amp-web-push-widget button.amp-subscribe { display: inline-flex; align-items: center; border-radius: 5px; border: 0; box-sizing: border-box; margin: 0; padding: 10px 15px; cursor: pointer; outline: none; font-size: 15px; font-weight: 500; background: #4A90E2; margin-top: 7px; color: white; box-shadow: 0 1px 1px 0 rgba(0, 0, 0, 0.5); -webkit-tap-highlight-color: rgba(0, 0, 0, 0); } .amp-logo amp-img{width:190px} .amp-menu input{display:none;}.amp-menu li.menu-item-has-children ul{display:none;}.amp-menu li{position:relative;display:block;}.amp-menu > li a{display:block;} /* Inline styles */ div.acss138d7{clear:both;}div.acss5dc76{--relposth-columns:3;--relposth-columns_m:2;--relposth-columns_t:3;}div.acssae964{aspect-ratio:1/1;background:transparent no-repeat scroll 0% 0%;height:150px;max-width:150px;}div.acss6bdea{color:#333333;font-family:Arial;font-size:12px;height:75px;} .icon-widgets:before {content: "\e1bd";}.icon-search:before {content: "\e8b6";}.icon-shopping-cart:after {content: "\e8cc";}
Nagakeo, NTT — “Kadang suka gatal selama di pengungsian,” ujar Mamah Emilia salah seorang penyintas asal Desa Tonggu Rambang, Kecamatan Aesesa, Kabupaten Nagekeo.
Mamah Emilia seorang ibu yang menderita luka di bagian jempol kakinya. Dia bercerita memang luka itu sudah lama, sebelum gempa terjadi.
Selama ini penanganannya berupa konsumsi obat-obatan untuk mengurangi rasa sakitnya. Namun setelah tinggal di pengungsian, luka tersebut suka merasa gatal.
Alhamdulillahnya, rasa sakit ini tidak terlalu mengganggu aktivitas sehari-harinya sebagai petani garam.
Seusai konsul dengan tim medis Dompet Dhuafa, beliau mendapatkan penanganan untuk mengobati luka di jempol kakinya.
“Sekarang sudah lebih enakan, tidak sakit lagi. Ini lagi menunggu obat dan kasa (perban) dari dokter,”ucapnya.
Pada Jumat (28/08/2026) tim Layanan Kesehatan Cuma-Cuma (LKC) Dompet Dhuafa membuka layanan medis di Desa Tonggu Rambang karena banyaknya kelompok rentan yang mendiami pengungsian mandiri di sana.
Sebagian besar penyintas menderita ISPA karena faktor cuaca dan adaptasi pola hidup yang mengharuskan mereka tinggal di tenda.
Hal ini merupakan pilar program Sarana untuk Pelayanan Kelompok Rentan (SUPER) Dompet Dhuafa dalam aksi pemulihan penyintas gempa di NTT.
Melalui layanan medis, Mamah Emilia mendapatkan pengobatan untuk jempol kakinya yang sakit.
Layanan medis Dompet Dhuafa masih terus membuka layanan keliling ke titik-titik pengungsian gempa NTT.
Hingga kini Disaster Management Center (DMC) masih terus membersamai untuk percepatan pemulihan penyintas gempa di NTT.
Semoga masyarakat atau penyintas terdampak gempa bisa segera pulih dan mampu menata kembali masa depannya. (Arifian Fajar Putera/ ID Humanity Dompet Dhuafa)
Ogan Ilir, Sumatra Selatan–Sukri menerangkan bahwa api muncul di ladang padi di Desa Ulak Sugeleng,…
Palangka Raya, Kalimantan Tengah — Ketika kabut asap menyelimuti Palangka Raya, ancaman kebakaran hutan dan…
Jakarta—“Gue punya dosa bikin sampah, lalu apa yang bisa gue lakuin?” aku MG Pringgotono pada…
Jakarta–Di balik gedung-gedung yang menjulang tinggi, terdengar langkah tangguh para pejuang rupiah yang berpacu dengan…
Setiap kali pemulihan dikatakan, ada sisi yang belum terungkap yang kerap kali menciptakan jarak: kondisi…
Serang, Banten—Disaster Management Center (DMC) Dompet Dhuafa menggelar sosialisasi dan edukasi Sekolah Siaga Bencana di…