
Depok–Mendampingi tumbuh kembang anak istimewa menjadi tantangan tersendiri bagi para orang tua maupun guru di sekolah. Namun, tantangan ini seringkali masih dihadapi dengan penanganan yang kurang tepat sehingga membuat proses belajar dan tumbuh kembang anak istimewa justru menjadi terhambat dan kurang maksimal.
Melihat hal tersebut, ID Humanity Dompet Dhuafa melalui Lembaga Pelayan Masyarakat (LPM) menggelar acara Capacity Building bagi para orang tua maupun guru pendamping anak istimewa dengan bertajuk “Seni Membersamai Anak Istimewa”. Berkolaborasi bersama Perkumpulan Penyandang Disabilitas Indonesia (PPDI) Kota Depok, acara ini digelar di Aula Perpustakaan Pemerintah Kota Depok, pada Sabtu (29/08).
Acara ini diikuti oleh sebanyak 60 peserta dan berlangsung dengan tiga sesi yang difokuskan untuk membekali para peserta agar dapat memahami metode Applied Behavior Analysis (ABA). Dengan metode tersebut, para orang tua maupun guru pendamping anak istimewa dapat menstimulasi kemandirian holistik anak, seperti memperkuat kecakapan sosial dan pengelolaan emosi anak.

“Kami ingin mengajak para pendamping atau caregiver untuk memahami cara membersamai anak istimewa dengan pendekatan perubahan perilaku anak. Kami juga memaparkan teknik shadow teacher untuk membantu caregiver agar bisa memberikan pembelajaran adaptif yang ramah anak. Dari sini, nantinya, caregiver bisa memahami potensi bakat anak dan bisa mengembangkan bakatnya,” ujar Priyanto Saputro, Koordinator program Disabilitas Mandiri LPM.
Selain itu, para peserta juga diajak untuk saling berbagi cerita pada Sesi Mindfulness dan Ruang Bercerita. Sesi tersebut menjadi sarana ruang aman bagi caregiver untuk melepas penat sekaligus memulihkan energi emosional sehingga dapat saling menguatkan satu sama lain.

Sementara itu, Dea, salah satu peserta acara, mengaku semakin bertambah pengetahuannya tentang cara memberikan pendampingan yang tepat bagi sang buah hati.
“Selama mengikuti acara ini banyak sekali cara-cara pendampingan yang tepat yang baru saya tahu. Karena selama ini saya mendampingi anak istimewa saya benar-benar otodidak saja. Ini sangat membantu saya untuk bisa memberikan pola pendampingan yang lebih baik lagi,” ujarnya.
Bagi Dea, acara ini sangat berarti untuknya, karena ia pun merasa mendapatkan dukungan untuk lebih bersemangat dalam mendampingi anak istimewanya.
“Alhamdulillah saya sangat senang dan berterima kasih dengan adanya acara ini. Karena di sini saya enggak hanya dapat ilmu baru, tapi saya juga jadi enggak merasa sendiri lagi dan membuat saya lebih semangat mendampingi anak istimewa saya,” ungkap Dea.

Dea yang sudah 19 tahun mendampingi anak istimewa ini juga menyatakan harapannya agar suatu saat ia bisa terbantu dalam menyalurkan bakat sang anak. “Saya berharap akan ada terus ilmu-ilmu baru karena saya benar-benar otodidak dalam mendampingi anak saya,” ungkapnya.
“Dan saya juga ingin bisa menyalurkan bakat anak istimewa saya, karena di Indonesia ini masih sulit untuk menyalurkan bakat mereka, karena biayanya juga tidak murah,” imbuhnya.
Seni Membersamai Anak Istimewa menjadi salah satu komitmen dari program Disabilitas Mandiri LPM dalam mendukung kemandirian penyandang disabilitas maupun kesejahteraan para pendampingnya. Komitmen ini juga diharapkan dapat menjadi salah satu upaya terwujudnya lingkungan inklusif yang berkelanjutan. Melayani Lebih Baik, Untuk Menumbuhkan Kebaikan. (Shinta FN/ID Humanity DD)
