
Nagakeo, NTT—“Sangat penting belajar tentang Al-Quran, karena selain untuk tahu baca Al-Quran, kedua untuk menanamkan rasa iman di dalam hati bahwa hidup ini untuk ibadah, bukan untuk senang-senang,” ujar Ustazah Widyastuti (40).
Ustazah Widya merupakan pengajar TPQ di Mushola Perepoje, Kelurahan Mbay II, Kecamatan Aesesa. Beliau termasuk pengajar TPQ yang bertahan lama, setelah beberapa kali pengajar mengaji yang lainnya silih berganti.

Ustazah Widya berasal dari Kampung Kolekapa, Kelurahan Mbay I, Kecamatan Aesesa.
Beliau mulai mengajar mengaji di TPQ ini dari Juli 2025. Alasan beliau mengajar mengaji untuk meningkatkan kemampuan membaca Al-Quran, tata cara sholat, dan rasa iman dalam hati kepada anak-anak.
Beliau juga dan beberapa kawan lainnya turut serta menghadirkan Majelis Taklim untuk ibu-ibu mualaf di wilayah Perepoje.

“Saya merasa prihatin dengan anak-anak yang di sini, begitu juga orang tua yang masih belum paham agama. Sehingga terketuk hati saya untuk membuka TPQ di sini. Kemudian saya juga membuka majelis taklim untuk ibu-ibu mualaf. Saya ingin mereka yang di sini tahu tentang bagaimana membaca tulis Al-Quran dengan baik,” ujarnya.
Salah satu tantangan dalam mengajar mengaji ialah minimnya peran orang tua dalam membimbing anak dalam mengimani nilai-nilai Al-Quran.


“Saya sudah membangun komunikasi dengan orang tua didik, saya bangun juga komunikasi dengan beberapa teman di sini. Ada juga grup Whatsapp-nya,” ujarnya.
“Tantangan mengaji, masih ada beberapa kurang dukungannya orang tua. Kedua anak itu masih belum (ditegaskan) untuk datang ke tempat mengaji,” sambungnya.
“Pernah datang sehari itu datang cuman dua anak. Sering juga tidak ada yang datang”.


Meski membutuhkan waktu sekitar 30 menit, Ustazah tetap semangat dalam mengajar anak-anak. Karena semua itu merupakan bentuk keikhlasan beliau dalam membimbing anak-anak menjadi pribadi yang baik dan luhur.
“Saya tulus dan ikhlas untuk membimbing mereka di sini,” pungkasnya.




Melihat hal itu, Disaster Management Center (DMC) Dompet Dhuafa bersama warga membangun TPQ Ceria dengan kerangka bambu yang kokoh dan penutup serta alas dari terpal berukuran 5 x 7.
Tujuan pembangunan TPQ Ceria darurat seperti ini untuk menghadirkan keamanan kegiatan belajar mengajar anak-anak dari ancaman gempa bumi.


Hal ini terdata oleh Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) pada Selasa (01/09/2026) pukul 05:00 WIB ada 10.747 gempa bumi susulan. Kenyataan ini menambah kekhawatiran bagi masyarakat akan ancaman bencana.
Sebelumnya kegiatan mengajar TPQ sempat diliburkan selama dua pekan. Menunggu kondisi lebih kondusif. Akhirnya per Senin (31/08/2026), kegiatan belajar mengaji dimulai kembali. Rencananya kegiatan TPQ akan dilaksanakan di bawah pohon yang sejuk dan aman. Demi menghindari ancaman gempa dan cuaca panas.
“Kemarin libur dua pekan sempat gelisah, karena sehari-hari mereka datang baca (Al-Quran) masih jatuh bangun, apalagi kalau (liburnya) sampai berhari-hari. Apapun itu, yang penting kita siap saja tenda di luar, apa adanya,” ungkapnya.
“Ketika hari ini saya datang, tawakal saja, mudah-mudahan (peserta didiknya) datang. Pokoknya kita niatnya baik saja ke sini, insyallah kalau ke sini anaknya berapa dapat, ya sudah itu saja. Alhamdulillah ternyata ada tenda TPQ di sini,” sambung Ustazah.
“Saya sangat merasa bahagia, merasa senang dengan bantuan seperti ini karena salah satunya meringankan kegiatan mengaji TPQ kami. Saya tahunya kalau di sini belum ada tenda, ternyata sudah ada tenda alhamdulillah. Tadinya rencana mau mengaji di bawah pohon. Yang penting aman”.

Hingga kini DMC masih terus membersamai untuk percepatan pemulihan penyintas gempa di NTT.
Semoga masyarakat atau penyintas terdampak gempa bisa segera pulih dan mampu menata kembali masa depannya. (Arifian Fajar Putera/ ID Humanity Dompet Dhuafa)
