
Setiap kali pemulihan dikatakan, ada sisi yang belum terungkap yang kerap kali menciptakan jarak: kondisi realitas di lapangan.
Angka-angka pemulihan memenuhi layar kaca. Ironisnya angka-angka warga terdampak juga tidak kalah besar. Keduanya seperti sedang berlomba untuk menunjukkan jumlahnya yang terbanyak.
Saat ini Indonesia sedang berduka dan darurat kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Dalam sebuah forum koordinasi penanganan karhutla, tingkat keberhasilan pemulihan disampaikan dengan nada optimis: tingkat keberhasilan mencapai 80 persen. Capaian itu patut diapresiasi, tetapi ukurannya adalah kerja petugas, bukan kondisi warga.
Cerita Warga

Rendi salah seorang warga Pekanbaru penderita asma harus dilarikan ke Instalasi Gawat Darurat (IGD) karena inhaler yang biasa dipakai sudah tidak ampuh lagi.
“Bagi yang punya riwayat sakit asma, kabut asap ini sangat menyakitkan. Kalau mata perih, tenggorokan sakit, batuk-batuk mungkin masih bisa ditahankan minum obat apotek. Tapi, kalau sudah pernapasan yang terganggu, segala aktivitas pun tak bisa dilakukan,” kata Rendi sebagaimana yang diberitakan oleh Kompas pada Kamis (15/10/2026).
“Dihirup sakit, tidak dihirup bisa meninggal,” ujarnya menggambarkan penderitaan yang ia alami akibat pekatnya kabut asap.
Lisna merupakan guru honorer di SDN Tanjung Pagar 3 Banjarmasin. Perempuan 29 tahun itu meninggal dunia setelah mengalami sesak napas pada malam di akhir September 2026.
Lisna diketahui memiliki riwayat penyakit asma. Menurut ibunya, Marhamah, dalam beberapa waktu terakhir penyakit Lisna semakin sering kambuh, bertepatan dengan kondisi kabut asap yang menyelimuti Banjarmasin.
“Mulai depan rumah ini sampai ke sekolah, asap saja yang dilewati,” kata Marhamah sebagaimana diberitakan oleh Tribun Banjarmasin pada Selasa (06/10/2026).
Yonas, salah seorang warga Distrik Ilwayab, Papua Selatan juga mengeluhkan hal serupa. Kabut asap dari karhutla telah berminggu-minggu mengganggu kesehatan warga, jadwal penerbangan, dan berbagai aktivitas.
“Asap masih tebal, mulai banyak yang batuk di sini karena polusi. Sudah susah juga mendapatkan air. Tahun-tahun lalu itu pernah juga tapi tidak terlalu. Ini sampai masyarakat setengah mati,” kata Yonas, warga distrik Ilwayab, Merauke, Papua Selatan, sebagaimana diwartakan oleh BBC pada Rabu (14/10/2026).
“Tinggal tunggu mukjizat Tuhan saja untuk hujan ini bisa turun. Terakhir perlindungan kan biasa di hutan, alam, tanah-tanah yang ada ini,” lanjut Yonas.
Sistem Pemantauan Karhutla SiPongi+ milik Kementerian Kehutanan dan Manggala Agni mencatat titik api dalam jumlah besar pada 15 Oktober 2026. Satelit NASA-NOAA20 mendeteksi 7.715 titik, NASA-SNPP 6.930 titik, dan NASA-Terra/Aqua 1.612 titik.
Sebagian besar berada pada tingkat kepercayaan sedang: 7.206 titik pada NOAA20, 6.345 pada SNPP, dan 994 pada Terra/Aqua.
Titik berkepercayaan tinggi jauh lebih sedikit, yakni 281, 250, dan 500 titik.
Angka-angka itu tidak bisa dijumlahkan menjadi satu total, sebab satu kebakaran bisa terdeteksi lebih dari satu satelit, dan jumlah titik bukan jumlah kebakaran maupun luas lahan terbakar.
Meski begitu, peta SiPongi+ memperlihatkan panas terdeteksi tersebar dari bagian selatan Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Jawa, Nusa Tenggara, hingga Papua Selatan.
Namun satelit hanya menghitung panas. Yang menghitung dampaknya pada tubuh warga adalah Kementerian Kesehatan.
Tubuh yang Terdampak

Dilansir Kompas, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mencatat sebanyak 277.075 kasus ISPA akibat karhutla di 63 kabupaten/kota pada tujuh provinsi terdampak.
“Data Kemenkes per 12 Oktober 2026 mencatat 277.075 kasus ISPA secara kumulatif di 63 kabupaten atau kota pada tujuh provinsi terdampak, termasuk 62.400 kasus atau 22,5 persen pada anak usia 0–5 tahun,” ujar Kepala Biro Komunikasi dan Informasi Publik Aji Muhawarman, dikutip dari Kompas.com, Kamis (15/10/2026).
Sebagai gambaran, 62.400 kasus pada anak usia 0–5 tahun setara delapan dari setiap sepuluh kursi Stadion Utama Gelora Bung Karno, yang berkapasitas 78.000 tempat duduk.
Gambaran lainnya, Sirkuit Mandalika sendiri mampu menampung 150.000 orang. Kurang lebih dibutuhkan dua Sirkuit Mandalika untuk menampung seluruh korban kasus ISPA di atas.
Angka ini adalah kasus kumulatif, bukan jumlah jiwa, sebab satu jiwa bisa tercatat lebih dari sekali.
Angka-angka itu menunjukkan beban yang sudah ditanggung tubuh warga, sementara laporan keberhasilan hanya mengukur kerja petugas.
Maka pertanyaannya bukan lagi seberapa banyak yang sudah dikerjakan, melainkan apa yang seharusnya diukur.
Persentase keberhasilan hanya menjawab apa yang dikerjakan petugas.
Ukuran yang lebih jujur menjawab apa yang dirasakan warga: apakah anak-anak yang sesak sudah sembuh, apakah warga bisa bekerja dan bersekolah tanpa asap, dan apakah lahan yang terbakar tidak akan terbakar lagi musim depan.
Selama ukuran-ukuran itu belum dilaporkan, pemulihan belum bisa dinyatakan selesai. Warga belum pulih.
Pemulihan yang sesungguhnya diukur dari napas anak-anak yang kembali lega dan air bersih yang kembali mudah didapat. Dukung warga terdampak karhutla, kabut asap dan kemarau bersama kami .
Teks: Arifian Fajar Putera
Foto: Ronggo Wirasanu
