amp-web-push-widget button.amp-subscribe { display: inline-flex; align-items: center; border-radius: 5px; border: 0; box-sizing: border-box; margin: 0; padding: 10px 15px; cursor: pointer; outline: none; font-size: 15px; font-weight: 500; background: #4A90E2; margin-top: 7px; color: white; box-shadow: 0 1px 1px 0 rgba(0, 0, 0, 0.5); -webkit-tap-highlight-color: rgba(0, 0, 0, 0); } .amp-logo amp-img{width:190px} .amp-menu input{display:none;}.amp-menu li.menu-item-has-children ul{display:none;}.amp-menu li{position:relative;display:block;}.amp-menu > li a{display:block;} /* Inline styles */ div.acss138d7{clear:both;}div.acss5dc76{--relposth-columns:3;--relposth-columns_m:2;--relposth-columns_t:3;}div.acssae964{aspect-ratio:1/1;background:transparent no-repeat scroll 0% 0%;height:150px;max-width:150px;}div.acss6bdea{color:#333333;font-family:Arial;font-size:12px;height:75px;} .icon-widgets:before {content: "\e1bd";}.icon-search:before {content: "\e8b6";}.icon-shopping-cart:after {content: "\e8cc";}
Berita

Air Bersih Mengangkat Kembali Harapan Sahdiamin

Tapanuli Tengah, Sumatera Utara—“Sudah satu minggu tidak masuk air,” ujar penerima manfaat Distribusi Air Bersih Sahdiamin.

Di Kelurahan Aek Tolang Induk, Kecamatan Tukka, Kabupaten Tapanuli Tengah, hidup Sahdiamin Tambunan—seorang ibu tua yang sedang berhadapan dengan kenyataan pahit, menjadi penyintas bencana.

Ketika banjir bandang menghantam wilayah mereka, bukan hanya rumah dan ladang padi yang terendam lumpur; hidup mereka pun seakan berhenti.

“Kondisi air itu seperti lumpur, kotor. Mandi pakai air hujan kalau datang hujan. Kalau nggak datang hujan, ya tidak mandi,” ucap Sahdiamin.

Menurutnya ada mata air terdekat yang biasa digunakan oleh orang sekitar. Namun air itu keruh, tidak layak digunakan walaupun banyak orang terpaksa mengantri menggunakan air tersebut. Di satu sisi, rasa takut, trauma dan kecemasan masih menghantui benak dan kaki Sahdiamin.

“Airnya dekat gunung itu. Tapi padat orang. Siang malam jam satu masih di situ orang mencuci. Seperti awak ini sudah tidak bisa, aku sudah tua. Kutahan lah (pergi ke sungai terdekat). Sampai sekarang air itu sungai keruh kali,”lanjutnya.

Selama hampir satu minggu, warga hanya bisa berharap pada hujan. Ketika hujan turun, mereka menampung air seadanya untuk sekadar mandi dan memasak.

Air pipa dari gunung yang selama ini menjadi nadi kehidupan mendadak berhenti total. Longsor memutus aliran. Lumpur tebal membuat akses jalan terbenam.

“Jalan pun tak bisa kita. Lumpur besar kali, lewat (setinggi) lutut. Mengangkat kaki pun tak bisa.”

Padi Sahdiamin yang hampir panen ikut rusak, hancur diterjang lumpur. Yang tersisa hanya beberapa batang yang masih berdiri, tak sebanding dengan usaha bertahun-tahun. “Sayang sekali, nak. Tapi mau bagaimana lagi…”

Malam hari, ketika suara hujan menemani sunyi malam, terdengar suara ketukan, datanglah rombongan kecil relawan membawa makanan. Sebuah mangkuk bubur kacang hijau menjadi tanda bahwa mereka belum benar-benar sendirian.

“Memang aku menerima itu. Kubilang terima kasih… tapi menangis aku menerimanya, nak. Sedih perasaan aku.”

Di malam lain, hampir pukul setengah 10, pintu rumahnya kembali diketuk. “Assalamualaikum, Bu… ada makanan.” Suara itu sederhana, namun bagi Sahdiamin, itu seperti Tuhan mengirimkan pengingat bahwa hidup masih layak dipertahankan.

Ketika mobil tangki air bersih 6000 liter akhirnya tiba di daerah mereka, wajah Sahdiamin tampak sedikit lega. Ia tak lagi harus menunggu hujan untuk mandi. Tidak lagi menadah air keruh yang seperti lumpur. Tidak lagi mengantre berjam-jam di mata air gunung yang juga terancam longsor.

“Bersyukur sebanyak-banyak sama Tuhan, tenaga anak-anak mengasihkan (membawa) air itu ke sini. Aku sudah tidak bisa mengangkat air dari sana, walaupun ada, tidak bisa menjunjung (mengangkat) kita,”

Air itu kembali membawa hidup: untuk memasak, mencuci, mandi, dan sekadar meredakan rasa takut yang selama ini tak terlihat.

Namun di balik syukurnya, ada doa yang berulang ia bisikkan pelan, namun penuh harap:

“Manalah yang terbaik, itulah yang kita minta sama Tuhan. Yang terbaiklah yang dikasih. Jangan lagi kalau boleh permintaan kami sama Tuhan, jangan lagi (bencana), cukuplah penderitaan ini,” tutup Sahdiamin sambil berdoa. (Arifian Fajar Putera/ Juli Haryadi/ ID Humanity Dompet Dhuafa)

ID HUMANITY

Recent Posts

Relawan ID Humanity Dompet Dhuafa Berbagi Kebaikan di Kampung Mualaf

Sulawesi Tengah—Bulan Ramadan biasa menjadi momen pas untuk belajar lebih dalam tentang Islam. Kegiatan pesantren…

3 days ago

Sekotak Kebahagiaan Kado Yatim di Bulan Ramadan yang Penuh Kemuliaan

Bekasi—Saat memasuki bulan Ramadan biasanya hadir kehangatan dalam kebersamaan dengan keluarga. Namun, tampaknya hangatnya kebersamaan…

3 days ago

RS UI dan LPM Dompet Dhuafa Hadirkan Keceriaan Ramadhan untuk Pejuang Sehat Talasemia

RS UI dan LPM Dompet Dhuafa Hadirkan Keceriaan Ramadhan untuk Pejuang Sehat Talasemia. Depok—Kemuliaan bulan…

5 days ago

Ramadhan Inklusif: LPM Dompet Dhuafa Buka Ruang bagi Disabilitas Mental untuk Bersinar

Ramadhan Inklusif bersama LPM Dompet Dhuafa. Bogor--Pada Kamis (12/03), ID Humanity Dompet Dhuafa melalui Lembaga…

5 days ago

DMC Dompet Dhuafa Salurkan 600 Paket Fidyah untuk Penyintas Banjir Aceh Tamiang

Aceh Tamiang—Disaster Management Center (DMC) Dompet Dhuafa menyalurkan fidyah untuk penyintas banjir di Kabupaten Aceh…

1 week ago

Grebek Kampung Dompet Dhuafa: Bawa Berkah Ramadan ke Sudut Padat Jakarta

oplus_2 Jakarta—Dompet Dhuafa hadirkan Grebek Kampung di Kelurahan Angke, Kecamatan Tambora, Kota Jakarta Barat pada…

1 week ago