
Bogor–Tiga hari jelang peringatan Kemerdekaan Indonesia, aksi kepahlawanan muncul di Jalan Layungsari IV, Kelurahan Empang, Kecamatan Bogor Selatan, Kota Bogor, Jawa Barat.
Seorang ibu rumah tangga, Novianti (44), meninggal dunia setelah menerobos kobaran api yang membakar kediamannya demi menyelamatkan keluarganya, pada Jumat (14/8/2026).
Peristiwa nahas tersebut bermula saat api menyala dan dengan cepat membesar dari bagian kamar depan rumah. Mengetahui kediamannya dilalap si jago merah, Novianti sigap mengevakuasi ibunya, Suhartati (74), yang saat itu sedang terbaring sakit sebab kanker otak yang diidapnya.
Usai mengamankan sang ibu ke lokasi lebih aman, Novianti tanpa ragu kembali masuk ke dalam bangunan yang kian pekat oleh asap dan kobaran api demi menyelamatkan putri bungsunya, Davira (6).
Nasib malang tak dapat ditolak. Di dalam rumah itu, Novianti jatuh terjerembab. Ia terperangkap di dalam ruangan dan ditemukan gugur di lokasi kejadian.
Kendati demikian, Davira berhasil selamat dari kepungan api, bersama kakaknya, Daffi, serta sang nenek.
Sekretaris Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Kota Bogor, Teofilo Patrocinio Freitas, membenarkan adanya korban jiwa dalam musibah ini. Kerugian materiil diperkirakan mencapai Rp300 juta.

Kejadian yang menimpa almarhumah dan duka yang mengerubungi keluarga yang ditinggalkan memantik rasa kemanusiaan yang mengetahuinya, Lembaga Pelayan Masyarakat (LPM) Dompet Dhuafa termasuk salah satunya.
Pada 17 Agustus 2026, di Hari Kemerdekaan Republik Indonesia, Layanan Mustahik LPM Dompet Dhuafa menyalurkan bantuan berupa uang tunai untuk keluarga almarhumah. Bantuan tersebut merupakan donasi dari donatur Dompet Dhuafa.

Rifky Renaldi, koordinator Layanan Mustahik LPM Dompet Dhuafa turut prihatin dengan tragedi yang meninggalkan duka mendalam sekaligus beban berat bagi keluarga yang ditinggalkan. “Novianti adalah single parent yang membesarkan anak-anaknya seorang diri setelah berpisah dari sang suami.”
Saat ini, kedua anak almarhumah—Daffi (kelas 2 SMP) dan Davira (kelas 1 SD)—terancam tidak dapat melanjutkan aktivitas bersekolah dalam waktu dekat. Seluruh perlengkapan, buku, hingga seragam sekolah mereka ludes terbakar tanpa tersisa.
Keluarga korban kini membutuhkan bantuan darurat dan biaya kelanjutan pendidikan, khususnya seragam dan peralatan sekolah untuk kedua anak almarhumah, serta kebutuhan medis pendukung bagi sang nenek yang masih berjuang melawan sakit. (Cipto/ID Humanity)
