
Padarincang—Sembari menggambarkan semangat ibu-ibu saat menyampaikan keberataan terhadap proyek tersebut, Umi Eha menyatakan, Ia dan perempuan Padarincang sama sekali tidak gentar dalam perjuangan mereka.
“Kita enggak usah takut untuk ikut berjuang. Saya enggak akan takut. Justru kalau perempuan yang berjuang, mereka jadi enggak kasar sama kita. Karena kita (menyampaikan aspirasi) juga cuma pakai mulut jadi enggak ada main kekerasan,” ujar Umi penuh semangat.
Semangat Umi Eha menjaga alam Padarincang juga tergabung dalam gerakan Syarikat Perjuangan Rakyat (Sapar). Gerakan ini merupakan inisiasi masyarakat Padarincang yang terdiri dari koalisi rakyat, gerakan mahasiswa, serta tokoh masyarakat.
Umi Eha bilang, keberaniannya dalam berjuang tidak lain dilakukan untuk menjaga dan merawat alam sebagai amanat dari Sang Pencipta.
“Kita bertahan di sini untuk mempertahankan alam supaya alam di Padarincang ini tetap utuh. Dan tetap terjaga kelestariannya. Karena kita sudah bertekad, sudah niat karena Allah dan kita merasa diamanati Allah, dititipi untuk menjaga alam. Jadi apapun perjuangan kita dan siapapun yang menghalangi kita, kita tidak takut,” ucapnya.
Lebih lanjut, Ia juga menuturkan betapa jatuh bangunnya Ia dalam berjuang menghadapi banyak tekanan dari pihak-pihak terkait. Keberaniannya sempat menempatkan Umi Eha dalam malam-malam tidak tenang yang tak berkesudahan.
“Sebenarnya ada suka dukanya. Kita itu enggak mengenal hujan, enggak mengenal panas, enggak mengenal sakit. Pokoknya kalau misalkan alat berat datang, mau tidak mau kita siap turun. Ibu-ibu juga pada keluar bawa bayi, bawa pentungan. Tetapi kita tidak main kekerasan. Hanya untuk biar jera saja, padahal tidak mentung kita,” ujarnya sembari tertawa penuh haru. (Shinta FN/ ID Humanity Dompet Dhuafa)
