
Jakarta–Bagi sebagian besar masyarakat Indonesia, pemulasaraan jenazah masih dianggap menyeramkan. Anggapan ini pun masih terus berkembang hingga ke generasi muda zaman sekarang.
Sebagaimana yang diungkapkan siswa-siswi MTsN 24 Jakarta Timur saat mengikuti pelatihan pemulasaraan jenazah. Mereka mengungkapkan hal yang sama secara serentak, yakni: “takut dan menyeramkan”, saat pemateri memulai pelatihan dengan melontarkan pertanyaan tentang kesan mereka ketika mendengar istilah pemulasaraan jenazah.
Pelatihan tersebut diselenggarakan oleh ID Humanity Dompet Dhuafa melalui Lembaga Pelayan Masyarakat (LPM) pada Kamis (20/08/26) di Mushola MTsN 24 Jakarta Timur. Pelatihan ini diikuti secara antusias oleh seluruh siswa-siswi kelas sembilan yang akan melaksanakan praktik pemulasaraan jenazah di ujian akhir sekolah mereka.

PIC Pelatihan, Ustadz Sigit Anggara menyatakan, dalam pelatihan ini peserta juga diajak untuk mengubah mindset tentang anggapan menyeramkan dalam pemulasaraan jenazah sejak dini.
“Masih jarang orang yang bisa melakukan pemulasaraan jenazah karena mindset di masyarakat sekarang, pemulasaraan jenazah itu masih menyeramkan. Tidak terkecuali juga bagi peserta yang masih anak sekolah. Sehingga pelatihan ini tidak hanya mengajak mereka mempraktikkan pemulasaraan jenazah, tetapi juga untuk mengubah mindset seram itu, ujarnya.

Ia juga menegaskan bahwa syariat dan tradisi dalam pemulasaraan jenazah penting untuk dipahami. Sebab, seringkali perbedaan tradisi tersebut membuat seseorang takut untuk menjadi amil pemulasaraan jenazah.
“Peserta ini mungkin di lingkungan rumahnya juga pernah melihat bagaimana amil yang melakukan pemulasaraan jenazahnya berbeda dengan yang kami praktikkan karena ada perbedaan tradisi. Ini pun bisa membingungkan mereka. Jadi kami di sini memberikan pemahaman agar peserta tahu yang mana syariat, yang mana tradisi,” jelas Ustadz Sigit.
Pelatihan berlangsung dengan pemaparan materi dan simulasi pemulasaraan jenazah. Saat simulasi, empat orang peserta dilibatkan untuk mempraktikkan secara langsung cara memandikan hingga mengafani jenazah.

Kepala Sekolah MTsN 24 Jakarta, Guntoro, menyatakan sangat berterima kasih atas pelatihan yang diberikan Tim LPM Dompet Dhuafa untuk para siswa-siswi di sekolahnya.
“Pemulasaraan jenazah ini memang termasuk salah satu materi di kelas sembilan. Dan dengan adanya pelatihan ini sangat memudahkan anak didik kami untuk bisa memahami pembelajaran secara langsung dari ahlinya sehingga kami sangat berterima kasih atas dukungan LPM Dompet Dhuafa dalam memberikan materi di pelatihan ini,” ungkapnya.

Ia juga berharap usai pelatihan ini, para siswa-siswinya dapat lebih termotivasi untuk bisa mengimplementasikannya dengan menjadi amil pemulasaraan jenazah di keluarga maupun di masyarakat di lingkungan mereka.
“Harapannya setelah mengikuti pelatihan ini para siswa-siswi kami bisa menerapkan ilmunya di keluarga maupun masyarakat. Karena menurut saya siswa-siswi madrasah ini harus siap melaksanakan atau menyalurkan ilmunya apalagi terkait pemulasaraan jenazah,” imbuhnya.
Sementara itu, salah satu peserta pelatihan, Rizqina Alifatur Rasyida, menyatakan pemaparan materi dan simulasi membantu ia lebih memahami tahapan pemulasaraan jenazah.
“Pelatihan ini membuat aku jadi lebih paham urutan dalam pemulasaraan jenazah yang digambarkan dengan jelas dari memandikan sampai mengafani jenazah. Terus aku juga jadi paham kalau ini hukumnya fardhu kifayah dan penggunaan kain kafan itu ternyata kalau untuk jenazah laki-laki tiga lapis, kalau perempuan lima lapis agar auratnya tertutup,” ujarnya.
Pelatihan ini menjadi salah satu komitmen LPM Dompet Dhuafa untuk meningkatkan kapasitas masyarakat dalam pemulasaraan jenazah, mengingat masih sedikitnya jumlah amil pemulasaraan jenazah. Melayani Lebih Baik, Untuk Menumbuhkan Kebaikan. (Shinta FN/ID Humanity Dompet Dhuafa)
