amp-web-push-widget button.amp-subscribe { display: inline-flex; align-items: center; border-radius: 5px; border: 0; box-sizing: border-box; margin: 0; padding: 10px 15px; cursor: pointer; outline: none; font-size: 15px; font-weight: 500; background: #4A90E2; margin-top: 7px; color: white; box-shadow: 0 1px 1px 0 rgba(0, 0, 0, 0.5); -webkit-tap-highlight-color: rgba(0, 0, 0, 0); } .amp-logo amp-img{width:190px} .amp-menu input{display:none;}.amp-menu li.menu-item-has-children ul{display:none;}.amp-menu li{position:relative;display:block;}.amp-menu > li a{display:block;} /* Inline styles */ div.acss138d7{clear:both;}div.acss5dc76{--relposth-columns:3;--relposth-columns_m:2;--relposth-columns_t:3;}div.acssae964{aspect-ratio:1/1;background:transparent no-repeat scroll 0% 0%;height:150px;max-width:150px;}div.acss6bdea{color:#333333;font-family:Arial;font-size:12px;height:75px;} .icon-widgets:before {content: "\e1bd";}.icon-search:before {content: "\e8b6";}.icon-shopping-cart:after {content: "\e8cc";}
Artikel

Mengapa Harus Santri?

Setiap 22 Oktober, santri dikenang sebagai penjaga republik di masa revolusi. Tetapi konteks tahun ini adalah bisakah mereka menjadi penggerak dalam memberi solusi atas krisis yang lebih senyap, yakni kerusakan lingkungan?

Dilansir dari Tempo, Santri memiliki peran penting dalam memajukan dan memerdekakan bangsa serta negara.

Para pemuda Indonesia memanfaatkan momentum vacum of power dengan mendesak Soekarno dan Hatta memproklamasikan kemerdekaan pada 17 Agustus 1945. Beredar kabar sekutu yang diboncengi NICA (Belanda) mendarat di Surabaya pada 25 Oktober 1945.

Rencana pendaratan itu mendapat respons dari para ulama, termasuk Hasyim Asy’ari yang sempat mengeluarkan Fatwa Jihad (khusus umat Islam) pada 17 September 1945 dan 9 November 1945, sehari menjelang Pertempuran 10 November.

Pada 22 Oktober 1945, Hasyim Asyari, Ketua Nahdlatul Ulama saat itu mengeluarkan Resolusi Jihad untuk memerangi sekutu. Ini juga yang menjadi landasan 22 Oktober diperingati Hari Santri Nasional.

Sejarah Hari Santri Nasional ini berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 22 Tahun 2015 yang ditandatangani pada 15 Oktober 2015 di Masjid Istiqlal Jakarta.

Dengan rekam historis yang kuat, santri memiliki potensi yang besar dalam membentuk peradaban. Salah satu alasan santri layak dilibatkan adalah posisi sosial ulama, tempat mereka kelak berperan.

Survei Iklim Nasional Purpose dan Foreign Policy Community of Indonesia melibatkan 3.000 responden Muslim dan 100 tokoh agama Islam. Hasilnya, pemuka agama (22 persen) dinilai paling dipercaya dalam isu iklim, di atas aktivis lingkungan (19 persen), pemerintah nasional (11 persen), dan ilmuwan (9 persen).

Tiga catatan perlu diingat: pertama, 22 persen adalah angka terbanyak, bukan mayoritas; kedua, responden adalah umat Muslim, sehingga hasilnya tidak mewakili seluruh publik; ketiga, survei ini mengukur kepercayaan pada pemuka agama, bukan pada santri secara khusus.

Survei lain yang terbit di Nature Climate Change justru menempatkan ilmuwan sebagai sumber paling dipercaya, sementara teman dan tokoh agama berada di peringkat terendah.

Namun menurut paparan dalam riset kecil Muslims for Shared Action on Climate Impact (MOSAIC), kurang dari 2 persen dakwah di masjid menyentuh isu iklim.

Survei PPIM UIN Jakarta juga menemukan bahwa isu lingkungan dan perubahan iklim belum menjadi kekhawatiran utama umat Muslim Indonesia. Jadi kepercayaan sudah ada, tetapi pesannya belum banyak disampaikan.

Kepedulian, Tindakan dan Pengalaman yang Berjarak

Kollmuss & Agyeman (2002), dalam temuan mereka yang berjudul “Mind the Gap: Why Do People Act Environmentally and What Are the Barriers to Pro-Environmental Behavior?” menjelaskan mengapa kesadaran lingkungan tidak otomatis menjadi perilaku. Faktor penghambatnya pun beragam.

Nilai. Nilai-nilai berperan penting dalam membentuk sebagian besar motivasi intrinsik kita. Pertanyaan mengenai apa yang membentuk nilai-nilai kita merupakan persoalan yang kompleks.

Nilai-nilai seseorang paling banyak dipengaruhi oleh ‘mikrosistem’, yang terdiri dari lingkungan sosial terdekat seperti keluarga, tetangga, kelompok teman sebaya, dan sebagainya.

Nilai-nilai juga dipengaruhi, meskipun dalam tingkat yang lebih rendah oleh ‘eksosistem’, seperti media dan organisasi politik.

Pengaruh yang paling lemah, namun tetap penting, berasal dari ‘makrosistem’, yaitu konteks budaya tempat individu tersebut hidup.

Faktor Institusional. Banyak perilaku pro-lingkungan hanya dapat terwujud jika tersedia infrastruktur yang memadai (misalnya, fasilitas daur ulang atau layanan transportasi umum).

Semakin buruk kualitas layanan tersebut, semakin kecil kemungkinan masyarakat untuk memanfaatkannya.

Motivasi. Motif perilaku bisa bersifat terbuka atau tersembunyi, baik secara sadar maupun tidak sadar.

Biasanya, hambatan internal terhadap perilaku pro-lingkungan berupa motivasi non-lingkungan yang lebih kuat dan memiliki arah berbeda (misalnya: “saya akan mengendarai mobil ke tempat kerja karena saya lebih mengutamakan kenyamanan daripada tindakan yang ramah lingkungan”).

Dalam contoh ini, motif primer (nilai-nilai lingkungan) dikesampingkan oleh motif selektif (kenyamanan pribadi).

Lokus Kendali. Lokus kendali mewakili persepsi individu tentang apakah ia memiliki kemampuan untuk mewujudkan perubahan melalui perilakunya sendiri.

Orang-orang dengan lokus kendali internal yang kuat, percaya bahwa tindakan mereka dapat mewujudkan perubahan.

Sebaliknya, orang-orang dengan lokus kendali eksternal, merasa bahwa tindakan mereka tidak signifikan, dan merasa bahwa perubahan hanya dapat diwujudkan oleh orang lain yang berkuasa.

Beberapa pesantren telah menerapkan gaya hidup yang ramah lingkungan atau setidaknya menunjukkan terhadap lingkungan.

Di Pesantren Darunnajah Bogor misalnya, menunjukkan bahwa program Eco-Pesantren secara efektif menumbuhkan karakter santri yang peduli terhadap lingkungan melalui berbagai kegiatan, seperti pengelolaan sampah, praktik daur ulang, pertanian organik, pelatihan ekoliterasi, dan pengelolaan kebun pesantren.

Studi lain membahas Pondok Pesantren Malahayati, Bandar Lampung menunjukkan bahwa program eco-boarding school yang diterapkan terbukti efektif dalam meningkatkan kesadaran dan kepedulian siswa terhadap lingkungan.

Beberapa kegiatan utama dalam program ini meliputi pembuatan taman, lomba kebersihan antar-kelas, dan pemeliharaan akuarium di kamar siswa, yang secara langsung melibatkan siswa dalam menjaga kebersihan serta kelestarian alam.

Akan tetapi kita juga harus adil: sebagian besar berupa studi kasus tunggal atau program pengabdian masyarakat.

Hasil umumnya dilaporkan berupa peningkatan kesadaran, bukan perubahan perilaku yang diukur dalam jangka panjang. Dari sini, temuan di atas belum bisa menyimpulkan bahwa pesantren terbukti menutup jurang tadi.

Diukur Terbukti dan Bukan Sekadar Laporan

Dilansir dari portal laman Kemenag, Menteri Agama Nasaruddin Umar menetapkan tema Hari Santri tahun ini yaitu “Santri Menguatkan Negeri Menuju Indonesia Emas.” 

“Menguatkan Negeri” dimaknai dengan menghadirkan santri sebagai bagian dari solusi atas tantangan bangsa.

Dari pesantren, diharapkan lahir generasi yang tidak hanya memiliki kedalaman spiritual dan keluasan ilmu, tetapi juga berkarakter, produktif, kreatif, adaptif, serta mampu memberikan kontribusi di berbagai bidang. 

Sementara frasa “Menuju Indonesia Emas” menjadi orientasi bersama dalam mempersiapkan generasi yang akan menentukan wajah Indonesia pada 2045.

Kemenag menempatkan pesantren sebagai salah satu ruang penting dalam menyiapkan masa depan tersebut.

Dengan demikian, tema di atas akan lebih bermakna jika bisa terukur dengan cara: memasukan isu lingkungan ke dalam pengajaran dan dakwah (ekoteologi); penyediaan infrastuktur yang memadai; dan terakhir berikan bukti konkrit yang holistik.

Sebagai gambaran tentang besaran santri yang ada, berdasarkan data Education Management Information System (EMIS) Kementerian Agama, Jumlah santri di Indonesia pada semester ganjil tahun ajaran 2026/2027 yang diperbarui 13 Oktober 2026 terdapat 4,7 juta santri dari 339 ribu lembaga keagamaan pendidikan islam.

Kenyataan ini menunjukkan penurunan sebesar 40,23% jumlah santri pada tahun ajaran 2025/2025 yang mencapai 8 juta santri dan penurunan sebesar 0,35% jumlah lembaga yakni dari 341 ribu lembaga.

Data tersebut merupakan akumulasi santri yang terdaftar pada berbagai satuan pendidikan keagamaan Islam, meliputi Pondok Pesantren (Pontren), Program Kesetaraan pada Pondok Pesantren (PKPPS), Satuan Pendidikan Muadalah (SPM), Pendidikan Diniyah Formal (PDF), Madrasah Diniyah Takmiliyah (MDT), Lembaga Pendidikan Al-Qur’an (LPQ), serta Ma’had Aly.

Lima provinsi dengan pontren terbanyak adalah Jawa Barat (13.184 pontren), Jawa Timur (7.430 pontren), Banten (6.629 pontren), Jawa Tengah (5.378 pontren), dan Aceh (2.003 pontren).

Dengan banyaknya pontren yang berada di lima provinsi ini, bisa jadi modal utama, paling tidak dari segi sumber daya manusia, untuk menumbuhkan benih-benih perubahan.

Jadi, mengapa harus santri? Karena mereka memiliki sejarah mengubah keyakinan menjadi tindakan, lingkungan komunal yang membentuk kebiasaan, dan kelak jabatan yang dipercaya umat. Namun itu baru potensi. Yang dinantikan sekarang adalah bukti.

ID HUMANITY

Recent Posts

Prudential Syariah dan Dompet Dhuafa Santuni 180 Anak Yatim Piatu

Tangerang Selatan—Prudential Sharia Life Assurance dan Lembaga Pelayan Masyarakat (LPM) Dompet Dhuafa menyantuni 180 anak…

2 days ago

DMC Dompet Dhuafa Dorong Masjid Sebagai Pusat Ketahanan Iklim dan Bencana

Jakarta— Masjid tidak hanya menjadi tempat ibadah, tetapi juga memiliki sejarah panjang dan memiliki peran…

6 days ago

Diaspora Masyarakat Calgary Salurkan 20 Paket Bantuan untuk Penyintas Gempa NTT

Manggarai Barat, NTT —Kepedulian terhadap penyintas gempa Nusa Tenggara Timur terus hadir dari berbagai penjuru.…

1 week ago

Dompet Dhuafa Bangun Rumtara untuk Yohana, Penyintas yang Selamat dari Reruntuhan Rumah saat Gempa Bumi NTT

Nagekeo, NTT–Sembari merasa sedikit pusing, Yohana (36), yang baru saja bangun tidur mencoba beranjak keluar…

2 weeks ago

DMC Dompet Dhuafa Terus Berikhtiar Membersamai Penyintas Gempa NTT

Nagekeo, NTT–Disaster Management Center (DMC) Dompet Dhuafa melalui Dompet Dhuafa Nusa Tenggara Timur menyalurkan bantuan…

2 weeks ago

ID Humanity Dompet Dhuafa Latih Relawan Tangguh Kegawatdaruratan

Solo, Jawa Tengah--Kondisi kegawatdaruratan dan bencana dapat terjadi kapan saja dan di mana saja tanpa…

2 weeks ago