amp-web-push-widget button.amp-subscribe { display: inline-flex; align-items: center; border-radius: 5px; border: 0; box-sizing: border-box; margin: 0; padding: 10px 15px; cursor: pointer; outline: none; font-size: 15px; font-weight: 500; background: #4A90E2; margin-top: 7px; color: white; box-shadow: 0 1px 1px 0 rgba(0, 0, 0, 0.5); -webkit-tap-highlight-color: rgba(0, 0, 0, 0); } .amp-logo amp-img{width:190px} .amp-menu input{display:none;}.amp-menu li.menu-item-has-children ul{display:none;}.amp-menu li{position:relative;display:block;}.amp-menu > li a{display:block;} /* Inline styles */ div.acss138d7{clear:both;}div.acss5dc76{--relposth-columns:3;--relposth-columns_m:2;--relposth-columns_t:3;}div.acssae964{aspect-ratio:1/1;background:transparent no-repeat scroll 0% 0%;height:150px;max-width:150px;}div.acss6bdea{color:#333333;font-family:Arial;font-size:12px;height:75px;} .icon-widgets:before {content: "\e1bd";}.icon-search:before {content: "\e8b6";}.icon-shopping-cart:after {content: "\e8cc";}
Berita

Mustarim Usman: Saat Terjadi Gempa Bumi, Saya di Laut dan Keluarga di Darat

Mustarim Usman: Saya Sedang di Laut Saat Terjadi Gempa Bumi

Manggarai Timur, NTT—“Saat kejadian gempa, saya sedang melaut. Begitu pulang saya menangis melihat istri dan anak sudah tidak ada di rumah. Ternyata mereka sudah pergi melarikan diri ke arah pegunungan,” ujar Mustarim Usman salah satu penyintas Dusun Ronting membuka percakapan pada Rabu (19/08/2026).

Mustarim Usman merupakan warga asal Dusun Ronting, Desa Satarkampas, Kecamatan Lambaleda Utara, Kabupaten Manggarai Timur.

Beliau bercerita saat gempa terjadi, dia sedang berada di laut untuk bekerja. Pun dia juga sedikit merasakan getaran gempa saat di laut, hal ini diperkuat setelah ia kembali ke rumah, beberapa rumah ada yang hancur.

“Terasa sekali baik di laut dan daratan, kaya oleng,” lanjutnya.

“Sangat panik, karena posisinya saya sedang melaut,” imbuhnya.

Mustarim Usman: Saya Sedang di Laut Saat Terjadi Gempa Bumi

Awalnya dia khawatir ketika sampai di rumah, tidak ada siapapun keluarganya. Lalu dia mencari dan pergi mengelilingi perkampungannya dan mengetahui bahwa warga sudah evakuasi ke arah pegunungan. Di lokasi itu, dia bertemu kembali dengan istri dan ketiga anaknya.

Di sana dia mengetahui secara rinci kronologi keluarganya bisa pergi evakuasi dengan selamat.

Saat gempa terjadi, di rumah hanya ada istri dan ketiga anaknya. Di saat getaran terasa, sang istri sempat ketakutan dan menangis.

Mustarim Usman: Saya Sedang di Laut Saat Terjadi Gempa Bumi

Lalu serayanya orang tua, dia langsung mengajak anak-anaknya segera keluar dari rumah.Anak kedua seperti layaknya insting seorang kakak, langsung menggendong adiknya untuk keluar dari rumah.  

“Aku sayang adek aku. Sedih, karena di rumah hancur,” aku anak Mustarim.

Mustarim sedih karena rumahnya dalam kondisi hancur dan tidak layak huni. Terhitung beliau belum satu tahun menempati tempat tinggal itu. Namun naas rumahnya hancur dan tidak bisa ditinggali sementara waktu.

Mustarim Usman: Saya Sedang di Laut Saat Terjadi Gempa Bumi

“Saya sangat strees dan kecewa, saya belum sampai tinggal di rumah tidak sampai satu tahun belum ada beberapa bulan,” ucapnya.

Saat ini beliau tinggal di tenda pengungsian, kurang lebih ada 8 KK atau hampir setara 30 jiwa di dalam tenda tersebut.

Kekhawatiran beliau saat ini adalah persediaan makanan dan minuman. Beruntungnya semua masyarakat bergotong-royong dan saling membagikan persediaan makanan maupun lainnya.

Mustarim Usman: Saya Sedang di Laut Saat Terjadi Gempa Bumi

“Saya khawatir makanan dan minuman. Kami minta dari tenda, itu juga dari masyarakat sini. Minta air minum bersih, makanan, tolong bantu kami,” lanjutnya.

Mustarim merupakan salah satu penerima manfaat dari bantuan logistik yang dikirim melalui jalur laut oleh para donatur Dompet Dhuafa. Melalui uni Disaster Management Center (DMC) bantuan tersebut diangkut melalui kapal dan sampai di Desa Satarkampas.

Semoga Mustarim dan sekeluarga dalam kondisi sehat dan semoga semua kebutuhan penyintas dapat terpenuhi oleh semua pihak-pihak kebaikan. Cepat Pulih NTT. (Hasna Aghnia Mumtazah/ ID Humanity Dompet Dhuafa)

ID HUMANITY

Recent Posts

Berjibaku hingga Dini Hari, Tim DMC Dompet Dhuafa Padamkan Titik Api di Ogan Ilir

Ogan Ilir, Sumatra Selatan–Sukri menerangkan bahwa api muncul di ladang padi di Desa Ulak Sugeleng,…

15 hours ago

Rumah Aman Asap, Ikhtiar Menjaga Napas dan Harapan Warga di Tengah Karhutla

Palangka Raya, Kalimantan Tengah — Ketika kabut asap menyelimuti Palangka Raya, ancaman kebakaran hutan dan…

21 hours ago

Jangan Takut dengan Spanduk, Ia Bisa Jadi Kreasi Berkelanjutan

Jakarta—“Gue punya dosa bikin sampah, lalu apa yang bisa gue lakuin?” aku MG Pringgotono pada…

2 days ago

Kolaborasi Darling Dompet Dhuafa dan NYK Line Indonesia Hadirkan 900 Paket Sarapan Bergizi

Jakarta–Di balik gedung-gedung yang menjulang tinggi, terdengar langkah tangguh para pejuang rupiah yang berpacu dengan…

2 days ago

Kami Belum Pulih

Setiap kali pemulihan dikatakan, ada sisi yang belum terungkap yang kerap kali menciptakan jarak: kondisi…

6 days ago

Peringati Bulan PRB 2026, DMC Dompet Dhuafa DMC Dompet Dhuafa Edukasi Santri tentang Kesiapsiagaan Bencana

Serang, Banten—Disaster Management Center (DMC) Dompet Dhuafa menggelar sosialisasi dan edukasi Sekolah Siaga Bencana di…

7 days ago