
Flores, NTT—Gempa Flores bukanlah gempa yang berhenti sekali. Bumi Flores belum berhenti bergerak bahkan hingga Senin sore (31/8/2026). Guncangan yang terakhir itu berarti merupakan kejadian yang ke 10.422 sejak gempa pertama terjadi pada 15 Agustus 2026 lalu.
Bergeraknya patahan Flores yang terjadi secara terus-menerus menyebabkan puluhan ribu warga kehilangan tempat tinggal.


Dan gempa susulan yang tak kunjung henti memaksa warga terdampak mengungsi hingga waktu yang belum bisa ditentukan.
Di tengah kondisi yang masih rentan ini, mengungsi menjadi satu-satunya pilihan bagi warga terdampak untuk tetap aman. Meski begitu, tidak ada yang tahu pasti kapan mereka bisa kembali ke rumah mereka dan beraktivitas seperti biasa sebelum gempa terjadi.

Kami berkesempatan bertemu Nur Hayati (47), salah satu pengungsi di Dusun Ronting. Ia mengaku bahkan belum terbayang apa yang akan ia lakukan setelah gempa benar-benar berhenti.
Ia masih menunggu di pengungsian sampai gempa betul-betul reda. Meskipun tidur di tenda tidak senyaman seperti di rumahnya dulu yang kini telah hancur.
“Tidak tahu lagi. Saya belum tahu ke depannya mau kemana,” kata Nur Hayati.
Selama mengungsi di suatu bukit di Dusun Ronting, Desa Satar Kampas, Kecamatan Lamba Leda Utara, Kabupaten Manggarai Timur, Nur Hayati sesekali turun ke bawah untuk menengok rumahnya.
“Setelah siangnya kita selesai masak di dapur umum, kita turun ke bawah untuk mandi di bawah. Setelah mandi saya duduk di balai-balai depan rumah kita. Melihat kondisi rumah keluar sendiri air mata,” ucap Nur Hayati.

Rumah Nur Hayati terdiri dari dua bagian. Depan rumah berdinding kayu, dan bagian belakang rumah yang diaturnya menjadi dapur dibangun dengan dinding seluruhnya tembok.
Saat gempa pertama terjadi bagian belakang rumah roboh. Kemudian gempa susulan yang kedua membuat rumah bagian depa ikut hancur.
Nur Hayati mengaku tidak tahu-menahu apa yang harus ia lakukan terhadap rumahnya yang hancur itu.
Untuk membangun ulang perlu biaya yang tidak sedikit. Sementara kapal kayu kecil milik sang suami yang bermata pencaharian sebagai nelayan juga ikut hancur lebur. Keadaan itu memaksa sang suami tidak lagi bisa bekerja.

“Kita tambal dulu pakai triplek. Atapnya kita tutup pakai triplek. Begitu dulu sementara. Biar tidur nyaman saja kalau kita kembali ke sana,” terang Nur Hayati.
Dari semua kondisi sulit yang ia terima akibat bencana gempa ini, ada satu hal yang ia syukuri, yaitu seluruh anggota keluarganya selamat.
“Kami punya keluarga tidak ada yang celaka. Kita satu kampung tidak ada yang meninggal. Alhamdulillah. Kita cepat keluar rumah saat gempa datang. Kita turun tapi balik naik ke bukit karena air laut sempat naik. Air sampai ke masjid di sana. Akhirnya saya dan keluarga di atas bukit dua hari,” tutur ibu empat anak ini.
Sudah dua minggu lebih, Nur Hayati dan keluarga serta seluruh warga Dusun Ronting menetap di pos pengungsian di atas bukit.
Di pos pengungsian itu Disaster Management Center (DMC) Dompet Dhuafa membantu mendampingi para penyintas bencana, khususnya penyintas yang masuk dalam kategori kelompok rentan: anak-anak, lansia, dan perempuan.
DMC Dompet Dhuafa membantu menyediakan kebutuhan dasar penyintas. Mulai dari persediaan makan dan minum lewat Pos Hangat dan pengelolaan dapur umum, masjid darurat, layanan kesehatan, hingga pemberian makanan tambahan untuk bayi dan balita.
Nur Hayati sendiri menjadi relawan di dapur umum Dompet Dhuafa. Ia memasak makanan sehari-hari untuk para penyintas di pengungsian.

Di tengah dinginnya udara yang menusuk tulang pada Senin malam itu, ia mendampingi anaknya yang paling kecil, Adnan, menonton film Jumbo di layar besar yang dipasang relawan DMC Dompet Dhuafa. Tampak sesekali ia menoleh ke anaknya dengan tatapan haru sambil mengusap lembut kepala si kecil.
“Bagaimana perasaan Ibu malam ini?”
“Perasaan saya tenang. Tapi tidak terasa keluar air mata ini,” tutup Nur Hayati. (Muhamad Afriza Adha – Juli Haryadi/ID Humanity Dompet Dhuafa)
