amp-web-push-widget button.amp-subscribe { display: inline-flex; align-items: center; border-radius: 5px; border: 0; box-sizing: border-box; margin: 0; padding: 10px 15px; cursor: pointer; outline: none; font-size: 15px; font-weight: 500; background: #4A90E2; margin-top: 7px; color: white; box-shadow: 0 1px 1px 0 rgba(0, 0, 0, 0.5); -webkit-tap-highlight-color: rgba(0, 0, 0, 0); } .amp-logo amp-img{width:190px} .amp-menu input{display:none;}.amp-menu li.menu-item-has-children ul{display:none;}.amp-menu li{position:relative;display:block;}.amp-menu > li a{display:block;} /* Inline styles */ div.acss138d7{clear:both;}div.acss5dc76{--relposth-columns:3;--relposth-columns_m:2;--relposth-columns_t:3;}div.acssae964{aspect-ratio:1/1;background:transparent no-repeat scroll 0% 0%;height:150px;max-width:150px;}div.acss6bdea{color:#333333;font-family:Arial;font-size:12px;height:75px;} .icon-widgets:before {content: "\e1bd";}.icon-search:before {content: "\e8b6";}.icon-shopping-cart:after {content: "\e8cc";}
JAKARTA–Senyum ramah Bambang Setiawan (60) di bilik toko kacanya kini tinggal kenangan.
Di tengah hiruk-piruk ricuhnya aksi demonstrasi di kawasan Pejompongan, Kelurahan Bendungan Hilir, Jakarta Pusat, pada Kamis (27/8/2026), napas terakhir tukang kaca yang bersahaja ini mengembus liris.
Ia gugur bukan karena bertempur, melainkan di sela-sela langkah ketulusannya membantu sesama dan menjaga toko kecil tempatnya mengais rezeki.
Sore itu, usai memeras keringat berjualan sejak pagi, Pak Bambang masih sempat mengulurkan tangan mengantar seorang tetangganya yang sakit ke RS Pelni. Sepulang dari rumah sakit, ia berencana kembali mendampingi sang tetangga.
Namun, mata senjanya mendapati lampu toko kacanya masih menyala.
Demi menghemat energi, ia meminta kunci kepada sang istri untuk mematikannya sejenak.
Saat melangkah ke toko itulah, gelombang kericuhan demonstrasi mendadak pecah di Pejompongan.
Pak Bambang terperangkap di tengah situasi yang tak terkendali hingga mengalami luka berat yang merenggut nyawanya.
Putra almarhum, Wisnu (35), berkejaran dengan waktu menyisir sejumlah rumah sakit demi mencari keberadaan sang ayah.
Pencarian itu berakhir pilu saat pihak RS Polri mengonfirmasi bahwa kepulangan Pak Bambang telah dijemput takdir.
Duka mendalam menyelimuti keluarga, namun keteladanan Pak Bambang tak pernah pudar. Wisnu mengenang betapa sang ayah adalah sosok tangguh yang rela menahan lapar.
Bahkan pernah selama tiga bulan dagangannya tak laku dan hanya mengganjal perut dengan minuman jeli, demi memastikan keluarganya tetap makan.
“Bapak selalu menyuruh anak-anaknya untuk selalu berbuat baik kepada siapa pun, karena kita tidak pernah tahu kebaikan mana yang akan berbalik kepada kita,” tutur Wisnu anak almarhum dengan suara bergetar menahan haru kepada Tim Program Layanan Mustahik (Lamusta) Lembaga Pelayan Masyarakat (LPM) Dompet Dhuafa yang menyambangi kediamannya.
LPM Dompet Dhuafa memberikan bantuan kepada keluarga mendiang almarhum, dengan dada sesak—di usia Pertiwi yang menapak 81 tahun merdeka, tanah ini kembali menelan korban jiwa dari jelata yang sekadar ingin menjaga nyala kehidupan.(Fakhri/ ID Humanity Dompet Dhuafa)
Nur Hayati memasak di dapur umum Dompet Dhuafa (Foto: Juli Haryadi) Flores, NTT—Gempa Flores bukanlah…
Kalimantan Barat—Di media sosial, sebuah video, terkait dampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan,…
Depok–Mendampingi tumbuh kembang anak istimewa menjadi tantangan tersendiri bagi para orang tua maupun guru di…
Nagekeo, NTT—“Kami sehari-hari di sini, lebih banyak dalam situasi waspada siaga begitu. Cuman kadang-kadang kalau…
Nagekeo, NTT—“Penyakitnya sudah dari 2021, pertama kesulitan buang air kecil sampai dirujuk ke Maumere, di…
Nagekeo, NTT--"Pusing. Goyang. Lutut sakit," ucap Oma Hamsiah Pedhe salah seorang penyintas asal Desa Tonggu…