amp-web-push-widget button.amp-subscribe { display: inline-flex; align-items: center; border-radius: 5px; border: 0; box-sizing: border-box; margin: 0; padding: 10px 15px; cursor: pointer; outline: none; font-size: 15px; font-weight: 500; background: #4A90E2; margin-top: 7px; color: white; box-shadow: 0 1px 1px 0 rgba(0, 0, 0, 0.5); -webkit-tap-highlight-color: rgba(0, 0, 0, 0); } .amp-logo amp-img{width:190px} .amp-menu input{display:none;}.amp-menu li.menu-item-has-children ul{display:none;}.amp-menu li{position:relative;display:block;}.amp-menu > li a{display:block;} /* Inline styles */ div.acss138d7{clear:both;}div.acss5dc76{--relposth-columns:3;--relposth-columns_m:2;--relposth-columns_t:3;}div.acssae964{aspect-ratio:1/1;background:transparent no-repeat scroll 0% 0%;height:150px;max-width:150px;}div.acss6bdea{color:#333333;font-family:Arial;font-size:12px;height:75px;} .icon-widgets:before {content: "\e1bd";}.icon-search:before {content: "\e8b6";}.icon-shopping-cart:after {content: "\e8cc";}
Berita

Semangat Inklusivitas: Layanan Dompet Dhuafa Jangkau Pelosok Nagekeo

Nagekeo, NTT—“Kami sehari-hari di sini, lebih banyak dalam situasi waspada siaga begitu. Cuman kadang-kadang kalau gempanya sudah reda, kalau sebagai petani, mereka tetap di sawah, meninjau punya sawah, meninjau punya ternak. Tapi selalu kembali tinggal di sini karena jauh dari pantai,” ujar Suster Burga asal Kampung Adat Tulubadha, Desa Rendhu Tulubadha, Kecamatan Aesesa Selatan, Kabupaten Nagekeo.

Suster Burga kembali ke Kampung Adat Tulubadha setelah hidup 30 tahun lamanya, untuk memakamkan ayahnya yang telah berpulang. Beliau meninggalkan kampung ini dari tahun 1993 dan kembali di tahun 2026 untuk ayahnya dan diguncang gempa bumi.

“Tinggal selama 30 tahun di sini, tetapi setelah saya masuk tarekat suster ini, saya mulai 1993 sampai saat ini hidupnya di Jawa, tugas pelayanan di Jawa,” ungkapnya.

“Ini saya pulang karena orang tua saya meninggal, meninggal 6 Agustus,” lanjutnya.

“Tunggu situasi reda, baru kemudian saya kembali ke Malang (melanjutkan tugas kerohanian)”.

Kampung adat ini yang diilhami oleh warga yang ramah dan hangat lengkap dengan bangunan rumahnya yang tradisional terbuat dari kekayu pohon dan atap jerami atau alang-alang. Beberapa ritual juga masih dilestarikan di sini sebagai wujud identitas dan warisan leluhur nenek moyang.

Dengan posisi yang pelosok, Dompet Dhuafa hadir dengan memberi layanan Psychological First Aid (PFA) berupa permainan lomba, mendongeng, dan edukasi mitigasi bencana dari Disaster Management Center (DMC). Selain itu juga menghadirkan layanan medis dari Layanan Kesehatan Cuma-Cuma (LKC) pada Sabtu (29/08/2026).

“Kesan saya, kurang lebih sudah ada dua minggu di sini, saya merasa luar biasa, tanggap darurat, karena masyarakat di sini masih dibantu,” ungkap Suster Burga.

“Kadang warga menerima bantuan dalam bentuk sembako atau apa saja. Tapi hari ini luar biasa dari bagian medis yang membantu sehingga mereka-mereka ini kan juga termasuk hidup yang agak jauh dari kota atau kecamatan,” sambungnya.

“Jadi dengan pelayanan-pelayanan seperti ini itu merasa tersentuh: bisa merasakan layanan gratis. Ini harus bersyukur luar biasa ini petugas-petugas dari kota yang besar, provinsi datang. Kalau mereka meriksanya ke lab-lab itu (rumah sakit), biayanya mahal. Dalam situasi agak trauma, mereka dikunjungi itu kan memberi mereka kekuatan”.

Gempa mengguncang di NTT yang terjadi pada 15 Agustus 2026 lalu itu berdampak menyeluruh kepada semua: anak-anak, lansia, disabilitas hingga masyarakat adat. Beberapa dampaknya seperti psikis terganggu.

Dompet Dhuafa hadir membersamai masyarakat adat sebagai bentuk komitmen inklusivitas pelayanan kemanusiaan untuk semua.

Hal ini juga sejalan dengan pilar program penanganan gempa yang bernama Sarana untuk Pelayanan Kelompok Rentan (SUPER). Pilar ini menempatkan kelompok rentan sebagai prioritas pelayanan kemanusiaan Dompet Dhuafa.

Hingga kini DMC masih terus membersamai untuk percepatan pemulihan penyintas gempa di NTT.

Semoga masyarakat atau penyintas terdampak gempa bisa segera pulih dan mampu menata kembali masa depannya. (Arifian Fajar Putera/ ID Humanity Dompet Dhuafa)

ID HUMANITY

Recent Posts

Berjibaku hingga Dini Hari, Tim DMC Dompet Dhuafa Padamkan Titik Api di Ogan Ilir

Ogan Ilir, Sumatra Selatan–Sukri menerangkan bahwa api muncul di ladang padi di Desa Ulak Sugeleng,…

15 hours ago

Rumah Aman Asap, Ikhtiar Menjaga Napas dan Harapan Warga di Tengah Karhutla

Palangka Raya, Kalimantan Tengah — Ketika kabut asap menyelimuti Palangka Raya, ancaman kebakaran hutan dan…

22 hours ago

Jangan Takut dengan Spanduk, Ia Bisa Jadi Kreasi Berkelanjutan

Jakarta—“Gue punya dosa bikin sampah, lalu apa yang bisa gue lakuin?” aku MG Pringgotono pada…

2 days ago

Kolaborasi Darling Dompet Dhuafa dan NYK Line Indonesia Hadirkan 900 Paket Sarapan Bergizi

Jakarta–Di balik gedung-gedung yang menjulang tinggi, terdengar langkah tangguh para pejuang rupiah yang berpacu dengan…

2 days ago

Kami Belum Pulih

Setiap kali pemulihan dikatakan, ada sisi yang belum terungkap yang kerap kali menciptakan jarak: kondisi…

6 days ago

Peringati Bulan PRB 2026, DMC Dompet Dhuafa DMC Dompet Dhuafa Edukasi Santri tentang Kesiapsiagaan Bencana

Serang, Banten—Disaster Management Center (DMC) Dompet Dhuafa menggelar sosialisasi dan edukasi Sekolah Siaga Bencana di…

7 days ago