amp-web-push-widget button.amp-subscribe { display: inline-flex; align-items: center; border-radius: 5px; border: 0; box-sizing: border-box; margin: 0; padding: 10px 15px; cursor: pointer; outline: none; font-size: 15px; font-weight: 500; background: #4A90E2; margin-top: 7px; color: white; box-shadow: 0 1px 1px 0 rgba(0, 0, 0, 0.5); -webkit-tap-highlight-color: rgba(0, 0, 0, 0); } .amp-logo amp-img{width:190px} .amp-menu input{display:none;}.amp-menu li.menu-item-has-children ul{display:none;}.amp-menu li{position:relative;display:block;}.amp-menu > li a{display:block;} /* Inline styles */ div.acss138d7{clear:both;}div.acss5dc76{--relposth-columns:3;--relposth-columns_m:2;--relposth-columns_t:3;}div.acssae964{aspect-ratio:1/1;background:transparent no-repeat scroll 0% 0%;height:150px;max-width:150px;}div.acss6bdea{color:#333333;font-family:Arial;font-size:12px;height:75px;} .icon-widgets:before {content: "\e1bd";}.icon-search:before {content: "\e8b6";}.icon-shopping-cart:after {content: "\e8cc";}
Hari Kesiapsiagaan Bencana atau HKB merupakan momentum untuk melatih diri untuk siaga hadapi bencana.
Pemerintah dan semua lini masyarakat memiliki tanggung jawab dalam mengenal risiko bencana serta minimalisir dampak kerusakan bencana.
Dengan tema besar “Siap untuk Selamat” yang diusung oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) membawa ciri khas semangat HKB setiap tahunnya.
Kemunculan Awal Hari Kesiapsiagaan Bencana
HKB mulai dikukuhkan pada 26 April 2017, satu dekade setelah disahkannya Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana pada tanggal 26 April 2007.
Pada tahun ini mengusung tema “Siap untuk Selamat: Membangun Kesadaran Kewaspadaan dan Kesiapsiagaan dalam menghadapi Bencana”.
Tema ini dipilih sebagai bentuk semangat awal dalam penanaman narasi adaptif dan preventif dalam hadapi bencana. Sekaligus juga untuk pengenalan pembiasaan diri terhadap aktivitas simulasi bencana.
Pada tahun selanjutnya yakni 2018, HKB mengusung tema “Siaga Bencana Dimulai dari Diri Kita, Keluarga dan Komunitas”.
Tahun ini mulai menitikberatkan komunitas atau keluarga sebagai unit paling awal dalam edukasi dan kesiapsiagaan bencana.
“Kesiapsiagaan individu dan keluarga menjadi begitu penting, mengingat faktor yang paling menentukan untuk keselamatan diri dari potensi bencana adalah penguasaan pengetahuan yang dimiliki oleh diri sendiri,” ujar Deputi Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BNPB Wisnu Widjaja dalam laman resmi Kementerian Sekretariat Negara Republik Indonesia (26/04/2018).
Kemudian di tahun 2019, HKB mulai memfokuskan Perempuan sebagai salah satu agen siap siaga bencana. Mengingat perempuan disinyalir lebih rentan terpapar bencana karena mengemban beban ganda di masyarakat.
Dengan demikian tema yang diangkat adalah “Perempuan Menjadi Guru Siaga Bencana dan Rumah Menjadi Sekolahnya”.
Direktur Pemberdayaan Masyarakat BNPB pada tahun tersebut, Lilik Kurniawan mengatakan mayoritas korban bencana adalah perempuan. Misalnya perempuan yang memiliki anak, sudah naluriah seorang ibu mengutamakan keselamatan anaknya hingga kesempatan untuk menyelamatkan diri sendiri terkesampingkan.
“Kemudian perempuan hamil, mereka butuh bantuan orang lain untuk menyelamatkan diri. Begitu orang lain tidak ada yang membantu maka mereka akan rentan jadi korban,” tutur Lilik sebagaimana diberitakan oleh Times Indonesia (08/02/2019).
Tantangan Hadapi Covid-19
Tahun 2020 menjadi momentum sekaligus tantangan besar dalam bidang kebencanaan. Di satu sisi, ini adalah momentum untuk menerapkan segala bentuk mitigasi dalam hadapi bencana Covid-19. Di sisi lain, ini adalah tantangan besar yang harus dilalui bersama di tengah angka korban yang terus meningkat.
Aksi kolektif untuk bahu membahu menolong sesama di kala pandemi menjadi tema sentral HKB 2020: “Penanggulangan Bencana Urusan Bersama”.
Sehingga masyarakat melakukan simulasi evakuasi bencana di rumahnya masing-masing sebagai bentuk pemutusan rantai penularan Covid-19.
Pada tahun kedua pandemi, masih mengupayakan kemandirian yang lebih terhadap kondisi bencana. Sehingga membawa tema “Latihan Membuat Kita Selamat dari Bencana”.
Pada tahun ini juga masyarakat didorong untuk lebih peka terhadap ancaman bencana sekitar selain bahaya pandemi. Tahun ini masyarakat didesak untuk mengemban beban ganda: survivor pandemi sekaligus survivor bencana lainnya seperti erupsi Gunung Semeru misalnya.
Pemulihan dan Konsolidasi Komunitas
Seusai pandemi berakhir, HKB kembali dengan narasi kesiapsiagaan yang menitikberatkan pada pemulihan dan konsolidasi komunitas, seusai penerapan protokol kesehatan yang ketat.
Tema HKB 2022 ialah “Keluarga Tangguh Bencana Pilar Bangsa Menghadapi Bencana”. Keluarga kembali menjadi titik sentral ketangguhan masyarakat hadapi bencana. Karena bertepatan dengan Indonesia jadi tuan rumah GPDRR ke-7 di Bali.
Kenyataan lain yang menjadi titik balik tahun ini adalah gempa bumi Cianjur. Gempa bumi yang meluluhlantakkan masyarakat Cianjur. Akhirnya mendorong narasi keluarga sebagai pilar kebangsaan hadapi bencana.
Tahun 2023, menjadi momen yang unik, karena mulai menyoroti isu pembangunan yang tidak memperhatikan risiko bencana. Akhirnya tema tahun ini ialah “Tingkatkan Ketangguhan Desa, Kurangi Risiko Bencana”.
Desa yang disinyalir seringnya terjadi bencana akibat kelalaian tangan-tangan pembangunan manusia. Menjadi fokus dalam melatih ketangguhan hadapi bencana.
“Manusia perlu belajar dari peringatan malaikat, karena banyak sekali kerusakan di muka bumi ini akibat tangan manusia, akibat ulah manusia, sering berkedok pembangunan, tetapi justru kerusakannya yang harus dibayar jangka panjang,” tutur Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Muhadjir Effendy dalam siaran pers di laman resmi Kemenkopmk (16/05/2023).
Tahun 2024, menjadi tahun dispruptif. Masyarakat memerlukan narasi pemersatu, sehingga tema HKB tahun ini adalah “Indonesia Tangguh, Indonesia Hebat”. Di sisi lain, Indonesia, lebih tepatnya bagian Nusa Tenggara Timur, telah terjadi musibah berupa erupsi Gunung Lewotobi Laki-Laki. Erupsi terjadi di awal tahun dan akhir tahun 2024.
Mitigasi yang Keberlanjutan
Di pemerintahan baru, Indonesia berusaha mempertajam cangkupan kesiapsiagaan hadapi bencana dengan kembali fokus pada edukasi sejak dini.
Tema tahun 2025, menyasar satuan pendidikan dari tingkat PAUD sampai tingkat SMA. Adapun temanya adalah “Bangun Kesiapsiagaan Sejak Dini”.
Aktivasi tema ini dengan mengoptimalkan program Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB). Artinya institusi pendidikan berkewajiban mengedukasi dan melatih pendidik maupun siswa-siswinya tentang kesiapsiagaan bencana.
Mulai dari menerapkan berbagai upaya pengurangan risiko bencana baik melalui pemantauan rutin lingkungan sekolah, deteksi dini ancaman bencana di sekitar, sosialisasi dan edukasi pengetahuan kebencanaan, upaya mitigasi, mengoptimalkan peran relawan, dan melalui pelatihan simulasi secara rutin kepada seluruh warga satuan pendidikan.
Di akhir tahun 2025, kawan-kawan Indonesia di bagian Sumatera sedang terkena musibah. Mulai dari Aceh, Sumatera Barat dan Sumatera Timur dilanda banjir bandang.
Berbagai pihak saling bergotong royong untuk memberikan pertolongan yang terbaik bagi pemulihan Sumatera. Pada akhirnya semangat ini menjadi tema besar HKB 2026 yakni “Bersatu dalam Siaga, Tangguh Menghadapi Bencana” yang akan diselenggarakan di Provinsi Aceh.
“Seperti kita tahu, UU No. 24 lahir di Aceh, bertepatan dengan tragedi tsunami 2024, dan tahun lalu terjadi bencana banjir dan longsor di sana. Jadi, acara ini mengingatkan lagi tentang risiko dan melakukan evakuasi di lingkup keluarga dan lingkungan,” ujar Plt Direktur Kesiapsiagaan BNPB, Pangarso Suryotomo dilansir dari Bloomberg Technoz (06/04/2026).
Pangarso mengutarakan acara tahunan ini diselenggarakan di Aceh bukan semata-mata acara seremoni, melainkan sebagai langkah untuk memperkuat pesan terkait risiko bencana, dan bagaimana melakukan evakuasi saat bencana.
“Kunci utamanya adalah latihan bersama. Bagaimana membuat keluarga kita tangguh. Jadi, setiap satu rumah punya satu rencana, yaitu rencana evakuasi dan penyelamatan diri di rumahnya,” lanjutnya.
Perjalanan tema HKB dari tahun ke tahun menunjukkan bahwa kesiapsiagaan bukan sekadar agenda tahunan, melainkan proses panjang membangun kesadaran kolektif. Dari individu, keluarga, hingga bangsa, semua bergerak menuju satu tujuan yang sama: selamat dari bencana.
Pada akhirnya, bencana mungkin tidak bisa dihindari, tetapi dampaknya bisa dikurangi—selama kita mau belajar, berlatih, dan bersiap sejak sekarang. (Arifian Fajar Putera/ DMC Dompet Dhuafa)
Komunitas punk hadir di acara Halalbihalal Cordofa di Pancasan, Kota Bogor, Jawa Barat, pada Jumat…
Dompet Dhuafa USA menyalurkan Eid Gift For Orphans di Jabodetabek. Bogor—Dalam sukacita hari kemenangan, ID…
Jakarta—ID Humanity Dompet Dhuafa kembali berkolaborasi dengan Chubb Life Indonesia menggelar berbagai kegiatan sosial di…
Sulawesi Tengah—Bulan Ramadan biasa menjadi momen pas untuk belajar lebih dalam tentang Islam. Kegiatan pesantren…
Bekasi—Saat memasuki bulan Ramadan biasanya hadir kehangatan dalam kebersamaan dengan keluarga. Namun, tampaknya hangatnya kebersamaan…
RS UI dan LPM Dompet Dhuafa Hadirkan Keceriaan Ramadhan untuk Pejuang Sehat Talasemia. Depok—Kemuliaan bulan…