amp-web-push-widget button.amp-subscribe { display: inline-flex; align-items: center; border-radius: 5px; border: 0; box-sizing: border-box; margin: 0; padding: 10px 15px; cursor: pointer; outline: none; font-size: 15px; font-weight: 500; background: #4A90E2; margin-top: 7px; color: white; box-shadow: 0 1px 1px 0 rgba(0, 0, 0, 0.5); -webkit-tap-highlight-color: rgba(0, 0, 0, 0); } .amp-logo amp-img{width:190px} .amp-menu input{display:none;}.amp-menu li.menu-item-has-children ul{display:none;}.amp-menu li{position:relative;display:block;}.amp-menu > li a{display:block;} /* Inline styles */ div.acss138d7{clear:both;}div.acss5dc76{--relposth-columns:3;--relposth-columns_m:2;--relposth-columns_t:3;}div.acssae964{aspect-ratio:1/1;background:transparent no-repeat scroll 0% 0%;height:150px;max-width:150px;}div.acss6bdea{color:#333333;font-family:Arial;font-size:12px;height:75px;} .icon-widgets:before {content: "\e1bd";}.icon-search:before {content: "\e8b6";}.icon-shopping-cart:after {content: "\e8cc";}
Lebak, Banten—Dalam rangka memperingati Bulan Pengurangan Risiko Bencana (PRB), Disaster Management Center (DMC) Dompet Dhuafa menggelar PRB Youth Ecosystem Stewardship (YES) yang berlangsung pada Kamis hingga Minggu (22-25/10/26). Kegiatan ini menjadi ruang bagi peserta untuk mempelajari secara langsung kearifan lokal masyarakat adat dalam upaya mitigasi bencana.
Bertempat di Kasepuhan Cisungsang, Lebak, Banten, kegiatan ini diikuti 68 peserta yang terdiri dari anak muda untuk menggali hubungan kearifan lokal yang dimiliki masyarakat adat Kasepuhan Cisungsang dengan lingkungan, ketangguhan masyarakat adat dalam beradaptasi dengan perubahan dan krisis iklim, hingga pengurangan risiko bencana.
Rangkaian kegiatan PRB YES diawali dengan pengenalan Pager Kolot dan masyarakat Kasepuhan. Peserta juga diajak untuk mengenal budaya lokal melalui pertunjukan seni masyarakat adat yakni Angklung Buhun.
Kemudian, peserta diberikan pemaparan materi melalui talkshow dan sharing session bersama akademisi, praktisi, komunitas serta lembaga. Materi yang dibahas di antaranya, pengurangan risiko bencana berbasis komunitas dan desa, adaptasi perubahan iklim dan anticipatory action, serta agama, kemanusiaan dan pelokalan.
Dalam sesi ini, pemateri pun melibatkan peserta untuk berdiskusi bersama tentang pentingnya keterlibatan anak muda dalam mempelajari dan mengimplementasikan PRB dari kearifan lokal masyarakat adat.
Pada hari berikutnya, peserta diajak untuk berinteraksi langsung dengan masyarakat adat untuk mengidentifikasi nilai, pengetahuan, serta praktik masyarakat adat dalam menjaga lingkungan. Sesi ini bertajuk Social Culture Analysis (SOCA), yang dalam pelaksanaannya, peserta dibagi menjadi tiga kelompok yang terdiri dari manajemen hutan, manajemen air, dan manajemen sosial.
Nurmalita Widyasari Putri, PIC PRB YES menyatakan, Sesi SOCA menjadi pembelajaran utama dalam kegiatan PRB YES. Lewat SOCA, para peserta diharapkan mampu memahami dan menindaklanjuti pembelajaran bersama masyarakat adat.
“Pembelajaran dalam sesi SOCA ini menjadi pembelajaran utama dalam kegiatan PRB YES, karena akan menjadi bahan untuk melakukan Climate Risk Assessment (CRA) sebagai tahap lanjutannya. Dengan CRA itu, diharapkan peserta bisa memahami keterkaitan antara kondisi lingkungan, perubahan yang terjadi, potensi ancaman, kerentanan, dampak, serta bentuk respons yang bisa dilakukan,” ujarnya.
Sementara itu, Kanaya Azkia (19), salah satu peserta menyatakan, rangkaian kegiatan PRB YES semakin membuka wawasannya terkait pengurangan risiko bencana berbasis kearifan lokal oleh masyarakat adat.
“Selama empat hari mengikuti PRB YES, banyak sekali wawasan baru yang saya dapatkan. Seperti misalnya dari sesi talkshow, itu menyadarkan saya kalau ternyata dalam ajaran agama Islam itu dari dulu sudah memperhatikan alam.”
“Selain itu saya juga terkesan dengan cara masyarakat adat Kasepuhan Cisungsang memitigasi bencana dengan benar-benar menjaga sungai. Karena potensi bencananya banjir, longsor dan gempa, mereka menjaga sungai dengan tidak membuang sampah di sungai dan menggunakan air secukupnya untuk kebutuhan sehari-hari. Begitupun dengan rumah adat kayunya, masyarakat jadi lebih aman jika terjadi gempa,” ungkanya.
Kang Nochi, Sekretaris Adat Kasepuhan Cisungsang menyatakan, masyarakat adat sangat menyambut baik kehadiran peserta PRB YES. Menurutnya, kehadiran anak muda yang turut mempelajari kearifan lokal sebagai upaya PRB bisa berdampak positif karena nilai-nilai tradisional masyarakat adat dapat semakin diketahui masyarakat luas.
“Saya melihat kedatangan anak muda, Gen Z, peserta dari DMC Dompet Dhuafa yang datang untuk belajar di sini ini trennya jadi positif. Karena ini membuktikan bahwa ketertarikan anak muda terhadap masyarakat adat membuat nilai-nilai tradisional soal mitigasi bencana dan menjaga lingkungan ini juga semakin diketahui masyarakat luas.”
“Dan ini juga baru pertama kalinya ada kegiatan di sini yang fokusnya dalam hal mitigasi bencana dan kelestarian lingkungan. Harapan saya, mudah-mudahan nilai-nilai tradisional di entitas masyarakat adat ini kemudian bisa disebarkan oleh anak muda sebagai agen perubahan yang mungkin nilai-nilai tradisionalnya bisa diteliti secara akademis bahwa masyarakat adat kita tidak kalah cerdas dalam hal mitigasi dan menjaga lingkungan tetap Lestari,” ungkapnya.
Dengan terlaksananya kegiatan PRB YES yang melibatkan anak muda, menjadi salah satu upaya DMC Dompet Dhuafa dalam mewujudkan masyarakat yang tangguh dalam menghadapi bencana dan krisis iklim. Karena Bumi Cuma Satu, Berdaya Sekarang. (Shinta FN/ID Humanity Dompet Dhuafa).
Jakarta—ID Humanity Dompet Dhuafa melalui Corps Dai Dompet Dhuafa (Cordofa) kembali menghadirkan layanan Dai Seribu…
Palembang, Sumsel--Setelah sekian lama kemarau, warga Kampung Serang, di pinggiran Kota Palembang, kembali merasakan hujan.…
Ogan Ilir, Sumatra Selatan–Sukri menerangkan bahwa api muncul di ladang padi di Desa Ulak Sugeleng,…
Palangka Raya, Kalimantan Tengah — Ketika kabut asap menyelimuti Palangka Raya, ancaman kebakaran hutan dan…
Jakarta—“Gue punya dosa bikin sampah, lalu apa yang bisa gue lakuin?” aku MG Pringgotono pada…
Jakarta–Di balik gedung-gedung yang menjulang tinggi, terdengar langkah tangguh para pejuang rupiah yang berpacu dengan…