edukatif dan kolaboratif di bidang kehutanan dan lingkungan seperti edukasi penanaman pohon sebagai bagian dari implementasi adiwiyata. 

Kolaborasi bersama IFSA LC ULM ini pun menjadi upaya DMC dalam melibatkan gerakan anak muda sebagai investasi hijau masa depan. Karena Bumi Cuma Satu, Berdaya Sekarang. (Juli Haryadi-Shinta Fitrotun N/ID Humanity Dompet Dhuafa).