amp-web-push-widget button.amp-subscribe { display: inline-flex; align-items: center; border-radius: 5px; border: 0; box-sizing: border-box; margin: 0; padding: 10px 15px; cursor: pointer; outline: none; font-size: 15px; font-weight: 500; background: #4A90E2; margin-top: 7px; color: white; box-shadow: 0 1px 1px 0 rgba(0, 0, 0, 0.5); -webkit-tap-highlight-color: rgba(0, 0, 0, 0); } .amp-logo amp-img{width:190px} .amp-menu input{display:none;}.amp-menu li.menu-item-has-children ul{display:none;}.amp-menu li{position:relative;display:block;}.amp-menu > li a{display:block;} /* Inline styles */ img.acssa2c03{aspect-ratio:1.535796766743649;height:auto;max-width:665px;}img.acss1810e{aspect-ratio:1.3326226012793176;height:auto;max-width:625px;}img.acss94367{aspect-ratio:1.7806267806267806;height:auto;max-width:625px;}ol.acss5f246{list-style-type:upper-alpha;}img.acssb797e{aspect-ratio:1.3351063829787233;height:auto;max-width:502px;}div.acss138d7{clear:both;}div.acss5dc76{--relposth-columns:3;--relposth-columns_m:2;--relposth-columns_t:3;}div.acssae964{aspect-ratio:1/1;background:transparent no-repeat scroll 0% 0%;height:150px;max-width:150px;}div.acss6bdea{color:#333333;font-family:Arial;font-size:12px;height:75px;} .icon-widgets:before {content: "\e1bd";}.icon-search:before {content: "\e8b6";}.icon-shopping-cart:after {content: "\e8cc";}
Solo, Jawa Tengah–Kondisi kegawatdaruratan dan bencana dapat terjadi kapan saja dan di mana saja tanpa peringatan. Dalam momen yang krusial tersebut, setiap detik sangatlah berharga dan menjadi penentu hidup atau matinya seseorang.
Korban bencana atau kecelakaan sering kali mengalami berbagai jenis cedera dan gangguan kesehatan yang mengancam jiwa.
Oleh karena itu, penanganan yang cepat, tepat, dan sesuai prosedur pada fase awal (golden hour) menjadi faktor paling krusial untuk mencegah pemburukan kondisi korban sebelum mereka mendapatkan penanganan medis lebih lanjut di rumah sakit.
Guna menjawab tantangan tersebut, penguasaan kemampuan Search and Rescue (SAR) yang dipadukan dengan keterampilan Medical First Responder (MFR) menjadi sebuah urgensi yang tidak dapat ditawar.
Melalui program pelatihan yang terstruktur, para peserta dibekali dengan kompetensi komprehensif, mulai dari aspek kognitif hingga keterampilan teknis di lapangan.
Pilar Utama Keterampilan SAR dan MFR
Dalam pelatihan ini, peserta ditempa untuk menguasai lima aspek vital penyelamatan, antara lain:
Penilaian Awal Korban (Initial Assessment): Kemampuan mendeteksi dan menilai kondisi korban sejak detik pertama, serta mengenali tanda-tanda fatal yang membutuhkan pertolongan medis segera.
Bantuan Hidup Dasar (BHD) dan Resusitasi Jantung Paru (RJP): Keterampilan inti penyelamatan nyawa yang tidak hanya membutuhkan pemahaman teori, melainkan latihan fisik secara berkala agar peserta dapat bertindak secara refleks dan benar dalam situasi kritis.
Penanganan Cedera Spesifik: Tata cara penanggulangan berbagai jenis cedera akibat trauma, termasuk penanganan cedera jaringan lunak dan penghentian perdarahan.
Terapi dan Penggunaan Oksigen: Prosedur pemberian bantuan oksigen secara tepat guna mendukung fungsi pernapasan korban sesuai dengan indikasi klinisnya.
Evakuasi dan Pemindahan Korban: Teknik memindahkan atau memobilisasi korban dari lokasi bahaya ke tempat aman secara ergonomis demi mencegah risiko cedera sekunder.
Metode Evaluasi: Mengukur Presisi Kompetensi Peserta
Keberhasilan sebuah pelatihan tidak hanya diukur dari tersampaikannya materi, melainkan dari sejauh mana kompetensi tersebut melekat pada setiap individu. Oleh karena itu, sebuah penelitian evaluasi strategis diterapkan secara ketat menggunakan tiga instrumen utama :
Melalui integrasi ketiga metode evaluasi ini, manajemen pelatihan dapat secara presisi mendeteksi aspek mana saja yang telah dikuasai dengan matang oleh peserta, sekaligus mengidentifikasi celah atau kelemahan yang masih memerlukan peningkatan.
Pada akhirnya, sistem evaluasi ini menjamin bahwa setiap personel SAR dan MFR yang diterjunkan ke lapangan adalah individu yang benar-benar siap, kompeten, dan mampu memberikan peluang hidup terbaik bagi para korban bencana.
Menghadapi situasi yang mengancam nyawa seperti ini, keberanian saja tentu tidak cukup. Dibutuhkan keterampilan, ketenangan, kemampuan mengambil keputusan yang cepat, serta kesiapan mental untuk langsung bertindak.
Di sinilah pentingnya sebuah pelatihan rescue yang terstruktur dan matang. Pada 18–20 September 2026, Dompet Dhuafa mengadakan kegiatan pelatihan rescue yang bertujuan untuk meningkatkan kapasitas dan kesiapsiagaan para peserta.
Melalui pendekatan ini, kapasitas peserta yang merupakan perwakilan relawan aktif ID Humanity dari seluruh wilayah regional Jawa dapat diperkuat secara signifikan.
Para peserta berasal dari berbagai wilayah, meliputi Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur.
Hasil akhirnya diharapkan dapat membentuk responder tangguh yang memiliki kemampuan dasar kuat dalam penanganan kegawatdaruratan, sekaligus menjadi motor penggerak untuk mendukung respons kemanusiaan ID Humanity di berbagai wilayah.
Ketika simulasi bertemu dengan kenyataan, pelatihan berfungsi sebagai ruang yang relatif aman untuk melakukan kesalahan dan belajar darinya.
Di ruang kelas dan arena simulasi, para peserta tidak hanya memahami konsep dasar MFR, tetapi juga mendapatkan kesempatan untuk mempraktikkan secara langsung prosedur pertolongan pertama pada korban serta melakukan penilaian keamanan lokasi (safety assessment). Namun, kondisi lapangan yang sesungguhnya kerap kali tidak mengikuti skenario di atas kertas.
18 September 2026 menjadi awal pelaksanaan pelatihan yang membahas berbagai keterampilan dalam menghadapi kondisi darurat.
Salah satu materi yang diberikan adalah Medical First Responder (MFR), yaitu keterampilan dasar dalam memberikan pertolongan awal kepada korban sebelum mendapatkan penanganan medis lebih lanjut.
Medical First Responder (MFR)
Medical First Responder (MFR) adalah orang pertama yang memberikan pertolongan medis di lokasi kecelakaan sebelum ambulans atau dokter datang.
Dalam penanganan Medical First Responder (MFR), menyelamatkan jiwa bergantung pada kecepatan mengenali kondisi mengancam nyawa, koordinasi tim yang efektif, dan persiapan evakuasi yang aman.
Langkah awal wajib menerapkan prinsip 3A (Aman Diri, Aman Lingkungan, Aman Korban), dilanjutkan pemeriksaan cepat menggunakan protokol DRABC untuk menilai kesadaran (Response), memastikan jalan napas bersih (Airway), memeriksa fungsi pernapasan (Breathing), serta menghentikan pendarahan hebat (Circulation).
Jika ditemukan kondisi kritis, tim harus segera berkoordinasi mengaktifkan sistem bantuan medis darurat (Emergency Medical Services) dengan memberikan informasi yang mencakup detail lokasi, jenis bahaya, hingga jumlah korban.
Sebelum dievakuasi, kondisi korban wajib distabilkan melalui penanganan trauma yang tepat, seperti pemasangan cervical collar untuk dugaan cedera tulang belakang, pembidaian fraktur, dan pencegahan hipotermia.
Proses pemindahan harus menggunakan alat evakuasi yang aman, seperti Long Spine Board, dengan teknik pengangkatan yang menjaga seluruh tubuh korban tetap dalam satu garis lurus demi mencegah cedera sekunder.
Setelah praktik penilaian awal korban, kegiatan dilanjutkan dengan materi Bantuan Hidup Dasar (BHD) dan Resusitasi Jantung Paru (RJP).
BHD dan RJP: Keterampilan yang harus Dilatih
Bantuan Hidup Dasar (BHD) adalah tindakan pertolongan pertama darurat untuk menyelamatkan nyawa orang yang mengalami henti jantung atau henti napas sebelum bantuan medis profesional tiba.
Resustasi Jantung Paru (RJP) prosedur darurat untuk mengembalikan fungsi napas dan aliran darah pada seseorang yang mengalami henti jantung.
Prosedur penyelamatan darurat berdasarkan standar medis internasional dilakukan dengan memastikan keselamatan lokasi, menilai kesadaran dan napas korban, melakukan aktivasi bantuan, serta memberikan komunikasi efektif yang dilanjutkan dengan tindakan teknik RJP berkedalaman 5–6 cm berkecepatan 100–120 kali per menit serta penggunaan AED secara taktis hingga bantuan medis profesional mengambil alih.
Adapun cara mengenali dan menangani cedera dalam situasi darurat adalah:
Praktik Oksigen dalam Penanganan Korban
Dalam materi ini praktik penggunaan oksigen, peserta belajar memahami tujuan pemberian oksigen dan kondisi korban yang membutuhkannya. Peserta juga dikenalkan dengan jenis alat oksigen yang digunakan dalam pelatihan, kemudian mempraktikkan cara penggunaannya sesuai SOP. Selama praktik, peserta juga belajar memantau kondisi korban untuk memastikan tindakan yang diberikan tetap aman dan sesuai dengan prosedur.
Di dunia nyata, seorang responder akan dihadapkan pada realitas yang kacau seperti:
• Korban yang panik dan histeris.
• Perubahan cuaca ekstrem yang mendadak.
• Jalur komunikasi yang terputus atau terganggu.
• Peralatan medis yang tidak tersedia lengkap.
• Tekanan psikologis yang hebat pada anggota tim sendiri.
Oleh karena itu, keberhasilan pelatihan tidak boleh dinilai sekadar dari seberapa cepat peserta menyelesaikan simulasi.
Pelatihan yang baik adalah pelatihan yang mengajarkan cara berpikir. Proses yang intensif ini dibentuk agar setiap individu memahami alasan mendalam di balik setiap tindakan yang mereka ambil.
Tantangan terbesar seorang penyelamat sebenarnya bukan terletak pada saat pelatihan, melainkan setelah pelatihan itu selesai.
Keterampilan yang telah didapat harus terus dilatih, diasah, dan diperbarui agar tidak tumpul. Kesiapsiagaan tidak pernah berakhir hanya karena selembar sertifikat telah digenggam.
Pertanyaan terpenting yang harus selalu digaungkan oleh seorang relawan bukanlah “Saya pernah dilatih”, melainkan “Apakah saya masih siap ketika keadaan darurat benar-benar terjadi?”
Menjadi siap sebelum dibutuhkan adalah prinsip utama. Inti dari pelatihan rescue bukanlah tentang mendapatkan sertifikat, kebanggaan memakai seragam, atau seberapa berat proses yang telah dilalui.
Nilai sebenarnya dari seorang penyelamat baru akan terlihat ketika mereka mampu berpikir jernih dan mengambil tindakan yang tepat di bawah tekanan situasi yang paling kritis sekalipun. (Sofiana Lahinta / Ade Uki Sumantri/ ID Humanity Dompet Dhuafa)
Nagekeo, NTT—Para siswa di SD Impress Waturedu, Kecamatan Aesesa, Kabupaten Nagekeo, yang tampak jemu menunggu…
Manggarai, NTT— Malam Minggu (19/9/2026) di Pos Pengungsian Malos, Kelurahan Mata Air, Kecamatan Reok, Kabupaten…
Foto: Juli Haryadi/DMC Dompet Dhuafa Kalimantan Selatan–Sepanjang tahun 2026, berbagai bencana alam yang terjadi di…
Manggarai, NTT–Ketika Mama Elizabeth berbincang-bincang malam itu, tiba-tiba tanah bergetar. Setidaknya ada dua kali getaran…
Manggarai, NTT—Momang dalam bahasa Manggarai memiliki makna yang luas, seperti senang, suka, cinta, kasih, hingga…
Kotim, Kalteng—Dompet Dhuafa ajak warga mengadakan shalat istisqa di lapangan Pondok Pesantren Sabilal Muhtadin, Kelurahan…