amp-web-push-widget button.amp-subscribe { display: inline-flex; align-items: center; border-radius: 5px; border: 0; box-sizing: border-box; margin: 0; padding: 10px 15px; cursor: pointer; outline: none; font-size: 15px; font-weight: 500; background: #4A90E2; margin-top: 7px; color: white; box-shadow: 0 1px 1px 0 rgba(0, 0, 0, 0.5); -webkit-tap-highlight-color: rgba(0, 0, 0, 0); } .amp-logo amp-img{width:190px} .amp-menu input{display:none;}.amp-menu li.menu-item-has-children ul{display:none;}.amp-menu li{position:relative;display:block;}.amp-menu > li a{display:block;} /* Inline styles */ div.acss138d7{clear:both;}div.acss5dc76{--relposth-columns:3;--relposth-columns_m:2;--relposth-columns_t:3;}div.acssae964{aspect-ratio:1/1;background:transparent no-repeat scroll 0% 0%;height:150px;max-width:150px;}div.acss6bdea{color:#333333;font-family:Arial;font-size:12px;height:75px;} .icon-widgets:before {content: "\e1bd";}.icon-search:before {content: "\e8b6";}.icon-shopping-cart:after {content: "\e8cc";}
Artikel

Mengapa Kemiskinan Sulit Dihapuskan

Kemiskinan merupakan salah satu masalah paling kompleks. Kemiskinan tidak hanya berkaitan dengan kekurangan pendapatan, tetapi juga tentang kapasitas, struktur sosial, dan kondisi historis yang menempatkan sebagian kelompok masyarakat dalam posisi yang sangat rentan.

Dalam Multidimensional Poverty Index (MPI) oleh Sabina Alkire dan Maria Emma Santos (2010), para peneliti semakin sepakat bahwa kemiskinan adalah kondisi penderitaan multidimensi yang mencakup rendahnya capaian kesehatan, pendidikan, akses layanan dasar, dan kemampuan ekonomi. Dengan demikian, memahami kemiskinan harus memperhatikan interaksi antara faktor individu, struktural, politik, dan lingkungan.

Penelitian-penelitian ekonomi pembangunan menunjukkan bahwa salah satu penyebab utama kemiskinan adalah rendahnya modal manusia. Pendidikan rendah dan kondisi kesehatan yang buruk terbukti menurunkan kemampuan seseorang untuk memperoleh pekerjaan produktif.

Studi Psacharopoulos & Patrinos (2018) mengenai returns to education menunjukkan bahwa setiap tambahan tahun sekolah, secara signifikan meningkatkan penghasilan seseorang, terutama di negara berkembang.

Ketika keluarga tidak mampu memberikan pendidikan dan pelayanan kesehatan yang memadai bagi anak-anak mereka, kondisi ini menciptakan apa yang disebut “transmisi kemiskinan antar-generasi”—suatu siklus di mana kemiskinan diwariskan, bukan sekadar dialami sementara.

Bai dan kawan-kawan (2021), dalam studi yang dilakukannya di wilayah pedesaan China, membuktikan bahwa investasi pendidikan rendah pada masa kanak-kanak secara langsung menurunkan pendapatan ketika anak tersebut memasuki usia dewasa.

Selain modal manusia, struktur dan dinamika pasar tenaga kerja menjadi faktor yang tidak kalah penting. Negara yang tumbuh tanpa penciptaan pekerjaan berkualitas (jobless growth) cenderung mengalami peningkatan tingkat kemiskinan.

Pertumbuhan ekonomi tidak otomatis menetes ke bawah (trickle down) jika mayoritas lapangan kerja yang tersedia bersifat informal, tidak terlindungi, dan menawarkan upah rendah.

Fenomena ini terlihat di berbagai negara berkembang, di mana peningkatan PDB tidak diikuti peningkatan kesejahteraan kelas pekerja. Ketika pertumbuhan tidak inklusif, maka masyarakat rentan tetap terperangkap pada pekerjaan yang tidak memungkinkan peningkatan kelas sosial.

Faktor struktural juga memainkan peran penting dalam memproduksi dan mereproduksi kemiskinan. Halkos & Aslanidis (2023), dalam analisis sistematis mengenai penyebab kemiskinan dan ketimpangan global, menunjukkan bahwa distribusi aset yang timpang—terutama tanah, modal finansial, dan kesempatan pasar—menjadi akar struktural dari kemiskinan kronis.

Ketimpangan bukan sekadar ketidaksamaan pendapatan, tetapi ketidaksetaraan dalam peluang untuk mengakses sumber daya.

Di banyak negara, keluarga kaya memiliki kemampuan untuk berinvestasi dalam pendidikan, memperoleh kredit murah, dan mengembangkan usaha, sementara kelompok miskin terkunci dalam “perangkap likuiditas”: tidak dapat meminjam karena dianggap berisiko, dan tidak dapat meningkatkan pendapatan karena tidak memiliki modal awal.

Penelitian Fofack (2002) dari Bank Dunia menegaskan bahwa hambatan struktural seperti ini membuat kemiskinan bersifat persisten meski telah ada intervensi ekonomi.

Kemiskinan juga dipengaruhi oleh kejutan eksternal (shocks) seperti penurunan kondisi kesehatan, PHK massal, krisis ekonomi, hingga bencana alam. Rumah tangga miskin biasanya terpapar risiko lebih tinggi karena tidak memiliki tabungan, asuransi, ataupun jaring pengaman sosial yang memadai.

Studi Heltberg dan Bonch-Osmolovskiy (2011) mengenai kerentanan menghadapi climate shocks menunjukkan bahwa keluarga miskin dapat kehilangan seluruh aset produktif mereka hanya akibat satu bencana lingkungan.

Hal ini sejalan dengan analisis World Bank (2020) yang mencatat bahwa pandemi COVID-19 mendorong lebih dari 70 juta orang kembali jatuh miskin karena ketiadaan cadangan ekonomi rumah tangga. Kerentanan terhadap shock inilah yang membuat kemiskinan bersifat turun-naik (churning), bukan kondisi statis.

Jaringan sosial dan modal sosial juga merupakan variabel penting yang kian diperhatikan dalam isu kemiskinan. Kaewhanam dan kawan-kawan (2025), melalui penelitian empiris di Asia Tenggara, menemukan bahwa rumah tangga yang memiliki jaringan komunitas kuat cenderung lebih tahan terhadap kemiskinan mendadak karena mendapat dukungan informal dari lingkungan.

Namun efek ini tidak selalu cukup untuk mengangkat rumah tangga dari kemiskinan kronis. Modal sosial dapat berperan sebagai penahan sementara, tetapi tanpa intervensi struktural—misalnya kebijakan kerja, pendidikan, dan akses keuangan—modal sosial tidak mampu menggantikan peran negara dalam pengentasan kemiskinan.

Terdapat pula faktor diskriminatif yang bersifat non-ekonomi, seperti gender, etnisitas, atau status sosial. Penelitian Duflo (2012) dalam bidang ekonomi gender menunjukkan bahwa perempuan di banyak negara masih menghadapi hambatan akses kepemilikan aset, kredit, dan pekerjaan formal.

Diskriminasi semacam ini meningkatkan probabilitas kemiskinan pada kelompok tertentu dan memperkuat ketimpangan antar kelompok sosial. Di beberapa wilayah, minoritas etnis terjebak dalam kondisi marginalisasi pendidikan dan pasar kerja yang membuat mereka miskin bukan karena kurang kompeten, tetapi karena tersisih dari sistem.

Jika dikaitkan satu sama lain, semua faktor tersebut membentuk mekanisme kumulatif yang dikenal sebagai poverty trap—suatu kondisi ketika deprivasi pada satu aspek memperburuk aspek lainnya.

Anak yang lahir dari keluarga miskin berisiko mengalami kekurangan gizi, tidak masuk sekolah berkualitas, tinggal di lingkungan berbahaya, mengalami kesehatan mental yang buruk, dan akhirnya memperoleh pekerjaan berupah rendah.

Studi Barrett & Carter (2013) menyebut perangkap semacam ini bersifat self-reinforcing, artinya kemiskinan cenderung mempertahankan dirinya sendiri tanpa intervensi besar dari luar. Inilah mengapa banyak negara membutuhkan kebijakan jangka panjang, bukan sekadar bantuan satu kali.

Program perlindungan sosial seperti conditional cash transfer terbukti efektif meningkatkan konsumsi jangka pendek sekaligus meningkatkan pendidikan dan kesehatan anak—sebagaimana terlihat dari studi Fiszbein & Schady (2009). Intervensi pendidikan dini, reformasi pasar tenaga kerja, penyediaan kredit produktif yang terjangkau, serta kebijakan redistributif yang menurunkan ketimpangan terbukti memberikan hasil jangka panjang dalam memutus rantai kemiskinan.

Namun para peneliti sepakat bahwa tidak ada satu kebijakan ajaib. Upaya pengentasan kemiskinan membutuhkan kombinasi kebijakan yang konsisten, jangka panjang, dan sensitif terhadap konteks lokal.

Pada akhirnya, kemiskinan adalah fenomena multidimensi yang dibentuk oleh interaksi kompleks antara modal manusia, struktur ekonomi, distribusi kekuasaan, ketimpangan, risiko eksternal, serta jaringan sosial.

Ia tidak dapat dijelaskan oleh kemalasan atau kurangnya usaha individu, sebagaimana sering disederhanakan dalam diskursus publik. Studi ilmiah justru menunjukkan bahwa kemiskinan merupakan konsekuensi dari keterbatasan kesempatan, ketidakadilan struktural, dan kerentanan yang terus berulang.

Memahami penyebab-penyebab ini secara mendalam merupakan langkah penting untuk merancang kebijakan yang benar-benar mampu mengangkat manusia keluar dari siklus kemiskinan secara berkelanjutan.

ID HUMANITY

Recent Posts

Dompet Dhuafa Silaturrahim Gubernur Aceh Muzakir Manaf, Perkuat Transparansi dan Kolaborasi

Banda Aceh, Aceh--Dompet Dhuafa melapor langsung kepada Gubernur Provinsi Aceh, Muzakir Manaf (Mualem) terkait kinerja…

5 days ago

Dompet Dhuafa Percepat Pembangunan Rumtara untuk Penyintas Bencana di Aceh

Pidie Jaya, Aceh—Dompet Dhuafa lakukan percepatan pembangunan Rumah Sementara (Rumtara) di Aceh untuk para penyintas…

7 days ago

Dompet Dhuafa Renovasi Polindes Guna Penunjang Akses Kesehatan Penyintas Banjir

Pidie Jaya, Aceh—Dompet Dhuafa renovasi fasilitas Pondok Bersalin Desa (Polindes) di Desa Meunasah Mancang, Kecamatan…

7 days ago

Dompet Dhuafa Gelar Rapat Koordinasi Tim Pemulihan Bencana Aceh

Banda Aceh, Aceh--Dompet Dhuafa gelar rapat koordinasi tim pemulihan bencana Aceh di Banda Aceh pada…

7 days ago

Perkuat Kolaborasi Pemulihan Aceh, Dompet Dhuafa Silaturrahim dengan Kemenag Aceh

Banda Aceh, Aceh--Dompet Dhuafa silaturrahim Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Aceh, Kota Banda Aceh pada…

7 days ago

Sekolah Terendam, Semangat Tak Padam: Bertahan dalam Asa Pendidikan

Pidie Jaya, Aceh -- "Setiap tahun selalu banjir, tetapi ini yang tertinggi. Semua barang-barang kami…

2 weeks ago