Perjuangan Perempuan Jaga Alam Padarincang Bagian I

Padarincang—“Alam itu tempat kehidupan kita, anugerah dari Allah yang wajib kita jaga keutuhannya. Alam enggak butuh manusia, alam bisa hidup tanpa manusia. Tetapi manusia tidak akan bisa hidup tanpa alam. Kita semua butuh alam di hidup kita,” ucap Eha Suhaeni (Umi Eha), inisiator pejuang perempuan Padarincang, Banten dan pemimpin pondok pesantren.

Ungkapan itu diucapkan Umi Eha saat membagikan kisah perjuangannya dalam menjaga alam lingkungan di Padarincang kepada peserta Belajar Lapang Keadilan Iklim. Kegiatan itu berlangsung di kediamannya di Pondok Pesantren Furu Ar-Raudhatul Baqiyat, Padarincang, Kabupaten Serang, Banten.

Bersilaturahmi dengan Umi Eha merupakan rangkaian kegiatan Belajar Lapang Keadilan Iklim yang kedua usai pembekalan materi di hari sebelumnya. Kegiatan ini bagian dari program Lingkungan Disaster Management Center (DMC) Dompet Dhuafa.

Dengan bertajuk “Interaksi di Tapak, Bergerak untuk Keadilan”, kegiatan ini berlangsung selama empat hari, yakni pada Kamis (13/11) – Minggu(16/11). Para peserta belajar lapang diajak untuk mempelajari dan mengamati secara langsung berbagai dampak nyata yang diperjuangkan masyarakat lokal di lingkungan sekitar wilayah terdampak.

Dalam kesempatan itu, sebanyak 20 peserta mempelajari secara langsung bersama Umi Eha yang memimpin gerakan perempuan Padarincang.

Proyek pembangkit listrik tenaga panas bumi (PLTP) Rawa Danau ini merupakan proyek yang dikembangkan di Desa Batu Kuwung, Kecamatan Padarincang, Kabupaten Serang, Banten oleh salah satu perusahaan raksasa.

Proyek tersebut mendapat perhatian masyarakat Padarincang lantaran dinilai mampu merusak alam dan lingkungan di wilayah Padarincang. Sebagaimana dituturkan Umi Eha bahwa sejak proyek tersebut bergulir pada 2013, masyarakat mengaku merasakan dampak buruknya.

“Sebelum datang proyek tersebut, di sini tujuh bulan atau hampir satu tahun enggak hujan itu airnya tetap bagus. Kebutuhan air di sawah selalu terpenuhi. Tapi sekarang, tiga bulan aja enggak hujan, itu sawah kering,” ujar Umi. (Shinta FN/ ID Humanity Dompet Dhuafa)

Selanjutnya