amp-web-push-widget button.amp-subscribe { display: inline-flex; align-items: center; border-radius: 5px; border: 0; box-sizing: border-box; margin: 0; padding: 10px 15px; cursor: pointer; outline: none; font-size: 15px; font-weight: 500; background: #4A90E2; margin-top: 7px; color: white; box-shadow: 0 1px 1px 0 rgba(0, 0, 0, 0.5); -webkit-tap-highlight-color: rgba(0, 0, 0, 0); } .amp-logo amp-img{width:190px} .amp-menu input{display:none;}.amp-menu li.menu-item-has-children ul{display:none;}.amp-menu li{position:relative;display:block;}.amp-menu > li a{display:block;} /* Inline styles */ div.acss138d7{clear:both;}div.acss5dc76{--relposth-columns:3;--relposth-columns_m:2;--relposth-columns_t:3;}div.acssae964{aspect-ratio:1/1;background:transparent no-repeat scroll 0% 0%;height:150px;max-width:150px;}div.acss6bdea{color:#333333;font-family:Arial;font-size:12px;height:75px;} .icon-widgets:before {content: "\e1bd";}.icon-search:before {content: "\e8b6";}.icon-shopping-cart:after {content: "\e8cc";}
Aku masih ingat betul hari itu, 10 Desember, saat aku akhirnya turun langsung ke lokasi respons bencana di Sumatera Utara bersama tim DMC Dompet Dhuafa.
Ketika mendapat kabar tentang respons ini, rasanya tak banyak pertimbangan. Aku sebisa mungkin ikut.
Bukan hanya karena profesiku, tapi karena panggilan yang sudah lama tumbuh sejak aku mengenal dunia kemanusiaan.
Hari pertama menyentuh lokasi bencana menjadi momen yang tak akan mudah kulupakan. Saat bersama tim DMC, aku melihat langsung kondisi jalan yang hancur.
Jalan itu bukan jalan asing bagiku, itulah jalan yang biasa kulewati jika pulang. Biasanya lancar, biasa kulihat pemandangan yang menenangkan.
Namun hari itu, semuanya berubah. Jalan yang dulu kukenal kini porak-poranda. Aku benar-benar terkejut ketika alam menunjukkan kuasanya.
Tantangan pertama langsung terasa: keterbatasan. Listrik tidak stabil dan air bersih sulit. Banyak pasien datang dengan keluhan gatal-gatal di kaki, akibat air kotor yang terus merendam tubuh mereka.
Ironisnya, banyak dari mereka tidak lagi memiliki sandal, semuanya hanyut dibawa banjir. Di situ aku merasa pengobatan saja tidak cukup. Setelah luka diobati, seharusnya mereka menjaga kebersihan, memakai alas kaki. Tapi bagaimana mungkin, jika air bersih sulit dan sandal pun tak ada?
Penyakit yang paling sering kutemui adalah batuk, pilek, dan ISPA. Di pengungsian yang padat, satu orang sakit bisa dengan cepat menular ke yang lain.
Ditambah cuaca Desember yang basah dan dingin, serta asupan makanan yang belum sepenuhnya baik, tubuh mereka semakin rentan.
Namun dari semua perjalanan, ada satu momen yang paling membekas di hatiku: Desa Sibio-bio, Kecamatan Sibabangun, Kabupaten Tapanuli Tengah. Untuk sampai ke sana, kami harus melewati dua sungai.
Sungai pertama kami lewati menggunakan kendaraan taktis 4×4 dan sungai kedua melewati jembatan darurat yang terbuat dari batang pohon seadanya.
Setelah itu, perjalanan belum selesai. Kami masih harus menanjak, menyusuri jalur yang naik-turun, licin, dan melelahkan. Cuaca pun tidak bersahabat.
Saat itu, sempat terlintas kemungkinan kami tidak bisa pulang. Tapi kami tetap berusaha. Dan justru perjalanan pulanglah yang paling ekstrem: menyebrangi sungai dengan bantuan tali. Tak ada yang benar-benar mudah, tapi semangat kami tetap dijaga.
Sebagai dokter, pengalaman ini benar-benar membuka mataku. Biasanya aku bertugas di puskesmas atau rumah sakit, tempat semua fasilitas tersedia. Aku tinggal menjalankan prosedur.
Di sini, segalanya berbeda. Serba terbatas. Aku harus berpikir lebih jauh, menyesuaikan tindakan medis dengan kondisi lapangan. Ini bukan hanya soal mengobati, tapi soal bertahan dan beradaptasi. Bagiku, ini pembelajaran yang sangat besar.
Di sinilah aku benar-benar merasakan arti menjadi dokter. Sumpah dokter yang selama ini terucap dalam seremoni, kini berdiri nyata di hadapanku.
Di tempat seperti inilah peran kami paling dibutuhkan. Aku bertahan karena satu alasan sederhana: kalau bukan kami, siapa lagi? Kesehatan adalah yang paling dasar. Bagaimana seseorang bisa makan jika tubuhnya sakit? Bagaimana bantuan logistik bisa berarti jika penyakit dibiarkan? Tanpa penanganan, angka kesakitan bahkan kematian bisa meningkat.
Namun aku sadar, yang dibutuhkan para penyintas bukan hanya obat. Mental mereka juga perlu dibangkitkan.
Luka fisik mungkin bisa sembuh, tapi kehilangan rumah, kehilangan keluarga, dan rasa takut setiap hujan datang, meninggalkan bekas yang lebih dalam.
Harapanku sederhana. Di tengah semua keterbatasan ini, meski rumah mungkin sudah tiada, meski ada orang-orang tercinta yang telah pergi lebih dulu, aku berharap mereka tetap memiliki asa yang kuat ke depannya. Tetap bersabar dan bersyukur di tengah keterbatasan. Tetap kuat dan jangan merasa sendiri. Kami juga ada di sini.
Sumatera Utara, 14 Desember 2025
dr. Afifah Nur Dalimunthe
Relawan Dokter LKC Dompet Dhuafa
Banda Aceh, Aceh--Dompet Dhuafa melapor langsung kepada Gubernur Provinsi Aceh, Muzakir Manaf (Mualem) terkait kinerja…
Pidie Jaya, Aceh—Dompet Dhuafa lakukan percepatan pembangunan Rumah Sementara (Rumtara) di Aceh untuk para penyintas…
Pidie Jaya, Aceh—Dompet Dhuafa renovasi fasilitas Pondok Bersalin Desa (Polindes) di Desa Meunasah Mancang, Kecamatan…
Banda Aceh, Aceh--Dompet Dhuafa gelar rapat koordinasi tim pemulihan bencana Aceh di Banda Aceh pada…
Banda Aceh, Aceh--Dompet Dhuafa silaturrahim Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Aceh, Kota Banda Aceh pada…
Pidie Jaya, Aceh -- "Setiap tahun selalu banjir, tetapi ini yang tertinggi. Semua barang-barang kami…