amp-web-push-widget button.amp-subscribe { display: inline-flex; align-items: center; border-radius: 5px; border: 0; box-sizing: border-box; margin: 0; padding: 10px 15px; cursor: pointer; outline: none; font-size: 15px; font-weight: 500; background: #4A90E2; margin-top: 7px; color: white; box-shadow: 0 1px 1px 0 rgba(0, 0, 0, 0.5); -webkit-tap-highlight-color: rgba(0, 0, 0, 0); } .amp-logo amp-img{width:190px} .amp-menu input{display:none;}.amp-menu li.menu-item-has-children ul{display:none;}.amp-menu li{position:relative;display:block;}.amp-menu > li a{display:block;} /* Inline styles */ div.acss138d7{clear:both;}div.acss5dc76{--relposth-columns:3;--relposth-columns_m:2;--relposth-columns_t:3;}div.acssae964{aspect-ratio:1/1;background:transparent no-repeat scroll 0% 0%;height:150px;max-width:150px;}div.acss6bdea{color:#333333;font-family:Arial;font-size:12px;height:75px;} .icon-widgets:before {content: "\e1bd";}.icon-search:before {content: "\e8b6";}.icon-shopping-cart:after {content: "\e8cc";}
Berita

Cerita Penyintas Gempa NTT: Bahagianya Bapak Abdul Terima Alat Bantu Jalan

Nagekeo, NTT—“Penyakitnya sudah dari 2021, pertama kesulitan buang air kecil sampai dirujuk ke Maumere, di sana dia dioperasi. Di Maumere dianjurkan ke Makassar untuk tindaklanjut. Ada sumbatan daging di badannya. Di Makassar perawatan sebulan baru operasi lagi,” ungkap Mama Fitria istri Bapak Abdul penyintas gempa bumi NTT pada Sabtu (29/08/2026).

Mama Fitria dan Bapak Abdul merupakan sepasang suami istri yang hidupnya bergantung pada kekayaan alam laut: teripang. Beliau memutuskan merantau ke Nagekeo dari Makassar semenjak tahun 2003. Selama 23 tahun mereka mengadu nasib dengan menjual teripang ke Maumere dan Makassar.

Namun kenyataan berkata lain, mulai dari tahun 2021 sang suami mengalami sakit yang mengharuskan dirinya dioperasi. Sampai harus merogoh kocek yang tidak sedikit untuk membeli obat: seharga Rp2 juta – Rp3 juta.

“Habis itu kami pulang (dari pengobatan di tahun 2021), dia kerja teripang lagi, sudah baikan saat itu. Sudah sehat, lalu pas perjalanan (mengantar teripang) makan dua udang, dari situ tidak bisa jalan lagi. Untungnya ada ponakan, sopir oto (kendaraan) baru dibawa ke dokter,” lanjut Mama Fitria.

“Kami sempat beli obat dari Jepang seharga Rp2 juta-Rp3 juta, itu dia minum dengan menghisap di bawah lidahnya. Baru bisa jalan,” sambungnya.

“Naik motor bahkan juga bisa,” tambah Bapak Abdul.

Kelumpuhan yang menimpa wilayah kakinya dimulai dari dua tahun lalu. Kejadian bermula saat hendak membawa istrinya menaiki perahu. Namun saat di perahu, Bapak berkali-kali jatuh yang menandakan bahwa kelumpuhan kembali ke kaki Bapak.

“Sekitar dua tahun mungkin. Sempet dikasih jatuh saya di feri (perahu), dia hendak jemput saya, saya bilang tidak usah karena kita lenggok-lenggok itu naik motornya. Pas naik tidak bisa, kita jatuh. Di situ terakhir sudah (berjalan),” aku Mamah Fitria.

“Sempat kontrol dua bulan. Kita juga capek bolak-balik, karena tidak bisa naik motor. Kita pakai coba charter oto , naik turun dari pagi sampai sore baru bisa pulang. Kita capek sudah. Terakhir di situ,” ungkap Mama Fitria.

Saat Bapak tidak bisa menjual teripang yang mereka beli dari nelayan, kali ini Mamah yang menggantikan peran Bapak untuk mencari nafkah. Beliau membeli teripang lalu mengirimkannya lewat orang lain.

“Kami penampung teripang, kami beli di pemancing, kami kirim ke Makassar, ke Maumere, namun tidak bisa lagi karena kondisi (bapak yang sakit). Saat bapak tidak bisa, saya beli teripang dan kirim saja lewat travel, bapak tidak bisa lagi, saya yang kerja,” sambung Mamah Fitria.

“Sempat kena tipu. Pembeli itu tidak bayar, dia bilang akan bayar ditransfer, tapi karena jaringan jelek jadi belum dibayar-bayar. Padahal tidak ada (jaringan jelek), sampai sekarang (tidak dibayar). Gara-gara itu tidak bisa berjualan teripang, hanya berjualan ikan sedikit-sedikit,” ujarnya mengingat.

“Teripang biasa dimasak untuk Coto. Saat sakit kami masih bisa jualan teripang, namun semenjak kena tipu, kami tidak ada modal, jadi jual ikan sedikit-sedikit. Kami tagih (penipu) itu nanti di akhirat,” tegasnya.

Sebelumnya Bapak Abdul dan Mama Fitria mendapatkan pelayanan medis dari Dompet Dhuafa bersama Dokter Rifki Amarullah atau yang biasa Dokter Iki (IG:dokbuckets).

Mamah Fitria juga bercerita saat gempa yang mengguncang NTT pada 15 Agustus 2026 dia harus menyeret bapak ke depan rumah untuk evakuasi.

Beliau berteriak, tapi tidak ada siapapun karena masyarakat sudah mengungsi. Air sudah masuk ke rumahnya yang terletak di depan pantai. Mereka pun sampai terjatuh di depan rumah mereka.

Tidak lama kemudian, ada tiga anak nelayan yang baru pulang melaut melihat mereka. Bapak digendok dan Mamah dipapah oleh nelayan ke lokasi yang lebih aman.

Setelah dari pelayanan itu, Dokter Iki dan Dompet Dhuafa melakukan kampanye Indonesia Siap Siaga untuk membantu penyintas gempa bumi NTT. Salah satu bantuan tersebut adalah bantuan alat bantu jalan (walker) dan sejumlah sembako.

Tim Dompet Dhuafa menyerahkan langsung bantuan tersebut ke Bapak Abdul dan Mamah Fitria. Kemudian Bapak mencoba menggunakan alat bantuan jalan dengan arahan tim Dompet Dhuafa.

“Terima kasih Dokter Iki atas bantuannya. Mudah-mudahan sehat selalu dan banyak rezekinya,”

Saat ini mereka tinggal di tenda pengungsian yang berada di Gereja Paroki Yesus Kerahiman Ilahi Aeramo, Kelurahan Aeramo, Kecamatan Aesesa, Kabupaten Nagekeo.

Dompet Dhuafa hadir membersamai masyarakat adat sebagai bentuk komitmen inklusivitas pelayanan kemanusiaan untuk semua.

Hal ini juga sejalan dengan pilar program penanganan gempa yang bernama Sarana untuk Pelayanan Kelompok Rentan (SUPER). Pilar ini menempatkan kelompok rentan sebagai prioritas pelayanan kemanusiaan Dompet Dhuafa.

Hingga kini DMC masih terus membersamai untuk percepatan pemulihan penyintas gempa di NTT.

Semoga masyarakat atau penyintas terdampak gempa bisa segera pulih dan mampu menata kembali masa depannya. (Arifian Fajar Putera/ ID Humanity Dompet Dhuafa)

ID HUMANITY

Recent Posts

Semangat Inklusivitas: Layanan Dompet Dhuafa Jangkau Pelosok Nagekeo

Nagekeo, NTT—“Kami sehari-hari di sini, lebih banyak dalam situasi waspada siaga begitu. Cuman kadang-kadang kalau…

13 hours ago

Layanan Medis Dompet Dhuafa Prioritaskan Kelompok Rentan

Nagekeo, NTT--"Pusing. Goyang. Lutut sakit," ucap Oma Hamsiah Pedhe salah seorang penyintas asal Desa Tonggu…

2 days ago

Mamah Emilia Telah Sembuh, Makin Semangat Bertani

Nagakeo, NTT -- "Kadang suka gatal selama di pengungsian," ujar Mamah Emilia salah seorang penyintas…

2 days ago

LPM Dompet Dhuafa Gelar Gebyar Inklusi Kemerdekaan RI, Jadi Pesan Kesetaraan Penyandang Disabilitas

Kota Bogor—Lembaga Pelayan Masyarakat (LPM) Dompet Dhuafa terus mendorong terciptanya ruang publik yang inklusif dan…

2 days ago

TPQ Ceria Pulihkan Semangat Anak-Anak Penyintas Gempa NTT

Sikka, NTT—Dompet Dhuafa memulihkan semangat anak-anak pasca gempa yang guncang NTT dengan TPQ Ceria. Puluhan…

3 days ago

Indonesia Darurat Bencana: ID Humanity Dompet Dhuafa Gandeng 20 Komunitas Respons Krisis Bencana

Tangerang Selatan–ID Humanity Dompet Dhuafa menggelar Temu Refleksi: Indonesia Darurat Bencana di Outlier Cafe Ciputat,…

4 days ago