amp-web-push-widget button.amp-subscribe { display: inline-flex; align-items: center; border-radius: 5px; border: 0; box-sizing: border-box; margin: 0; padding: 10px 15px; cursor: pointer; outline: none; font-size: 15px; font-weight: 500; background: #4A90E2; margin-top: 7px; color: white; box-shadow: 0 1px 1px 0 rgba(0, 0, 0, 0.5); -webkit-tap-highlight-color: rgba(0, 0, 0, 0); } .amp-logo amp-img{width:190px} .amp-menu input{display:none;}.amp-menu li.menu-item-has-children ul{display:none;}.amp-menu li{position:relative;display:block;}.amp-menu > li a{display:block;} /* Inline styles */ div.acss138d7{clear:both;}div.acss5dc76{--relposth-columns:3;--relposth-columns_m:2;--relposth-columns_t:3;}div.acssae964{aspect-ratio:1/1;background:transparent no-repeat scroll 0% 0%;height:150px;max-width:150px;}div.acss6bdea{color:#333333;font-family:Arial;font-size:12px;height:75px;} .icon-widgets:before {content: "\e1bd";}.icon-search:before {content: "\e8b6";}.icon-shopping-cart:after {content: "\e8cc";}
Gunungkidul, DIY–Celana merah SD itu kian menyempit di tubuh Muhammad Kurniawan. Namun, langkahnya menyusuri lorong SMP Negeri 2 Saptosari tidak pernah surut. Hampir satu semester berlalu, siswa kelas 1 SMP itu belum juga mengenakan seragam putih biru.
Sang ayah, Suranto (50), merantau sebagai pedagang bakwan di Jepara, Jawa Tengah. Penghasilannya belum cukup untuk membeli seragam sekolah SMP di tengah kebutuhan harian yang mengimpit.
Kurniawan sendiri dibesarkan oleh neneknya, Dariyem (68), di Padukuhan Ngondel Wetan, Kalurahan Krambilsawit, Kapanewon Saptosari, Gunungkidul. Di usianya yang kian senja, Dariyem masih harus meladang demi mengumpulkan lembar rupiah sekadar menyambung makan.
Kondisi keluarga kian sulit setelah bantuan Program Indonesia Pintar (PIP) yang diterima Kurniawan sejak SD terhenti begitu ia masuk SMP. Akibatnya, ia terpaksa terus memakai seragam SD yang sudah sempit. Meski begitu, semangatnya untuk menuntut ilmu tidak surut.
Tim Pararespon Lembaga Pelayan Masyarakat (LPM) Dompet Dhuafa menyambangi kediaman Kurniawan untuk menyalurkan bantuan operasional pendidikan dan kebutuhan harian, pada Senin (2/11/2026).
“Alhamdulillah, ya, Allah, terima kasih kepada para donatur yang telah membantu keluarga kami. Semoga rezekinya berlipat ganda,” tutur Dariyem penuh haru.
Kepala LPM Dompet Dhuafa, Kamaludin, menegaskan bahwa pemenuhan hak pendidikan anak miskin tidak boleh terputus oleh kendala administratif.
“Kami salut atas keteguhan Kurniawan yang pantang malu demi bersekolah. Kami berharap integrasi bantuan sosial seperti PIP dapat segera diakses kembali agar perjuangan belajarnya tak terhenti di tengah jalan,” tutur Kamaludin.
Kini, langkah Kurniawan ke sekolah tak lagi dibayangi rasa canggung. Kisahnya menjadi pengingat bahwa cita-cita tak seharusnya padam hanya karena seragam yang belum berganti. Dengan uluran tangan bersama, Kurniawan dapat menatap hari esok dengan lebih yakin. (Rifky/ID Humanity Dompet Dhuafa)
Jakarta–Memasuki masa pemulihan pasca gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7 mengguncang Nusa Tenggara Timur (NTT) pada…
Jawa Timur–ID Humanity Dompet Dhuafa melalui Disaster Management Center (DMC) menggelar Sosialisasi Mitigasi Bencana Megathrust…
Ogan Ilir, Sumatra Selatan–Dompet Dhuafa melalui Disaster Management Center (DMC) Dompet Dhuafa mengaktivasi program Safe…
Lebak, Banten—Dalam rangka memperingati Bulan Pengurangan Risiko Bencana (PRB), Disaster Management Center (DMC) Dompet Dhuafa…
Jakarta—ID Humanity Dompet Dhuafa melalui Corps Dai Dompet Dhuafa (Cordofa) kembali menghadirkan layanan Dai Seribu…
Palembang, Sumsel--Setelah sekian lama kemarau, warga Kampung Serang, di pinggiran Kota Palembang, kembali merasakan hujan.…