Mamah Emilia Telah Sembuh, Makin Semangat Bertani

Nagakeo, NTT — “Kadang suka gatal selama di pengungsian,” ujar Mamah Emilia salah seorang penyintas asal Desa Tonggu Rambang, Kecamatan Aesesa, Kabupaten Nagekeo.

Mamah Emilia seorang ibu yang menderita luka di bagian jempol kakinya. Dia bercerita memang luka itu sudah lama, sebelum gempa terjadi.

Selama ini penanganannya berupa konsumsi obat-obatan untuk mengurangi rasa sakitnya. Namun setelah tinggal di pengungsian, luka tersebut suka merasa gatal.

Alhamdulillahnya, rasa sakit ini tidak terlalu mengganggu aktivitas sehari-harinya sebagai petani garam.

Seusai konsul dengan tim medis Dompet Dhuafa, beliau mendapatkan penanganan untuk mengobati luka di jempol kakinya.

“Sekarang sudah lebih enakan, tidak sakit lagi. Ini lagi menunggu obat dan kasa (perban) dari dokter,”ucapnya.

Pada Jumat (28/08/2026) tim Layanan Kesehatan Cuma-Cuma (LKC) Dompet Dhuafa membuka layanan medis di Desa Tonggu Rambang karena banyaknya kelompok rentan yang mendiami pengungsian mandiri di sana.

Sebagian besar penyintas menderita ISPA karena faktor cuaca dan adaptasi pola hidup yang mengharuskan mereka tinggal di tenda.

Hal ini merupakan pilar program Sarana untuk Pelayanan Kelompok Rentan (SUPER) Dompet Dhuafa dalam aksi pemulihan penyintas gempa di NTT.

Melalui layanan medis, Mamah Emilia mendapatkan pengobatan untuk jempol kakinya yang sakit.

Layanan medis Dompet Dhuafa masih terus membuka layanan keliling ke titik-titik pengungsian gempa NTT.

Hingga kini Disaster Management Center (DMC) masih terus membersamai untuk percepatan pemulihan penyintas gempa di NTT.

Semoga masyarakat atau penyintas terdampak gempa bisa segera pulih dan mampu menata kembali masa depannya. (Arifian Fajar Putera/ ID Humanity Dompet Dhuafa)