amp-web-push-widget button.amp-subscribe { display: inline-flex; align-items: center; border-radius: 5px; border: 0; box-sizing: border-box; margin: 0; padding: 10px 15px; cursor: pointer; outline: none; font-size: 15px; font-weight: 500; background: #4A90E2; margin-top: 7px; color: white; box-shadow: 0 1px 1px 0 rgba(0, 0, 0, 0.5); -webkit-tap-highlight-color: rgba(0, 0, 0, 0); } .amp-logo amp-img{width:190px} .amp-menu input{display:none;}.amp-menu li.menu-item-has-children ul{display:none;}.amp-menu li{position:relative;display:block;}.amp-menu > li a{display:block;} /* Inline styles */ div.acss138d7{clear:both;}div.acss5dc76{--relposth-columns:3;--relposth-columns_m:2;--relposth-columns_t:3;}div.acssae964{aspect-ratio:1/1;background:transparent no-repeat scroll 0% 0%;height:150px;max-width:150px;}div.acss6bdea{color:#333333;font-family:Arial;font-size:12px;height:75px;} .icon-widgets:before {content: "\e1bd";}.icon-search:before {content: "\e8b6";}.icon-shopping-cart:after {content: "\e8cc";}
Katingan, Kalimatan Tengah–“Saya tertarik untuk membantu orang lain,” ungkap Fikri (23).
Fikri salah seorang peserta Pelatihan Mitigasi Bencana Berbasis Masyarakat dan Komunitas di Kalimantan Tengah dari Disaster Management Center (DMC) dan Dompet Dhuafa Kalimantan Tengah, mendapatkan pelajaran yang berharga.
Sebagai pegawai swasta, dia melihat pelatihan ini sangat edukatif karena melatih kemampuan adaptif untuk sigap hadapi bencana.
“Selama dua hari saya pelajari apa itu bencana, kemudian bagaimana menghitung risiko, apakah risiko itu berbahaya atau tidak berbahaya,”lanjutnya.
Pelajaran yang paling menarik menurutnya ialah ketika kerentanan atau risiko itu bisa dikalkulasikan.
Hal ini menjadi landasan objektif untuk mengetahui kapasitas masyarakat-pihak berwajib di sekitarnya-dalam merumuskan perangkat dan pola mitigasi yang tepat.
“Kemudian cara pemetaan yang paling terdampak bencana. Bagaimana kami menanggulanginya atau jalur evakuasinya,” pungkasnya.
Selama hidupnya, dia termasuk penyintas bencana yang tidak terdampak langsung.
Salah satunya ialah ketika terjadi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang di mana asapnya bisa mencapai kediamannya di Palangkaraya.
Saat itu terjadi, langkah mitigasi yang bisa dilakukan adalah dengan rajin menggunakan masker dan menutup rapat rumah tempat tinggalnya agar asap tidak masuk ke dalam.
“Tindakan kami masih minim, salah satunya menyiram atap rumah dengan air. Lalu menggunakan masker dan menghalang jalur masuk asap atau material kebakaran yang terbang terbawa angin,” ingatnya.
Dia juga memiliki motivasi yang tinggi untuk menjadi relawan. Meski terhitung sebagai relawan yang baru, hal itu tidak membuat dia minder untuk terus belajar.
Seingat beliau, dia baru terlibat aktivitas relawan ini satu tahun terakhir. Sebelumnya dia sering bergerak di aktivitas unit kegiatan mahasiswa di tempat kampusnya.
“Dengan meringankan beban atau membantu orang lain, ada kesenangan tersendiri yang menjadikan motivasi saya untuk tertarik menjadi relawan,” ucapnya.
Sebelumnya ID Humanity Dompet Dhuafa melalui DMC melatih puluhan relawan untuk sigap hadapi bencana di Kalimantan.
DMC dan kantor cabang Dompet Dhuafa Kalimantan Tengah mengumpulkan relawan-relawan baru di Kelurahan Kasongan Lama, Kecamatan Katingan Hilir, Kabupaten Katingan, Kalimantan Tengah.
Pelatihan berlangsung selama dua hari mulai dari Sabtu (25/07) sampai Minggu (26/07).
DMC memberikan pembekalan tentang dasar – dasar ilmu manajemen bencana. Mulai dari perbedaan bencana dengan fenomena alam, menghitung kerentanan, dan pemetaan risiko.
Pelatihan dilanjut oleh kawan-kawan Palang Merah Indonesia (PMI) dan Pemadam Kebakaran (Damkar) Katingan.
PMI Katingan mengajarkan dasar-dasar pertolongan pertama dan praktik menggunakan bidai serta evakuasi pengangkutan korban.
Damkar Katingan mengajarkan pemadaman api skala ringan yang diakibatkan kebocoran gas ataupun kebakaran kecil.
Kalimantan sering kali menghadapi bencana hidrometeorologi seperti banjir besar dan kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Fenomena tersebut tidak hanya berdampak pada lingkungan, tetapi juga mengganggu kesehatan masyarakat, aktivitas ekonomi, dan kehidupan sosial secara luas.
Dalam beberapa tahun terakhir, sejumlah daerah di Kalimantan—seperti Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, dan Kalimantan Barat—mengalami banjir parah yang mengakibatkan kerusakan infrastruktur dan memaksa ribuan warga mengungsi.
Semoga pelatihan ini menyiapkan bekal dalam meningkatkan Fikri dan relawan lainnya dalam hadapi bencana. Berdaya Sekarang. (Arifian Fajar Putera/ ID Humanity Dompet Dhuafa).
Tentang Makna Kerelawanan Siti Sarah: Membantu adalah Panggilan. Katingan, Kalimantan Tengah--"Pertama kali menjadi relawan, saya…
Bangun Garda Terdepan: ID Humanity Gelar Pelatihan Relawan Penanggulangan Bencana Di Kalimantan Tengah. Katingan, Kalimantan…
Jakarta—“Semua keluarga yang berbahagia sama saja, tetapi setiap keluarga yang tidak bahagia, tidak bahagia dengan…
Jakarta–Sembari menundukkan wajah pada secarik kertas sticky note, anak-anak menuliskanharapan akan masa depannya yang cerah.…
Kawan disabilitas mental dalam kegiatan Festival Ramadan Gala Harapan Jiwa dari LPM Dompet Dhuafa pada…
Relawan DMC Dompet Dhuafa mengevakuasi anak saat banjir bandang melanda Nagari Sungai Batang, Sabtu (18/7/2026)…