amp-web-push-widget button.amp-subscribe { display: inline-flex; align-items: center; border-radius: 5px; border: 0; box-sizing: border-box; margin: 0; padding: 10px 15px; cursor: pointer; outline: none; font-size: 15px; font-weight: 500; background: #4A90E2; margin-top: 7px; color: white; box-shadow: 0 1px 1px 0 rgba(0, 0, 0, 0.5); -webkit-tap-highlight-color: rgba(0, 0, 0, 0); } .amp-logo amp-img{width:190px} .amp-menu input{display:none;}.amp-menu li.menu-item-has-children ul{display:none;}.amp-menu li{position:relative;display:block;}.amp-menu > li a{display:block;} /* Inline styles */ div.acss138d7{clear:both;}div.acss5dc76{--relposth-columns:3;--relposth-columns_m:2;--relposth-columns_t:3;}div.acssae964{aspect-ratio:1/1;background:transparent no-repeat scroll 0% 0%;height:150px;max-width:150px;}div.acss6bdea{color:#333333;font-family:Arial;font-size:12px;height:75px;} .icon-widgets:before {content: "\e1bd";}.icon-search:before {content: "\e8b6";}.icon-shopping-cart:after {content: "\e8cc";}
Padarincang—Sementara itu, Umi Eha juga menekankan, peran perempuan dalam perjuangan ini sangat penting. Sebab, dengan keseharian aktivitas perempuan Padarincang sebagai ibu rumah tangga membuat mereka paling merasakan dampak buruk akibat proyek tersebut.
“Justru karena perempuan yang paling banyak membutuhkan air dan memakai air itu perempuan. Karena perempuan kan di dapur itu butuh buat masak lah, nyuci. Jadi dari situ lah kita juga pengin sama-sama menjaga alam lingkungan kita di sini,” ujarnya.
Tutur kisah perjuangan umi tersebut menyerap segala keramaian ruangan dalam sekejap. Suasana ruangan lantas menjadi hening sepanjang umi bercerita. Para peserta yang memperhatikan pun tampak takjub dan terinspirasi akan keberanian pejuang perempuan Padarincang.
“Melihat perjuangan mereka membuat aku takjub, karena buat aku yang setiap hari pakai sosial media jarang melihat gerakan perempuan seberani ini. Dan ini aku melihat secara langsung keberanian mereka. Hal ini juga memotivasi aku sebagai anak muda untuk ikut bergerak menjaga alam kita, supaya kita tetap bisa menikmati ke depannya,” ujar Amah Laviona, peserta Belajar Lapang Keadilan Iklim asal Parung, Bogor.
Kemudian, Umi Eha pun mengajak para anak muda yang turut serta dalam belajar lapang tersebut untuk sama-sama tak gentar dan berani untuk ikut berjuang menjaga alam dan merawatnya.
“Anak muda enggak usah takut, selagi kita benar, insya Allah, Allah akan melindungi kita. Perjuangan itu menuntut keberanian dan keikhlasan, jadi kita pun harus Ikhlas dalam berjuang. Dan umi ucapkan terima kasih banyak kepada anak-anak muda yang mau belajar di sini, mudah-mudahan kalian akan ikut meneruskan perjuangan kami semua di hari besok,” pungkasnya. (Shinta FN/ ID Humanity Dompet Dhuafa)
Kalimantan Tengah–Disaster Management Center (DMC) Dompet Dhuafa merespons kebakaran hutan dan lahan di Kabupaten Kotawaringin…
Padang, Sumatera Barat—Disaster Management Center (DMC) Dompet Dhuafa dan Dompet Dhuafa Singgalang merespons banjir yang…
Hadirkan Manfaat Lebih Luas, Cordofa Luncurkan Program PEMULIA DD di Wilayah Kuningan. Kuningan, Jawa Barat–Bagi…
Bantul, Yogyakarta—Upaya mewujudkan lingkungan yang hijau sekaligus produktif terus dilakukan Disaster Management Center (DMC) Dompet…
Tangerang Selatan–ID Humanity Dompet Dhuafa menggelar pelatihan Psychological First Aid (PFA) di Khadijah Learning Center,…
Tentang Makna Kerelawanan Siti Sarah: Membantu adalah Panggilan. Katingan, Kalimantan Tengah--"Pertama kali menjadi relawan, saya…