?>

Buka Dapur Umum, Dompet Dhuafa dan AASI Sediakan Makanan Siap Saji untuk Pengungsi Gempa NTT

Manggarai, NTT–Ketika Mama Elizabeth berbincang-bincang malam itu, tiba-tiba tanah bergetar. Setidaknya ada dua kali getaran yang terjadi dalam waktu yang nyaris tak berjeda. Mama Elizabeth sontak berdiri dari kursi, kemudian berteriak memanggil anak-anak yang sedang berada di dalam rumah. 

“Cepatlah, keluar kalian. Ada gempa! Aduh, Tuhan!” 

Tidak hanya Mama Elizabeth, setiap orang di pengungsian Kedutu, Kelurahan Mata Air, terbakar kepanikan. 

Meski tidak ada dampak kerusakan akibat guncangan itu, tapi pengalaman mereka tentang gempa besar pada 15 Agustus lalu membuat lutut mereka lemas. 

“Mama ini trauma. Gempa sedikit saja bisa buat panik. Gempa pertama di Agustus itu bikin kita semua ketakutan,” ucap Mama Elizabeth.

Malam itu, Jumat (18/09/2026), gempa susulan kembali terjadi di wilayah Flores. BMKG mencatat kekuatan gempa, yang terjadi pada pukul 19:20:56 WIB, berkisar 4.7 Magnitudo dan berpusat di laut 46 km Utara Ruteng, Manggarai, dengan kedalaman 8 km. 

Setelah guncangan malam itu berlalu, Mama Elizabeth kembali duduk sembari mengatur napasnya yang keluar pendek-pendek karena panik. Tubuhnya masih sensitif. 

Cucu perempuannya yang berada di bawah kursi yang didudukinya tak sengaja menyenggol kaki kursi. Mama Elizabeth kembali terkejut, “Ya, Tuhan, Mama kira gempa lagi. Kau diam jangan banyak gerak-gerak dulu,” ucap Mama Elizabeth ke cucunya.

Orang-orang memanggilnya Mama Elizabeth. Perempuan berusia 55 tahun ini merupakan warga Kedutu, yang juga mendiami tenda pengungsian mandiri. Bersama warga dari pantai Tampode, Mama Elizabeth berbagi tempat tidur di bawah tenda terpal. Ia masih trauma tidur di dalam rumah. 

“Jangankan tinggal, masuk saja takut,” kata Mama Elizabeth.

Tenda pengungsian itu berdiri tepat di halaman rumahnya yang masih berdiri kokoh. Mama Elizabeth bilang bahwa ia dengan tangan terbuka mengizinkan warga Tampode mendirikan tenda di sana. 

“Saya ikhlas sekali. Kalau bisa mereka biar di sini saja. Boleh pulang ke bawah menengok rumah-rumah mereka, tapi balik lagi ke atas sini. Saya pun takut kalau sendiri,” cerita Mama Elizabeth. 

Malam itu cemas dan khawatir menyelimuti Mama Elizabeth. Meski begitu rasa harunya pada hari itu tak pernah terlupakan. Mama Elizabeth bersama para pengungsi lainnya kembali menyantap daging ayam setelah 30 hari sejak bencana hanya makan telur dan mie instan. 

“Senang sekali karena kami hari ini diizinkan untuk makan ayam goreng dan ayam kecap. Karena kami selama ini hanya makan telur, mie instan. Kadang juga hanya nasi putih kosong dikasih garam,” kata Mama Elizabeth. 

Hari itu, Jumat (18/09/2026), Disaster Management Center (DMC) Dompet Dhuafa bersama Asosiasi Asuransi Syariah Indonesia (AASI) membuka layanan dapur umum untuk pengungsi di Kedutu, Kelurahan Mata Air, Kecamatan Reok, Kabupaten Manggarai, NTT.

Ada sekitar 54 jiwa yang menetap di pengungsian mandiri Kedutu. Pasca-bencana, mereka hanya bisa memasak bahan makanan seadanya dari bantuan yang masuk sewaktu-waktu. Selama di pengungsian, mereka hanya mampu memberi makan anak-anak dengan telur dan mie instan. 

Jika mereka sudah kelu dengan santapan yang itu-itu saja, mereka mengumpulkan uang yang tersisa untuk membeli sedikit ikan di pasar. Namun, kata Farida, itu hanya sekali saja. 

“Setelah gempa baru kali ini kami makan ayam. Alhamdulillah, terima kasih Dompet Dhuafa. Terima kasih kepada donatur dan relawan sudah memberi bantuan kepada kami. Terima kasih juga sudah melihat kami di sini,” ucap Farida, pengungsi di Kedutu. 

Tidak hanya di pengungsian Kedutu, DMC Dompet Dhuafa juga menyalurkan makanan siap saji di pengungsian mandiri Malos dan Dosi Nanga, Desa Jembatan Besi, Kecamatan Reok, Kabupaten Manggarai.  

“Alhamdulillah terima kasih banyak. Senang sekali dorang kasih makan mama dorang yang tidak ada makan. Terima kasih Dompet Dhuafa,” ujar salah satu penerima manfaat dari Dapur Umum Dompet Dhuafa dan AASI. (Muhammad Afriza Adha/ID Humanity Dompet Dhuafa)